
Pintu kamar perawatan terbuka perlahan. Ian terkejut ketika masuk ke dalam, ia melihat mama sudah membuka mata.
"Mama sudah siuman?" tanya Ian terlihat bahagia dan lega.
"Ya," jawab mama dengan senyum tipis menghiasi bibir beliau. Ian menyegerakan mendekat ke bibir ranjang. Kemudian ia memeluk tubuh perempuan yang sudah melahirkannya dengan erat.
"Jangan pingsan lagi, Ma. Ian khawatir," ujar Ian seraya memejamkan mata sejenak. Mata Luna ikut berkaca-kaca. Suasana haru pun memenuhi ruang perawatan ini.
**
Setelah suasana haru tadi. Dokter muncul untuk melihat keadaan mama. Setelah selesai di periksa, beliau meminta ijin keluar kamar. Dokter memberi ijin karena keadaan mama sudah lebih baik. Mungkin nanti juga sudah bisa mengosongkan kamar. Karena Mama drop hanya karena terkejut mendengar kabar soal Elio yang ternyata bukan cucu kandungnya.
"Elio sudah bisa dijenguk?" tanya mama.
"Ya." Ian mengangguk.
"Antar mama ke sana," pinta mama.
"Sepertinya mama di sini saja dulu." Ian memberi saran.
"Kenapa? Kamu takut mama marah dan benci melihat bocah itu karena ternyata dia bukan putra kandung mu?" tanya mama tanpa basa-basi. Luna terkejut. Ia langsung menyentuh lengan mama dan mengelusnya. Mencoba menenangkan mertuanya.
__ADS_1
"Tentu Ian tahu mama tidak sejahat itu. Maaf kalau Ian salah, tapi Kan hanya cemas pada mama." Ian menanggapi dengan bijak dan sabar.
Mama tersenyum. Ini aneh.
"Kenapa Ma?" tanya Ian yang merasa mamanya terlihat aneh.
"Kamu dan istrimu sama saja," tuding mama seraya melihat ke arah putra dan menantunya bergantian. Luna mengerjapkan mata. Dia tidak mengerti apa yang di maksud beliau. "Sama-sama membujuk mama dengan mengatakan mama ini baiklah ... Mama ini berhati malaikat lah ..." Mama mengulang kata-kata dua orang ini dengan nada meledek.
"Lho, mama memang berhati malaikat kok,* kata Luna seraya memeluk lengan mama erat. "Iya, kan sayang?" Luna melempar pertanyaan pada suaminya.
Bibir Ian tersenyum. Mama bukan benar-benar marah rupanya. "Iya. Mama orang paling baik sedunia."
"Kita kan satu hati, Ma. Mama gimana sih ..." Luna pura-pura cemberut. Mama tersenyum sambil melihat menantunya gemas.
"Iya, tahu. Ayo antar mama ke kamar Elio. Bocah itu pasti cemas ketiga orang yang disayanginya tidak segera muncul di sana. Malah berkumpul di sini," ajak mama.
"Siap. Ayo sayang, kita segera temui bocah keriwil itu." Luna mengajak Ian. Pria ini mengangguk. Mereka bertiga pun berjalan sambil sesekali tersenyum menuju kamar Elio.
Bocah itu tengah di temani bibi pengasuh yang datang menjenguk. Setelah melihat ketiga majikannya muncul, beliau mundur dan memberi tempat untuk mendekat pada ranjang Elio.
"Ah, Oma datang," seru Elio dengan lemah. Raut wajahnya begitu gembira. Mama Ian tersenyum seraya mendekat.
__ADS_1
"Iya, maafin Oma tidak langsung ke sini saat kamu sudah baikan sayang ..." Mama mengelus kepala Elio.
"Enggak apa-apa. Kata papa tadi, Oma sakit jadi sedang tidur di kamar lain," ucap Elio.
"Iya sedikit, tapi Oma sekarang sudah baikan kok," kata mama sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Luna menatap Ian di sampingnya dengan haru. Merasa bahagia mama bisa bersikap seperti biasa di antara kebenaran bahwa Elio bukan cucu kandungnya.
Ian menyambut tatapan Luna dengan senyum. Tangannya menarik tubuh istrinya pelan untuk mendekat padanya.
"Elio sudah baikan bukan?" tanya mama.
"Iya."
"Ya sudah. Sekarang Elio bisa tidur lagi."
"Enggak. Elio ingin sama Oma. Kalau Elio tidur nanti Oma pergi." Bocah itu mendadak manja.
"Tidak sayang. Oma tidak kemana-mana. Oma akan temani Elio di sini." Oma menatap lembut bocah ini.
...______...
__ADS_1