
Luna hendak kembali ke tempat ia berada tadi, tapi mama sudah memanggilnya. "Oh, Luna." Mama melihat keberadaan Luna di sana.
Gawat, batin Luna. Terpaksa ia membalikkan badan memenuhi panggilan mertuanya.
"Ya, Ma." Luna tersenyum terpaksa seraya mendekati beliau. Ian menatap Luna yang tidak bisa lagi kabur. Dia pasti akan mendapat pertanyaan yang sama.
"Tolong tanyakan pada Ian, siapa sebenarnya Elio?" Mama tidak sanggup lagi bicara pada Ian karena putranya menolak memberi jawaban.
Luna diam. Ia menatap Ian. Pria itu tersenyum tipis karena semua rahasia itu terkuak sekarang. Mama terus saja mengejar jawaban siapa Elio sebenarnya. Itu berarti mama sudah pada tahap mengetahui separuh informasi kebenaran tentang bocah itu.
"Jangan hanya diam Luna. Ada fakta baru soal Elio. Dia ..." Kalimat mama tersendat. Beliau tidak sanggup meneruskan. "Sepertinya Elio itu ..." Mama menelan ludah.
"Ma, sudahlah," pinta Ian.
"Tidak. Luna juga harus tahu soal Elio," tegas Mama. "Baik. Mama akan melakukan tes DNA. Tanpa kamu beritahu, mama akan tahu pasti kalau Elio itu benar bukan anak mu," tuding mama.
Tanpa tes DNA saja, gabungan golongan darah Ian dan mama Elio dulu sudah menunjukkan bahwa tidak mungkin darah A dan O melahirkan anak dengan darah AB. Menurut rumus, itu mustahil.
Ian terdiam. Luna mengerti perasaan mama Ian sekarang.
"Ma." Luna menyentuh punggung tangan mertuanya. Mama Ian menoleh. "Maafkan Ian dan Luna."
__ADS_1
"A-apa? Kenapa tiba-tiba kamu meminta maaf?" tanya mama heran. Beliau juga was-was. Luna menatap Ian terlebih dahulu.
Ian menghela napas. Rupanya Luna memilih jalan jujur. Meski tanpa meminta persetujuan dirinya sebelumnya, Ian mempercayakan mama pada istrinya.
"Soal Elio ... Luna sudah tahu," kata Luna hati-hati.
"Tahu? Apa maksudmu? Apa yang kamu ketahui?" tanya mama beruntun. Luna menjeda dulu. Ia menghela napas sebelum menjawab pertanyaan mama.
"Luna tahu kalau Elio itu ... bukan anak Ian," kata Luna.
"A-apa?" tanya mama terbata. Beliau menoleh pada putranya dan Luna bergantian. "Ja-jadi ... Elio itu ..."
Mama pingsan.
***
Aroma obat-obatan menyeruak masuk ke dalam hidung mama Ian. Setelah pingsan tadi, beliau di tempatkan di kamar perawatan.
Perlahan mama membuka mata. Luna yang ada di sampingnya tengah menggenggam jari-jarinya.
"Mama. Mama sudah sadar?" Luna tersenyum saat melihat mama membuka mata.
__ADS_1
"L-luna."
"Iya, Ma."
"Dimana ini?" tanya mama merasa asing.
"Karena Mama pingsan, mama di tempatkan di kamar perawatan," jelas Luna.
"Ian, mana Ian?" tanya mama melihat ke samping Luna yang kosong. Beliau tidak menemukan keberadaan putranya di sana. Luna hanya menemaninya sendirian.
"Ada. Dia masih ada keperluan sedikit Ma," kata Luna lembut.
"Lalu, bagaimana keadaan Elio?" tanya mama. Luna yang tadinya takut membicarakan bocah itu kini mulai lega.
"Tranfusi darah berhasil. Kondisi Elio sudah lebih baik sekarang," kata Luna.
"Syukurlah. Apa Ian menemaninya?" tanya mama yang sepertinya paham kalau Ian tidak ada di samping beliau karena menemani cucunya.
"Emm ... Iya." Luna pun berani mengatakan yang sebenarnya. Mama menghela napas. "Semua sudah membaik, Ma. Jadi mama tidak perlu khawatir."
...____...
__ADS_1