
Luna datang ke ruang makan yang di tunjuk Ian.
"Halo," sapa Luna. Orang yang ada di dapur tersenyum. Sungguh canggung suasananya. Ini pertama kalinya ia datang ke rumah seorang pria dan bisa berjalan dengan santai di dalamnya. Bukan hanya di ruang tamu, dia bahkan bisa berjalan santai di ruang makan.
Gila. Tidak bisa di bayangkan berada di rumah ini, batin Luna.
"Tuan masih belum turun. Jadi nona bisa duduk dulu." Bibi yang berumur sekitar 40-an itu berkata dengan ramah.
Nona? Wahh ... dekat dengan Pak Ian enggak main-main. Aku langsung dapat panggilan Nona dengan sebutan sangat terhormat.
"Iya." Luna duduk di kursi makan.
"Saya kupas buah pir untuk Nona ya? Sepertinya Tuan masih agak lama," kata bibi pengurus rumah dengan ramah.
"Jangan. Saya tidak biasa dikupaskan orang lain. Biar saya mengupas buah sendiri," tolak Luna. Ia beranjak dari kursi. Bermaksud mengambil buah pir itu sendiri. Namun dengan sigap, bibi itu mengupas buah. "Aduh, saya jadi merepotkan."
"Enggak kok, Non. Saya sudah biasa mengupas buah untuk non Naura," kata bibi itu bermaksud memberi tahu bahwa dia nyaman dengan apa yang di lakukannya sekarang. Namun sayangnya itu kurang pas di katakan sekarang. "Oh maaf." Bibi itu sadar bahwa ia sedang membicarakan mantan kekasih Pak Ian. Hingga membuat beliau jadi kebingungan sendiri.
"Enggak apa-apa kok, Bi. Saya sudah terbiasa. Bukan maksud membalas lho," kata Luna jenaka. Bibi itu tergelak. "Sudah. Sisanya saya kupas sendiri." Luna langsung menyetop gerakan bibi.
"Benar nih, Non enggak apa-apa?" tanya bibi khawatir.
"Iya, Bi. Ssst ... Saya ini kan bukan nona kaya yang enggak bisa kupas beginian," kata Luna.
"Nona bisa saja." Bibi tersenyum.
"Sepertinya ada yang seru," tegur Ian yang muncul di ruang makan.
"Oh, Tuan." Bibi langsung menunduk bersikap sopan. Luna menoleh dan membeku sejenak. Ini pertama kalinya ia melihat pria ini memakai kaos dan celana pendek bawah lutut.
Pak Ian sangat tampan. Pria itu mampu memukau Luna. Duda ini rupanya makin fresh dengan style kasualnya.
"S-saya sedang mengupas buah." Karena terpukau dengan tampilan segar Pak Ian, Luna sampai gugup. "Bibi menawarkan buah pir padaku," kata Luna menunjukkan buah pir di tangannya. Ian menangkap tangan Luna dan menyuapkan potongan apel yang sudah di kupas ke dalam mulutnya. Gadis ini melebarkan matanya takjub.
Apa? Apa itu? Romantisme pasangan? Glek! Godaan ini terlalu indah untukku.
Ia langsung menoleh pada Ian yang menarik kursi di dekatnya. Pria itu tetap tidak menoleh balik ke arahnya. Ian bersikap biasanya saja padahal dada Luna berdebar tidak karuan.
__ADS_1
"Ayo makan. Aku yakin kamu sudah lapar," ajak Pak Ian. Luna mengangguk-anggukkan kepala patuh sambil tetap terus melihat ke pria ini. "Kenapa?" tanya Ian yang sadar Luna seperti berada dalam dunia lain.
"T-tidak." Luna sadar bahwa ia terlalu kentara sedang merasakan takjub. Gadis ini pun menunduk.
Fix! Aku adalah orang paling bahagia sedunia!
**
"Tante Luna, ayo!" ajak Elio sembari melambaikan tangan. Saat Luna sudah selesai makan, bocah gondrong ini muncul di pintu ruang makan dan langsung menodong Luna untuk main.
"Ah, iya sebentar." Luna tidak menyangka bocah itu masih membuka mata. Kenapa belum tidur ..., batin Luna. Padahal ia pikir bocah ini sudah terlelap dalam mimpi. Jadi dia bisa terus berduaan dengan Pak Ian.
Bocah ini berjalan mendekat pada Luna yang belum beranjak dari duduknya.
"Kenapa belum tidur Elio?" tanya Ian.
"Aku kan menunggu Tante Luna selesai makan, Pa. Aku mau main sama Tante Luna dulu, lalu tidur," jawab Elio.
"Tapi kan anak kecil harusnya sudah tidur. Kasihan Tante Luna," kata Ian.
"Tidak apa-apa Pak," kata Luna dengan senyum agak memaksa. Namun Luna melirik Elio. Menandakan ia kurang setuju. Dia tidak ingin acara berdua dengan Pak Ian terhalangi.
"Hahaha ... Kamu bisa saja El ..." Luna tersenyum canggung seraya menyentuh lengan Elio dengan gemas.
Kenapa kamu terang-terangan seperti itu bocah, geram Luna di dalam hati. Lalu dia melirik Pak Ian. Ingin tahu respon pria itu. Ah, Pak Ian melihat ke sini?
Namun ternyata pria itu tersenyum merasa lucu.
Pak Ian tersenyum? Rupanya dia juga senang hanya berduaan denganku. Luna jadi berbangga hati juga.
"Ayo, Tante. Main dulu sama Elio," rengek Elio sambil menarik-narik tangan perempuan ini.
"Oke. Ayo, main. Pak Ian, aku menemani Elio main dulu ya," pamit Luna.
Ian mengangguk. "Ya."
Dia harus bisa segera main dan menidurkan bocah ini. Baru setelah itu ia bisa santai berduaan dengan Pak Ian.
__ADS_1
Mereka ternyata bermain di kamar bocah ini. Membentuk sesuatu dari Lego.
"Sebenarnya aku pengen main ke rumah Tante Luna," kata Elio duduk di dekat Luna.
"Enggak usah. Di rumahku enggak ada apa-apa. Mainnya di sini saja," jawab Luna asal sambil membuat rumah dari balok lego.
"Kalau gitu aku kesana saja sama Papa."
"Jangan."
"Kenapa?" tanya Elio dengan tingkah polosnya.
"Karena kalau ke rumah ku, kamu enggak bawa oleh-oleh, jadi aku menolak." Lagi-lagi Luna menjawab dengan asal.
"Bukannya papa sudah sering ngasih ke Tante."
"Ngasih apa? Sok tahu kamu," tuding Luna.
"Aku kan sudah bilang sama papa kalau mau Tante Luna jadi mamaku. Seharusnya papa bawa oleh-oleh terus kan?"
"Iya seharusnya begitu," ujar Luna malah setuju.
"Kalau papa belum ngasih apa-apa sebaiknya aku yang bilang pada papa nanti. Calon mamaku kan harus di perlakukan baik," kata Elio bertekad memperjuangkan hak Luna. Perlahan suara itu memelan. Mendengar ini Luna tertawa geli. Dia berhasil menghasut bocah tengil tapi kadang polos.
"Sip. Elio memang bocah yang pintar. Tos dulu," ujar Luna semangat. Elio mengulurkan tangan. "Lihatlah, rumah lego-nya hampir jadi."
"Iya benar."
"Kata siapa aku jadi calon mama kamu?" tanya Luna iseng. Karena sepertinya Pak Ian belum mengenalkan secara resmi.
"Aku sendiri."
"Kamu sendiri?"
"Iya. Aku kan minta sama Papa untuk menggantikan Tante Naura. Karena aku enggak suka sama dia."
"Begitu ya ... Bagus. Tos dulu." Luna berbalik menoleh ke Elio. Namun yang ia lihat bocah ini setengah jiwanya sudah lenyap karena mengantuk. Perlahan-lahan kepala Elio bersandar pada lengannya. "Dasar bocah. Baru saja bicara dengan semangat, sekarang sudah merem aja. Ck, ck, ck ..." Luna berdecak sambil menangkap kepala bocah ini.
__ADS_1
Bocah itu mengantuk rupanya.
...____...