Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 66


__ADS_3

Suara ciap-ciap burung di luar kamar mengagetkan Luna. Mendadak ia bangun dan terbengong-bengong. Nuansa kamar yang sangat berbeda jauh dari kamar miliknya, sungguh mengejutkan.


Namun saat menoleh ke samping dan melihat Elio di sana, ia sadar bahwa sedang menginap di rumah Pak Ian.


"Kamu sudah bangun, Luna?" Sebuah suara kembali membuat gadis ini terkejut.


"Pak Ian? A-apa yang Bapak lakukan di kamar ini?" tanya Luna sambil menarik selimut.


"Bukannya aku juga tidur di kamar ini?"


"Benarkah?" tanya Luna sambil mencoba mengingat-ingat. Ia ingat bahwa Pak Ian memaksa ikut tidur di kamar ini. Namun bukan tidur di ranjang yang sama. Pria ini hanya tidur di sofa. "Ah, ya." Luna mengangguk-anggukan kepala ingat. "Ah!" Tiba-tiba Luna terkejut.


"Ada apa Lun?"


"I-ini sangat tidak sopan Pak," kata Luna. Ian mengerutkan kening tidak paham. "Masa Bapak ada di sini saat seorang gadis baru bangun tidur."


"Kenapa?"


"S-saya kelihatan jelek saat bangun tidur. Itu membuat saya malu." Luna berterus terang.


"Oh, itu. Padahal tadi malam aku sudah melihatmu tidur dengan banyak tingkah," kata Ian mengejutkan Luna.


"Benarkah? Saya mendengkur? Saya mengigau? Apa Pak?" tanya Luna panik. Terbayang banyak kejadian buruk yang sudah ia lakukan tanpa sadar tadi malam.


"Hahahaha ..." Pak Ian tertawa dengan keras. Ini membuat Luna cemas. "Tidak, tapi apa kamu melakukan itu saat tidur?" tanya Ian ingin tahu.


Bodoh! Kenapa membuka aib sendiri? Luna mengumpat untuk dirinya sendiri. Dia memilih  tidak menjawab.


"Tidak apa-apa. Aku akan tahu sendiri saat kita tidur dalam satu ranjang nanti," kata Ian.


Ah Pak Ian. Ini pagi hari, tapi sudah panas sekali.


"Cepat turun dan sarapan. Bibi pengasuh akan membangunkan Elio dan memandikannya," kata Ian. "Aku tunggu di bawah ya." Setelah tersenyum manis, Ian keluar dari kamar Elio.


**


Setelah Elio mandi mereka sarapan pagi bersama. Untung saja ini hari libur bekerja, kalau tidak, Luna akan kerepotan berangkat kerja karena tidak membawa pakaian kerja.


"Wah, putra papa sudah mandi. Sudah bilang terima kasih sama bibi karena sudah di mandiin?" tanya Ian pada Elio.

__ADS_1


"Tadi aku di suruh mandi sendiri sama Tante Luna, Pa," kata Elio mengadu. Ian melirik ke arah Luna yang berjalan di sampingnya. Gadis itu melihat ke arah lain.


"Benarkah?" Ian menarik kursi untuk Elio duduk. "Terus bagaimana?" tanya Ian cemas. Luna juga ikut duduk di kursi.


"Aku senang!" seru Elio tidak terduga.


"Senang?" Ian tampak heran.


"Ya. Mandi sendiri itu asyik juga Pa. Tadi aku sudah bisa pakai sabun dan gosok gigi sendiri!" teriak Elio kegirangan. "Kata Tante Luna itu keren." Tampaknya Elio bangga karena pujian dari Luna.


Bibir Ian tersenyum. "Itu bagus, Elio." Ian mengelus kepala putranya. Karena istri Ian meninggal sejak bocah ini kecil, Elio seringnya di urus oleh pengasuh. Semuanya di lakukan oleh pengasuh. Ian menoleh ke arah Luna. "Terima kasih."


"Itu bukan apa-apa, Pak," tepis Luna. Padahal dia tidak melakukan apa-apa. Bahkan hanya menyuruh ini dan itu saja.


"Ya sudah. Ayo kita sarapan dulu."


**


Selesai sarapan, Luna tidak bisa langsung pulang. Bocah ini masih terus ingin main bersamanya.


"Mainnya di luar aja ya. Bosen di dalam kamar terus," kata Luna.


"Kenapa?" tanya Luna heran.


"Papa takut aku kabur."


"Hahahaha. Karena itu ternyata ... Tentu aja papa kamu takut. Soalnya kamu nanti merepotkan aku, karena kamu kalau kabur ke rumahku." Luna masih menyisakan tawanya. Elio manyun. "Kalau sekarang sepertinya enggak apa-apa."


"Papa bilang aku enggak apa-apa main di luar?" tanya Elio berharap.


"Enggak sih."


"Yah Tante ..." Elio kecewa.


"Tapi sekarang kamu enggak mungkin kabur lagi kan? Jadi aku rasa papa mengijinkan kamu untuk main di halaman. Papa mu pun sudah mengabulkan keinginanmu untuk tidak menjadikan Tante Naura jadi mama kamu. Kalian harus menepati janji masing-masing. Lagipula ... aku akan menolak kamu kalau mau kabur ke rumahku," jelas Luna.


"Jadi ... aku boleh main di luar?" Elio bersemangat.


"Tentu. Ayo. Anak laki enggak boleh diam di rumah saja. Ayo kita main bola!" ajak Luna.

__ADS_1


"Aku belum pernah main bola di luar," kata Elio ragu.


"Aku ajarin." Luna membawa bola yang ada di kotak mainan. "Ayo."


Luna dan Elio pun main di halaman. Sepertinya bocah ini memang harus sering lebih di ajak main di luar rumah. Bukan hanya kita yang dewasa, anak-anak juga butuh refreshing.


Karena keasyikan bermain, mereka tidak mendengar ada suara deru mobil yang masuk ke dalam halaman rumah.


"Ayo, Tante. Sekarang giliran Tante!" teriak Elio gembira.


"Baiklah. Nih." Luna melempar bola. Karena agak keras, bola itu melambung agak jauh dari tempat Elio berdiri. Bocah itu berlari mengejar bola.


Saat itu Luna bisa melihat kemunculan seseorang di halaman rumah.


"Yuda? Itu Yuda?" tanya Luna sendiri. Pria itu diam karena bola menyentuh kakinya.


"Om Yuda!" teriak Elio senang melihat kedatangan pria ini. Luna setengah berlari ikut mendekat ke Elio.


Luna memelankan langkahnya. Namun Elio sudah keburu meloncat dalam pelukan Yuda. Terlambat.


"Halo Elio," sapa Yuda dengan sorot mata rindu.


"Halo, Om!" sapa Elio balik dengan tingkah menggemaskannya. "Papa bilang Om kerja ke luar kota. Jadi sekarang sudah pulang?" tanya Elio. Luna tahu Pak Ian berbohong.


"Benar. Om baru pulang," sahut Yuda yang paham kalau pasti Ian berbohong.


"Kenapa baru pulang? Padahal Papa dan Tante Luna saja sudah kemarin pulang dari luar kota," kata Elio.


"Ya. Kita kerja di tempat lain. Jadi pulangnya juga tidak sama, Elio," jelas Yuda yang kemudian menoleh pada Luna sebentar. "Jadi sekarang Tante Luna tinggal di rumah Elio?" tanya Yuda yang heran sepagi ini, Luna sudah ada di rumah Ian.


"Enggak. Mungkin Tante Luna masih ingin bareng sama Papa, jadi tadi malam menginap di sini," jelas Elio polos yang langsung di tatap curiga oleh Yuda.


Mendengar itu, Luna pun mendelik hebat.


Bocah ini ....


"Itu bukan alasan aku menginap di rumah ini, Yuda," kata Luna geram. Luna menatap tajam Elio. Bocah ini tidak tahu karena siapa dia sepagi ini sudah berada di rumah orang lain. "Ini semua karena ..."


"Aku yang meminta Luna menginap," jelas Ian yang memotong kalimat Luna. Yuda dan Luna menoleh ke arah pintu dimana Ian muncul. Rupanya Ian melihat Elio di gendong oleh pria dari dalam ruang tengah lewat dinding kaca. Dan dia terkejut ternyata itu adalah Yuda.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2