
Suasana haru dan pedih sangat terasa. Rasa pilu dan rindu pun di telan sendiri oleh Yuda. Dia tetap memilih tabir kepalsuan ini untuk melindungi putranya.
"Baiklah jika itu sudah keputusan bulat mu. Aku berjanji akan menjaga dan menyayanginya seperti sebelum-sebelumnya. Jangan takut untuk terus menemuinya Yuda. Karena aku akan merasa bersalah jika kamu memilih menjauh dari aku dan Elio," pinta Ian.
"Ya. Aku akan tetap berkomunikasi seperti biasa," sahut Yuda.
"Juga ... berhenti mengusikku. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Luna. Saat itu tiba jangan menggoda Luna dan mendekatinya," perintah Ian tegas. Ini sebuah peringatan keras.
"Hei, kenapa kamu berpikir aku akan menggoda Luna?" tanya Yuda tidak setuju.
"Melihat kita berseteru karena mencintai satu wanita, tidak menutup kemungkinan kamu masih ingin mendekatinya karena sekarang hatimu sedang kacau. Apalagi aku tahu masa lalu kalian. Ingat itu," kata Ian memberi peringatan. Karena dia tidak ingin kecolongan.
Apa yang di bicarakan Ian adalah benar.
"Dasar." Yuda mendengus di ancam seperti itu. "Jadi kalian serius ingin menikah? Lalu bagaimana dengan Naura?"
"Dia bukan ancaman besar. Aku sudah membekukannya. Dia tidak akan berani mengusikku," sahut Ian. "Padahal ini ulah mu, tapi aku yang membereskannya. Kamu itu sungguh brengsek."
"Ya begitulah ...," sahut Yuda pasrah. Suasana hening sejenak. Mereka berpikir dalam benak masing-masing.
"Aku minta maaf karena ingin menghancurkan mu karena ketidaktahuanku. Aku sungguh bodoh," ungkap Yuda.
"Aku tahu. Aku juga minta maaf menyembunyikan semua ini darimu Yuda," kata Ian. Mereka saling memaafkan. Terasa lega kedua hati pria ini.
**
Luna sendiri gelisah menanti mereka berdua keluar dari ruang baca. Dia ingin tahu.
"Kapan-kapan Tante ikut ya, kalau aku jalan-jalan sama Om Yuda," kata Elio.
"Memangnya kamu mau jalan-jalan sama Om Yuda?" tanya Luna balik.
"Biasanya kalau hari libur, Om Yuda mengajak aku jalan-jalan. Karena Om Yuda habis dari luar kota, jadi sepertinya hari ini tidak akan mengajakku jalan-jalan. Pasti Om capek," kata Elio.
Luna menganggukkan kepala mendengarkan. Dia melihat Elio yang menggambar sembari berbaring tengkurap.
Bagaimana kalau dia tahu Yuda adalah papa kandungnya? Itu akan sulit baginya karena sudah lama ia hanya menganggap Yuda adalah teman Pak Ian.
__ADS_1
Tok! Tok! Pintu kamar di ketuk seseorang. Luna menoleh. Elio juga menghentikan kegiatannya dan ikut menoleh. Karena pintu terbuka, dia tahu siapa yang mengetuk pintu. Itu Yuda.
"Boleh om masuk ke dalam Elio?" tanya Yuda.
"Oh, Om Yuda. Boleh." Elio langsung bangun dari pose tengkurapnya. Di belakang Yuda muncul Ian. Luna yang tadinya melihat Yuda yang berjalan menghampiri Elio, kini menatap Ian.
Kepala pria ini mengangguk. Mungkin menandakan bahwa semua baik-baik saja.
Setelah sampai di depan bocah itu, tiba-tiba memeluk bocah ini dengan erat. Ada banyak makna dari semua gerakan Yuda. Mungkin ia melihat ada bayangan Mina di dalam diri bocah ini.
Elio bingung dengan tingkah Yuda, tapi bocah ini diam sambil menatap Luna dan papanya. Setelah agak lama memeluk Elio, melepaskan pelukannya.
"Bagaiman hari ini, Elio? Apa semua menyenangkan? Kamu juga baik-baik saja?" tanya Yuda.
Luna dan Ian tahu bagaimana perasaan Yuda sekarang ini.
"Hari ini sangat menyenangkan. Soalnya ada Tante Luna. Keadaan Elio juga baik Om." Elio berceloteh dengan riang. Bola mata Yuda berkaca-kaca mendengarnya. "Lho, Om Yuda kenapa kok mau nangis?" tanya Elio polos.
Tangan Luna menyentuh bibirnya. Menahan tangis yang juga ikut merebak karena melihat interaksi ini. Suasana haru menyelimuti kamar anak-anak yang bernuansa ceria.
"Soalnya Om sedang bahagia karena bertemu dengan Elio," kata Yuda sambil mengusap air matanya yang hendak meleleh.
"Syukurlah kalau kamu bahagia," ucap Yuda lega. "Jadi ... kamu bahagia kalau mama baru kamu adalah Tante Luna?" tanya Yuda membuat Elio menoleh pada Luna dan Ian dengan cepat.
"Benarkah? Benarkah Tante Luna mau jadi mama ku?" tanya Elio takjub. Luna mengerjapkan kebingungan menjawab.
"Ya. Papa ingin mengabulkan permintaan mu. Bukankah kamu sendiri yang ingin Tante Luna terus bersama papa?" Ian mendekat. Ini membuat malu Luna karena ada orang lain di sana.
"Benar. Itu benar. Asyiiik!!" Elio memeluk Yuda yang mensejajarkan tubuhnya tepat berada di depannya. Yuda tersenyum sambil menepuk punggung Elio.
"Om Yuda senang kalau Elio bahagia," kata Yuda.
**
Luna dan Ian membiarkan Yuda dan Elio bermain bersama, sementara mereka berdua duduk di teras belakang.
"Jadi pembicaraan Pak Ian dan Yuda berhasil damai ya ..."
__ADS_1
"Ya. Dia melepas Elio karena tidak ingin membuat anak itu bersedih walaupun berat," ujar Ian.
"Meskipun mereka akrab, mungkin keadaan menjadi lain kalau kita bilang papa Elio adalah Yuda. Itu akan membuat Elio kebingungan."
"Benar. Mungkin Yuda memikirkan itu. Kita berdua juga sudah saling memaafkan," ungkap Ian.
"Baguslah Pak, semuanya berakhir bahagia," kata Luna ikut lega dan senang.
"Sampai kapan kamu akan tetap memanggilku 'Pak', Luna?" tanya Ian dengan menatap Luna lurus-lurus.
"Hah?" Luna terkejut.
"Kamu ini sekarang kekasih ku. Kita juga sebentar lagi akan menikah. Apa tidak ada panggilan istimewa lainnya untukku?" tagih Ian.
Luna menggaruk tengkuknya. Kekasih. Dia memang sudah menjadi kekasih pria ini, juga bakal menjadi istrinya. Apakah harus ada panggilan khusus?
"Emm ..."
"Aku tidak mau bantahan. Panggil aku dengan sebutan lain yang romantis, Luna," kata Ian membuat Luna menipiskan bibir. Pria ini seperti bocah yang sedang merengek meminta permen.
"Apa? Bapak minta panggilan apa?" tanya Luna yang tidak punya ide untuk itu.
"Apapun. Aku mau panggilan sayang seperti pasangan lainnya," tegas Ian tidak memberi jalan keluar. Hanya bisa mendesak. Ini membuat Luna geregetan.
"Saya harus berpikir dulu." Luna sekarang menggaruk pelipisnya. Ia kebingungan untuk mencari nama panggilan sayang seperti ini. Dia tidak terbiasa. Ian tergelak pelan. Tidak menduga soal panggilan ini saja membuat Luna berpikir keras.
Tiba-tiba Ian memeluk Luna. Gadis ini kaget setengah mati. Mau berontak tidak jadi karena Ian sudah memperingatinya untuk diam. "Diam saja seperti ini. Tidak akan ada yang melihat kita."
Oke. Aku akan diam. Jadi peluk saja sesuka Bapak, batin Luna. Untung saja hanya di dalam hati, kalau tidak, Ian akan menggila mendengarnya.
"Aku tidak butuh panggilan lain. Cukup kamu di dekatku saja itu sudah sangat membahagiakan," kata Ian.
"Benarkah?" tanya Luna.
"Ya."
"Padahal aku ingin memanggil dengan sebutan lain." Luna membuang wajah ke arah lain karena malu.
__ADS_1
"Oh, ya. Apakah itu?" tanya Ian penasaran.
...____...