
"Oh itu karena orang yang membuat perjanjian denganku adalah orang baik. Sepertinya dia tahu kalau istriku hamil besar. Jadi dia memberi ku kelonggaran untuk segera ke sini menemani Luna melahirkan," jelas Ian.
"Baik sekali orang itu, siapa?" tanya mama.
"Pemilik perusahaan textil."
"Generasi pertama?"
"Bukan, generasi kedua. Dia putra pemilik pertama perusahaan textil," jelas Ian. Mama mengangguk mengerti.
"Mereka memang orang baik." Bibir mama tersenyum. Luna tidak mengerti siapa yang di maksud kedua orang ini. Dia hanya cukup mendengarkan saja.
"Lain kali aku ajak kalian bertemu. Karena sudah berhasil melakukan perjanjian kerja sama, mungkin kita akan lebih sering bertemu," ujar Ian yang tahu Luna kebingungan mendengar percakapan mereka. Bibir Luna tersenyum seraya mengangguk pelan.
***
__ADS_1
Setengah berlari, Elio memasuki kamar perawatan Luna. Brak! Pintu di buka agak keras. Semua orang yang ada di dalam kamar menoleh serempak.
"Mama!" teriak Elio gembira. Luna terperanjat sedikit.
"Ssst!" tegur Oma. Elio mengerutkan kening. Sejurus kemudian dia kembali berlari dan menghampiri ranjang.
"Kata om Danar, mama sudah punya adik baru ya?" tanya Elio dengan suara agak keras. Sekilas Luna menoleh pada bayinya di dalam box. Suara Elio membuat bayi Luna menggeliat.
"Elio ... Bicaranya tidak boleh keras-keras." Kali ini Ian yang menegur. Namun suaranya tetap lembut. Elio menoleh. "Lihatlah. Adik kamu menggeliat. Dia bisa bangun dan menangis," kata Ian.
"Sini papa gendong, biar bisa lihat." Ian mengangkat tubuh Elio untuk melihat bayi. "Itu lihat. Dia adik kamu."
"Adik kok keriput Pa? Mirip nenek yang sudah tua?" tanya Elio polos. Mama dan Luna tergelak hampir bersamaan. Ian ikut tersenyum tipis. Merasa lucu dengan kalimat Elio.
"Itu karena dia sudah lama tinggal dan perut mama kamu. Makanya kulitnya keriput." Oma mulai bicara.
__ADS_1
"Supaya adik kamu ini enggak keriput lagi, kamu harus mau berbagi kamar tidur sama adik nanti," kata Luna ikut bicara.
"Jadi ... aku harus tidur bareng adik, Ma?" tanya Elio mengulang kalimat Luna.
"Iya dong. Katanya senang dapat teman buat main." Oma mengambil alih bicara. Luna memgngguk. Elio tersenyum memamerkan giginya.
"Iya. Aku senang ada adik," kata Elio menunjukkan wajah bahagianya. Ian mencium kening putranya. Oma yang mendekat juga mengusap kepala Elio, lalu mengecup pucuk kepala bocah ini. Luna tersenyum melihat semuanya memberi perhatian pada Elio.
Seperti ini yang di inginkan Ian. Damai dan tentram. Ketakutan Ian akan kurangnya kasih sayang mama pada Elio terhapuskan. Mama Ian tetap ingin menyayangi Elio meski bocah itu bukan cucu kandungnya. Jadi hubungan nenek dan cucu tetap terjalin seperti biasa.
Ian tersenyum melihat keempat orang di atas ranjang yang saling tersenyum itu. Mama, Luna, Elio, dan terakhir bayi merah yang cantik di pelukan istrinya itu. Ian berharap senyum mereka selalu ada. Selalu terlukis seperti saat ini.
Mina, kamu pasti bisa melihat aku sudah bertanggung jawab sebagaimana seharusnya pada Elio. Aku tetap menyayangimu. Namun ... mungkin ada waktunya aku sedikit melupakanmu saat aku mulai sibuk dengan orang-orang yang aku sayangi di sini, maaf. Aku harap kamu mengerti.
...T A M A T...
__ADS_1