Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 63


__ADS_3

"Sepertinya lebih baik kamu ikut aku ke ruangan Ian," ajak Naura.


"Tidak. Aku masih punya pekerjaan. Aku akan menelepon Pak Ian saja," tolak Luna. Dia tidak harus menuruti kemauan perempuan ini.


"Dia tidak akan percaya kalau tidak melihat dengan mata dan kepala sendiri, kamu sudah mengijinkan aku untuk menemuinya, Lun. Ayolah." Naura bersikeras. Wajahnya terlihat resah.


"Aku masih punya banyak pekerjaan Nona Naura." Luna tetap menolak.


"Percayalah padaku. Jika kamu membantuku, aku akan membantumu di lain waktu. Ian akan menghancurkan karirku kalau aku tidak sungguh-sungguh melakukan perintahnya. Ini bisa gawat Luna." Rasa panik dan ngeri terbayang di wajah perempuan cantik ini. "Saat kamu akan jadi istri Ian, aku akan menjadi gelandangan karena di blacklist oleh Ian dalam karirku."


Melihat raut wajah Naura yang bersungguh-sungguh, Luna akhirnya setuju. Dia mengesampingkan pekerjaannya demi orang ini.


**


Tok! Tok! Pintu terbuka. Danar menyambut mereka dengan sedikit terkejut. Karena dia tidak tahu kalau Naura akan muncul bersama Luna.


"Nona Naura dan Luna datang Pak," kata Danar memberitahu.


"Oh, ya. Suruh mereka masuk." Ian tampak senang mendengar nama Luna disebut. Ian melongok ke belakang Naura karena Luna muncul belakangan. Ia pun berdiri dan menyambut gadis itu. "Halo Luna." Tanpa memikirkan Naura, Ian langsung memeluk Luna. Ini membuat Luna tersentak kaget. Dia tidak menyangka.


Naura menipiskan bibir melihat penyambutan Ian pada Naura yang luar biasa itu. Ia pernah menerimanya juga. Namun saat melihat ekspresi laki-laki ini, Naura tahu bahwa itu tidak sama. Sorot mata itu bukan sedang tertekan. Ian lebih hangat pada Luna. Naura membuang muka.


Luna mendorong tubuh Pak Ian pelan. Ia memberi kode untuk tidak seperti ini karena di depan mereka.


"Tidak apa-apa, Lun. Naura tahu bahwa aku memilihmu. Bukan begitu, Naura?" tanya Ian menyebalkan.


"Bisa tidak, jangan pernah membahas soal itu. Aku tahu aku hanya memanfaatkan mu, Ian." Naura gusar. Ian tergelak.


"Dia tahu posisinya sekarang bagaimana, Lun. Jadi abaikan dia. Mereka berdua juga tahu soal hubungan kita bukan? Ayo duduk." Pak Ian membimbing Luna ke sofa. Danar hanya melihat saja tanpa banyak komentar. Tanpa di persilakan, Naura ikut duduk.


"Jadi ada apa? Kenapa saya harus datang ke sini juga?" tanya Luna.


"Aku ingin memberi tahu kamu secara langsung, kalau Naura sudah berhenti mengejar ku. Dia tidak lagi di kontrak Yuda untuk menipuku. Jadi kita benar-benar tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jika suatu saat kamu melihat kami bicara, itu murni sebuah pekerjaan," jelas Ian membuat Luna malu.


Aku senang sekaligus malu secara bersamaan.


"Ya. Karena aku masih butuh pekerjaan. Juga dia berjanji tidak akan menghancurkan aku jika aku patuh untuk tidak mengusiknya." Naura bicara terang-terangan.


Luna menganggukkan kepala. "Jadi ... saya bisa kembali ke ruangan saya, Pak? Ada banyak pekerjaan yang menunggu."

__ADS_1


"Baiklah. Jangan lupa makan siang nanti, Luna." Ian menepuk punggung tangan Luna sebentar. Sekedar memberi rasa hangat dan nyaman.


"Ya." Luna ingin kembali ke ruangan dan menata hati yang amburadul karena perlakuan manis pria tampan ini.


**


Setelah makan siang tadi, Ian memintanya melihat Elio. Sudah lama mereka tidak bertemu. Luna setuju. Jadi setelah pulang kerja, Luna tidak langsung pulang. Melainkan mampir ke rumah Pak Ian.


"Halo, Elio," sapa Luna. Elio yang menemani bibi pengasuh membuka pintu, terkejut. Karena tadinya dia hanya menunggu papanya pulang. Namun ternyata ada Luna.


"Tante Luna!!" Elio segera berlari ke arah gadis ini.


"Jangan lari, Elio," nasehat Ian. Bukan hanya Ian yang ngeri. Luna sendiri meringis melihat bocah ini berlari ke arahnya. Dia bahkan harus sigap saat bocah ini sedikit meloncat ke arahnya. Luna pun memeluk Elio dengan erat.


Ada rasa bahagia, sedih dan juga iba. Melihat sejarah lahirnya bocah ini, Luna ikut terenyuh. Mungkin itu sebabnya, Elio terlihat ingin selalu di sayang-sayang. Bocah itu seperti meminta perhatian penuh diri Ian.


Ian memperhatikan mereka berdua dengan haru.


"Aku kangen Tante Luna," kata Elio.


"Iya, Tante juga kangen." Luna melepas pelukannya. Matanya sedikit berkaca-kaca tadi.


"Oleh-oleh?" tanya Luna terkejut.


"Bukannya Papa dan Tante Luna kerja di luar kota?"


Luna tidak mengerti pertanyaan bocah gondrong ini. Dia melihat ke arah Pak Ian. Menanyakan perihal pertanyaan Elio. Ian memberikan kode pada Luna untuk mengiyakan saja.


"Tante Luna dan Papa lelah. Jadi belum sempat beli. Gimana kalau besok kita jalan-jalan sekalian beli," tawar Ian.


"Jalan-jalan?" Elio tertarik sepertinya. Alisnya sampai terangkat.


"Ya. Kamu bisa memilih sendiri oleh-olehnya."


"Apa Tante Luna akan ikut?" tanya sambil memeluk lengan perempuan ini. Luna mengerjap.


"Ya. Tante Luna harus ikut." Ian tersenyum.


"Asyiiik!!" Elio berjingkrak senang.

__ADS_1


"Jadi sekarang biarkan Tante Luna makan malam. Kamu bisa main sendiri dulu."


"Baik Papa. Oh, ya Pa. Tante Naura enggak akan ikut acara jalan-jalan kita kan?"


"Tidak. Sekarang yang ada hanya Tante Luna. Tidak ada Tante Naura lagi," jelas Ian.


"Benarkah? Jadi Tante Naura tidak akan jadi mama Elio?" Bola mata bocah itu berbinar penuh harap. Ian tersenyum seraya mengangguk.


"Horeeee!!" Bocah ini meloncat-loncat kesenangan lagi. Lalu ia memeluk papanya dengan erat. "Terima kasih Papa. Elio sayang papa."


Bibi pengasuh yang masih ada di sana tersenyum. Luna pun demikian. Ia menghela napas lega. Seakan ikut merasakan kebahagiaan karena terlepas dari Naura.


Tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika wanita itu yang jadi ibu Elio.


"Katakan pada orang di dapur, aku dan Luna akan makan malam, Bi," kata Ian pada bibi pengasuh.


"Baik Tuan. Ayo Elio. Kita pergi dulu," ajak bibi pengasuh pada Elio.


"Iya, Bi." Elio berjalan di samping bibi pengasuhnya. Mereka pun bersama-sama menjauh dari sana.


"Aku ganti baju dulu. Kamu bisa langsung ke ruang makan," kata Pak Ian.


"Iya Pak." Luna membiarkan pria itu memunggunginya untuk menjauh dari ruang tamu. Namun tiba-tiba kaki pria itu berhenti.


Ada apa?


"Atau ... Kamu bisa menemaniku di atas," usul Ian.


"Menemani? Maksud Bapak?" Luna mengernyitkan keningnya.


"Menemaniku ganti baju di atas," kata Ian santai. Namun dampaknya membuat Luna sangat terkejut. Spontan wajahnya memerah. Bola matanya pun melebar.


"A-pa yang Bapak tawarkan?" tanya Luna marah campur geram dan gemas.


"Ah ... pasti nggak mau ya. Oke. Aku pergi sendiri saja," sahut Ian santai. Lalu tersenyum geli dari balik punggungnya.


Pria itu ... Dia sedang menggodaku ya? Awas ya nanti. Aku akan balik menggodanya, ancam Luna dalam hati.


...______...

__ADS_1


__ADS_2