Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 109


__ADS_3

"Aku berhenti di tempat yang tidak begitu ramai," kata Ian yang tahu maksud tatapan Luna pada lingkungan sekitar. Tubuhnya pun mendekat pada Luna. Tangan kanan itu melepas pegangan dari kemudi, lalu berpindah pada dagu perempuan ini. Ian mencium dengan penuh cinta dengan tangan kirinya masih terus menggenggam jari-jari istrinya. Hanya sebentar, tapi itu begitu dalam.


Ian menyentuh bibir Luna yang basah dan tersenyum.


"Aku mencintaimu, sayang," kata Ian.


"HH ... terima kasih untuk pengakuan cinta yang ke sekian kalinya sayang ... Aku juga mencintaimu. Bisa sekarang kita jalan lagi?" tanya Luna dengan wajah merah.


Mobil pun kembali berjalan mulus di atas jalanan. Membawa mereka menjauh dari tempat itu. Mereka ingin segera mengabarkan berita baik ini pada mama.


****


"H-hamil?" tanya mama yang terkejut mendengar kabar itu. Beliau yang tadinya duduk sambil membaca buku langsung berdiri dan meletakkan buku yang dibacanya di atas meja.


Awalnya beliau hanya ingin tahu keadaan Luna yang katanya sakit. Namun kabar yang di terimanya sungguh tidak dapat di duga. Itu lebih mencengangkan.

__ADS_1


"Iya Ma," sahut Ian. Masih tidak percaya dengan jawaban putranya, mama melihat ke arah Luna. Ingin mendapat jawaban dari menantunya langsung.


Luna mengangguk. "Luna memang hamil, Ma," kata Luna sambil tersenyum. Tangannya mengelus perutnya yang masih kecil.


"Oh, sayangg ..." Mama langsung memeluk Luna dengan erat. Air mata beliau menetes.


Luna dan Ian saling berpandangan karena terkejut. Beliau sangat bahagia mendengar kabar ini. Mungkin itu juga ada hubungannya dengan kisah sedih tentang Elio. Dimana ternyata bocah itu bukanlah putra kandung Ian. Jadi mama begitu bahagia karena akhirnya Ian akan punya darah dagingnya sendiri.


"Mama ..." Luna ikut melingkarkan lengannya pada punggung mertuanya.


"Ini begitu membahagiakan. Mama sangat bersyukur sayang ...," kata Mama makin mempererat pelukannya.


Ian melambaikan tangan meminta bocah itu mendekat padanya. Lalu meletakkannya pada pangkuannya.


"Oma bukan bersedih sayang ..." Ian menjelaskan.

__ADS_1


"Tapi Oma menangis, Pa. Lihatlah. Itu artinya Oma sedang bersedih," kata Elio seraya menunjuk pada mama Ian. Mama mengusap air matanya.


"Oma bukan sedih, Elio." Ian yang akan menjawab pertanyaan Elio, urung. Lalu membiarkan mamanya ikut menjawab. "Kadang kalau bahagia itu juga meneteskan air mata." Mama mencoba menjelaskan juga.


"Benarkah?" tanya Elio tidak percaya. Ia mengerjapkan bola matanya.


"Itu benar, anak mama yang pintar." Luna mendekat dan menowel pipi bocah ini. Bibir Ian tersenyum melihat itu.


"Jadi mama Luna tidak sakit?" tanya Elio yang tadi mendengar dari bibi pengasuh kalau mama beragkat ke dokter.


"Tidak. Mama sehat. Lihatlah." Luna menunjukkan tubuh kuatnya pada Elio. Bocah itu mengangguk setuju. "Oma menangis, karena ada berita yang begitu menggembirakan." Luna ikut duduk di dekat Ian.


"Apa? Aku tidak di beritahu?" Bocah ini menoleh ke Oma, dan papanya. Meminta jawaban. Namun mereka hanya tersenyum.


"Kamu akan punya teman bermain sebentar lagi," kata Luna.

__ADS_1


"Teman bermain?" Elio mengerutkan kening tidak mengerti.


..._____...


__ADS_2