
Ian terkejut mendengarnya.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Ian. Dia tahu gadis ini dalam masa datang bulan ketika mereka menikah. Karena itu malam pertama mereka tertunda.
"Heem." Luna mengangguk manja.
"Jadi sekarang boleh?" tanya Ian menggebu.
"Boleh. Silakan saja ...." Luna mempersilakan. Tanpa di suruh pun Ian menggila karena tahu istrinya tidak lagi sama masa haid. Itu artinya mereka bisa menyatu saat ini juga.
Ian langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke ranjang. Hasrat yang tertahan karena istrinya sedang masa haid kini muncul tidak tertahankan lagi. Mereka pun menyatu hingga sama-sama merasakan hal luar biasa itu.
***
Pagi hari.
Ian mengeringkan rambut Luna yang basah dengan handuk. Kepala Luna bergerak-gerak mengikuti alur tangan Ian. Matanya menutup karena tidak bisa di buka.
Dia lelah.
Setelah di gempur duda tampan yang sudah memendam hasratnya lama, Luna kewalahan. Ia pun malas untuk bangun.
Ian tidak memaksanya bangun, tapi Luna bersikeras untuk bangun pagi dan mandi. Soalnya tubuhnya lengket karena keringat tadi malam. Juga karena mertua akan datang hari ini.
Mungkin mama paham mereka adalah pengantin baru, tapi Luna harus tahu diri juga.
__ADS_1
"Hmm ..." Ian tergelak melihat istrinya duduk sambil memejamkan mata dari pantulan cermin di depan mereka.
"Sayang pasti menertawakan aku ya?" tegur Luna dengan tetap menutup mata.
"Iya."
"Kenapa?"
"Kamu lucu."
"Lebih lucu dari Elio?" Kepala Luna terayun-ayun karena mengantuk.
"Tentu. Bahkan lebih imut kamu daripada bocah itu."
"Benarkah?"
"Enggak bisa. Mama mau datang."
"Iya, tapi kan kamu enggak perlu bangun pagi seperti ini. Datangnya juga siang."
"Mana bisa seperti sekarang kalau aku tidur. Kamu kan mau berangkat kerja." Luna membiarkan kepalanya mendongak karena lehernya sudah tidak kuat menahan kepalanya untuk tegak.
"Oh ... jadi ingin bersama suami kamu terus?" goda Ian.
"Hmm ..." Luna berdeham mengiyakan. Ian mengecup bibir Luna.
__ADS_1
"Kalau seperti itu, aku jadi tidak ingin berangkat kerja juga," bisik Ian di telinga Luna. Perempuan ini langsung membuka mata.
"Jangan. Jangan bolos kerja."
"Kenapa? Bukankah itu perusahaan milik keluarga ku? Aku bisa melakukan apa saja. Bebas," kata Ian benar.
"Ih, enggak bisa seperti itu. Sudah. Ayo kita sarapan pagi saja, lalu kamu bisa berangkat kerja." Luna langsung menggerakkan badannya dengan giat.
Ian tergelak. Dia menarik tubuh Luna dan memeluknya. "Aku akan pulang cepat nanti sore."
Luna tersenyum. Lalu mereka menuju ke ruang makan bersama.
"Selamat pagi mama dan papa!" sapa Elio begitu bersemangat. Ternyata malah bocah itu sudah ada di meja makan. Gara-gara malam panas tadi malam, Ian dan Luna terlambat datang ke meja makan karena masih keasyikan bermesraan.
"Pagi Elio," sahut Ian. Luna berjalan menuju kursi samping bocah itu.
"Bersemangat sekali anak mama ini?" tanya Luna.
"Iya, soalnya kan Oma mau datang. Jadi bisa jalan-jalan bertiga," kata Elio riang.
"Benar. Kita bisa jalan-jalan sama Oma." Luna setuju. Ian tersenyum melihat mereka.
"Ayo, kita sarapan dulu. Nanti siang kalau Oma datang, kalian bisa langsung jalan-jalan," ujar Ian.
"Asyiiik!!" seru Elio.
__ADS_1
...____...