
Danar yang mendengar Luna bicara bahwa pintunya macet, tidak percaya begitu saja. Pria ini merasa ada yang tidak beres di dalam. Menelaah kalimat Luna yang mengatakan dia tidak apa-apa, kemungkinan justru gadis itu dalam bahaya.
Pria ini tidak langsung mendobrak pintu atau berteriak meminta bantuan. Danar mencoba tenang sambil memikirkan cara. Pertama ia menelepon Ian yang ternyata juga kerepotan dengan Naura. Namun sayang, Ian tidak bisa menjawab.
"Perlu kamu tahu Naura, aku tahu rencana busuk mu dan Yuda," kata Ian mulai mencoba cara agar Naura bisa segera menyerahkan kunci mobil dan ponselnya.
"A-apa?" Naura terkejut.
"Soal surat wasiat palsu dan rencana kalian menggerogoti ku dari dalam. Kalian ingin harta bukan?" tanya Ian. Naura melebarkan matanya.
"D-darimana kau tahu? Yuda tidak mungkin membocorkannya bukan?" Naura panik hingga terpancing untuk bicara.
"Tidak perlu Yuda, aku sudah tahu itu. Bodohnya kamu mau di manfaatkan Yuda demi membuatku menderita. Aku pastikan kamu akan hancur karena berurusan denganku," ancam Ian dingin.
"Kau ... Kau tidak akan bisa melakukan itu."
"Bisa. Aku akan gunakan uangku untuk membuat kamu tidak bisa lagi berkarir selamanya."
"Tidak." Naura menggelengkan kepalanya cemas.
"Aku tidak ingin melakukannya karena kamu bukan otak dari rencana itu, tapi sepertinya aku juga harus membuat kamu tidak bisa bangkit lagi untuk mendongakkan kepala. Tidak bisa lagi muncul di publik dengan tenang. Semua orang akan mencibir dan menggunjing model cantik dan internasional yang begitu bodoh terseret sebuah kasus." Ian mengancam.
"T-tidak, Ian. Jangan lakukan itu. Jika aku gagal menikah denganmu, bahkan kamu juga akan menghancurkan karirku, aku ... aku harus bagaimana?" Naura benar-benar kalut. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana kedepannya jika karirnya hancur.
"Kalau begitu serahkan kunci dan ponselku," desis Ian.
"Ba-baik." Naura patuh. Rupanya begitu mudah meremukkan rasa percaya diri model ini. Ian menyesal baru sekarang bersikap tegas. Surat wasiat yang ia yakini asli dari tulisan tangan Mina istrinya, memang sempat membuatnya bodoh dan lemah.
Awalnya Naura kebingungan menemukan tempat ponsel dan kunci yang ia sembunyikan tadi.
"Cepatlah Naura. Jika ada apa-apa dengan Luna, aku akan menghancurkan mu tanpa sisa!" bentak Ian. Pria ini merasakan adanya firasat buruk. Dia takut terjadi apa-apa pada Luna.
"I-iya." Dengan gerak cepat Naura mencari kunci dan ponsel Ian. Tidak lama kemudian akhirnya ketemu. "Aku menemukannya Ian!" Naura gembira.
Ian merampas kedua benda itu dari tangan Naura. Lalu keluar dari apartemen Naura dengan cepat. Ia melihat ada panggilan dari Danar.
"Halo Danar, bagaimana ..."
__ADS_1
"Sepertinya Yuda menahan Luna di dalam, Pak. Dia mengurungnya karena pintu tidak bisa dibuka," ujar Danar tanpa basa-basi dan berat hati.
"Mengurung?! Yuda tahu rencana ini?!"
"Saya rasa begitu Pak." Suara Danar melemah.
"Sial!" Ian memukul kemudi dengan kesal. "Apa kamu sudah melapor pada polisi?" tanya Ian.
"Belum Pak."
"Belum? Lalu apa yang kau lakukan, Danar?!" Ian begitu marah karena tidak ada tindakan.
"Saya takut jika gegabah melakukan itu. Karena masih belum ada kepastian Luna disekap atau tidak oleh Yuda. Saya hanya mengambil kesimpulan dari kalimat Luna yang mengatakan ia baik-baik saja. Kemungkinan kita ketahuan memang iya, tapi soal di sekap masih belum pasti," jelas Danar panjang.
Ian mengambil napas panjang. mencoba menghubungi ponsel Luna. Namun suara dari operator yang ada.
"Telepon pihak polisi dan katakan keadaannya," perintah Ian.
"Baik, Pak."
**
Pak Ian? Sial. Bukankah Yuda sudah mulai tenang ... Bagaimana ini? Ia langsung berdiri tanpa permisi. Yuda heran melihat gadis itu berjalan ke intercom yang terhubung dengan luar pintu.
"Halo Pak Ian. Saya bukan ditahan. Pintu hanya macet." Luna segera meluruskan. Dia tidak ingin amarah Yuda bangkit lagi. Padahal susah payah ia mengajak bicara pria ini agar tenang.
Ian terkejut suara Luna muncul dari intercom. "Kamu tidak apa-apa Luna?" tanya Ian cemas.
"Tentu saja. Jadi berhenti berteriak, Pak. Pintu masih macet. Lebih baik Anda mencoba membuka pintu yang macet ini. Jangan masuk dengan paksa. Saya baik-baik saja." Luna gemas. Ia senang Pak Ian muncul menjemputnya, tapi ia juga ketar-ketir usahanya meluluhkan Yuda hancur karena tindakan pria ini.
"Benarkah?"
"Anda tidak percaya?"
"Emm ... Aku percaya."
"Jangan mendobrak Pak. Ingat, jangan mendobrak." Luna menegaskan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mencari cara membuka pintu yang macet ini."
"Ya."
"Hahahaha ..." Yuda yang mendengar dan memerhatikan Luna tertawa. Luna merinding. Itu bukan tawa bahagia. Ia yakin itu. "Rupanya Ian takluk denganmu ya?" cibir Yuda.
Luna diam tidak menjawab. Ia kembali mendekat dan duduk di sofa.
"Bagaimana Yud? Apa kamu tetap ingin membuat hidup Pak Ian hancur karena kematian Bu Mina?"
"Kenapa? Kamu tidak mau Ian bangkrut karena aku menggerogoti hartanya?"
Luna menggelengkan kepala. "Bukan. Bukan itu yang terpenting. Pertama yang aku khawatirkan adalah hati Pak Ian. Pasti beliau sakit hati melihat sahabatnya sendiri ingin menghancurkannya."
"Bukannya dia sudah tahu kalau aku ingin menghancurkannya?"
"Mungkin. Coba kamu pikir. Kenapa Pak Ian diam saja setelah kamu punya rencana jahat di belakangnya? Padahal dia bisa menggunakan uang dan koneksinya untuk menghancurkan mu juga." Luna menjeda kalimatnya. "Pak Ian menahan diri, Yud. Dia sedang menunggu. Pak Ian menunggu sahabat yang disayanginya sadar, bahwa apa yang di lakukannya hanya akan membuat luka besar. Baik untuknya, sekaligus untuk kamu sendiri."
Yuda terdiam mendengarkan kalimat Luna yang panjang.
"Hmm ... kamu mulai sok tahu, Lun."
"Aku bukan bukan sok tahu. Bukan pula bersikap menggurui. Aku tidak tahu rasa sakit hati yang kamu rasakan, tapi soal berteman, aku juga punya. Aku mengerti. Seorang sahabat yang sangat menyayangi kita akan seperti itu."
Yuda membuang muka. Berdecih dan menggeram.
"Memang tidak mudah melupakan seseorang yang sangat kita cintai, Yud. Itu butuh suatu perjuangan. Namun bukankah kita sendiri yang menginginkan orang itu tetap di hati kita?" Luna masih lanjut bicara.
"Aku tidak menyangka kamu sungguh banyak bicara Lun. Padahal seingat ku, kamu minim bicara," cela Yuda. Suasana sedikit lunak. Rasa tegang tidak lagi kental.
"Aku diam saat dengan orang yang aku sukai Yud," kata Luna jujur dengan sedikit menggeram.
"Jadi dulu kamu memang menyukaiku?" tanya Yuda seraya terkekeh. Luna menipiskan bibir.
Klek! Terdengar suara pintu di buka. Kedua orang ini menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
...______...
__ADS_1