Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 102


__ADS_3

Ada jeda sejenak ketika Luna usai membicarakan keadaan Ian dan Elio pada mama. Tentu tidak mudah bagi beliau untuk langsung membicarakan Elio_ yang ternyata bukan cucu kandungnya itu dengan normal. Beliau pasti berusaha keras di balik lara hatinya.


"Mama tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Ian saat tahu Elio itu bukan putra kandungnya," ujar mama mulai bicara dengan manik mata berkaca-kaca.


Luna juga tidak bisa membayangkan hal itu, tapi pria itu begitu lembut. Bukan marah, Ian justru menerima keberadaan Elio di sampingnya. Ian jauh lebih berhati besar dari siapapun.


"Ian itu kuat Ma. Jadi mama tidak perlu khawatir," ujar Luna. Hanya itu yang bisa ia katakan untuk menenangkan mertuanya.


"Mama ... Mama tidak bisa mengatakan apa-apa lagi tentang ini. Mama hanya sakit hati dan merasa sedih." Mama begitu terguncang dengan fakta yang baru saja ia dengar. Pasti. Itu pasti di alami siapa saja yang berada dalam situasi seperti ini. "Jadi bagaimana menurutmu, Luna? Mama harus apa?"


Luna menipiskan bibir. Dia selalu tertekan jika harus memberikan kesimpulan tentang hal yang terjadi pada orang lain.

__ADS_1


"Jika memungkinkan, Luna berharap mama mau menerima Elio seperti Ian bisa menerimanya." Luna begitu hati-hati ketika bicara. Dia takut salah.


"Jadi mama harus tetap sayang pada bocah yang tidak ada hubungan darah sama sekali denganku itu?" tanya mama kurang setuju. Mama menghela napas. Berat. Luna paham itu sangat berat.


"Luna tahu perasaan mama, tapi apakah Ian tidak terluka lagi kalau mama menolak Elio menjadi cucu mama?" tanya Luna. Mendengar ini, Mama menoleh cepat pada Luna. Mendengar nama putranya, beliau terlihat cemas.


"Ian sendiri sudah ikhlas menerima Elio di sampingnya, Luna rasa ... Dia juga ingin mama menerima bocah itu sepenuhnya sebagai cucu mama. Ian ingin berdamai dengan masa lalu buruk tentang istrinya, dengan memilih bocah itu tetap di sampingnya. Sebagai istri Ian, Luna juga harus mendukungnya. Bukan bermaksud mengesampingkan mama, tidak. Luna sayang pada mama juga. Namun Luna harus mengambil jalan tengah. Jadi aku juga akan mengajak mama untuk bisa menerima Elio," pinta Luna sambil mengelus punggung tangan beliau.


"Luna yakin mama berhati malaikat. Luna saja yang bukan siapa-siapa di terima oleh mama. Padahal Ian terlalu sempurna untuk Luna. Namun mama mau menerima Luna dengan baik. Iya kan?" ujar Luna sambil tersenyum membujuk. Mama menatap menantu perempuannya sedikit lebih lama. "Benar bukan?" Luna berusaha membujuk sebisa mungkin.


Akhirnya mama merespon. Meski itu hanya sebuah dengusan saja. Namun itu bisa di anggap sebuah senyuman setuju.

__ADS_1


"Kamu benar-benar ingin di sayang sama Ian ya? Sampai-sampai kamu membujuk mama untuk menerima Elio. Kamu enggak membela mama ya ...," tegur mama dengan nada lembut. Tangannya pun menowel hidung menantunya. Sepertinya Beliau mulai melunak.


"Tentu saja aku juga membela mama. Buktinya aku nungguin mama di sini daripada nungguin Elio di sana." Luna menunjuk ke luar. "Itu bukti Luna juga sayang sama mama."


"Kamu ini sudah pandai merayu ya ..." Mama mengulurkan tangan dan mengelus kepala menantunya. Luna tersenyum. Suasana tidak lagi tegang seperti waktu pertama kali beliau membuka mata.


"Jadi ... Mama akan menerima Elio kan?" tanya Luna sekali lagi untuk memastikan. Ian pasti berharap demikian. Jadi ia harus bisa meyakinkan mama untuk menerima bocah keriting itu.


"Mungkin tidak lagi sama seperti waktu itu, tapi akan mama coba," kata mama masih dengan sorot mata sendu. Luna tersenyum dan memeluk mertuanya dengan erat.


...______...

__ADS_1


__ADS_2