
"Ups." Luna terkejut sambil menutup mulutnya dengan tangan. Karena panik, dia jadi keceplosan.
"Sudah pasti begitu. Apa mama menyakitimu?" tanya Ian menginterogasi. Luna menggelengkan kepala dengan tangan tetap menutupi mulutnya. "Sepertinya kamu tidak akan mengaku. Tidak apa-apa. Aku akan tetap bertanya pada mama."
"Kenapa harus menanyakan pada mama, sih?" Luna kesal.
"Tenang, Luna. Itu urusan ku. Jadi kamu tetap tenang saja."
"Aku enggak mungkin bisa tenang kalau begitu Ian sayang ...," ujar Luna gemas. Ian tersenyum dan menowel dagu Luna.
"Meskipun kamu memanggilku sayang, aku akan tetap bertanya pada mama. Jadi jangan merayuku."
"Baiklah, baik. Tanya saja pada mama dan aku akan makin di bencinya. Sepertinya aku memang harus mengalami hal seperti ini." Luna kesal.
"Jangan berpikir negatif, Lun. Berharap saja semua baik-baik saja." Ian memeluk Luna dari samping sambil menguatkan hati gadis ini. "Mama juga tidak sejahat itu. Kamu harus percaya padaku."
Luna hanya bisa menghela napas berat. "Ya, semoga ..." sahut Luna lirih.
**
"Ian sayang ... aku mau makan siang sama Karin ya?" Tangan Luna mengetik pesan pada ponselnya. Ia menyegerakan mengirim pesan karena takut Ian mengajaknya makan siang bareng. Saat ini mood-nya sedang tidak baik karena bertemu calon mertua.
Tidak lama ponsel Luna berdering. Pria itu justru membalas dengan telepon.
"Aku kan mau lewat chat saja, kenapa ini orang telepon? Iya, halo ..." Luna segera menerima telepon Ian.
"Kenapa tidak makan siang denganku?"
"Aku mau ..."
"Kamu bukan ingin makan siang dengan pria di kantin itu kan?" tanya Ian curiga.
"Tentu saja bukan!" sangkal Luna keras. "Aku hanya ingin makan siang dengan Karin." Hari ini dia hanya ingin makan dengan temannya itu. Dia ingin banyak bercerita.
"Jadi siang ini tidak ada acara makan siang bersama?"
"Bisakah besok? Atau nanti pulang kerja kita makan di luar? Siang ini aku ingin bersama Karin. Boleh?" Luna tetap memaksa meski Ian sudah mengatakan ingin makan siang dengannya.
"Baiklah. Baik. Acara kita nanti saja."
"Terima kasih."
"Jangan bersama dengan pria lain, Lun," pesan Ian.
"Iya. Terima kasih sayang ...," kata Luna sengaja membubuhkan kata sayang untuk membuat Ian mau mengabulkan permintaannya.
"Dasar, dia menggunakan kata sayang seenaknya," kata Ian sambil tersenyum.
__ADS_1
**
Ternyata Luna memilih makan siang di luar perusahaan.
"Kenapa makan siang di sini? Aku di traktir pula," kata Karin heran.
"Aku bertemu mama Pak Ian."
"Ha? Kamu sudah di kenalkan sama Pak Ian? Jadi traktiran ini untuk merayakan itu ya ... Oke. Aku terima traktiran kamu dengan senang hati." Karin gembira.
"Bukan karena itu, tapi nikmatilah."
"Kenapa mukanya kayak habis kena musibah?" tanya Karin penasaran. Dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sesekali. Sementara Luna hanya mengaduk makanannya dan sesekali menyeruput jus.
"Memang semacam itu."
"Ada apa lagi? Bukannya soal Yuda dan Naura sudah kelar? Kamu dan Pak Ian juga sudah mulai berjalan ke tahap yang bagus. Bukannya itu berita baik? Bahkan kamu sudah bertemu orangtua Pak Ian. Apalagi coba?" Karin antusias. Dia harus bersikap begitu karena sudah di traktir.
"Aku bukannya di kenalin Pak Ian sama mamanya, tapi itu hanya sebuah kebetulan."
"Kebetulan? Gimana ceritanya?" tanya Karin makin penasaran.
"Jadi sebenarnya Pak Ian belum pernah memberitahu mamanya kalau dekat denganku. Lalu ..." Luna pun menceritakan asal muasal kisah dia dan ibu Pak Ian bertemu. Pun soal drama yang sempat terjadi di ruang tamu.
Karin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jadi mirip di drama-drama gitu. Keren."
"Hehehe ... bercanda." Karin menowel pipi temannya.
"Cih, jangan pegang-pegang."
"Alahhh ... Kalau Pak Ian yang pegang, mau ...," cibir Karin.
"Tentu saja," sahut Luna judes.
"Setelah itu kamunya gimana?" Karin dalam mode serius.
"Aku stress berat. Sampai tidur enggak nyenyak habis dari rumah Pak Ian."
"Pak Ian tahu?" tanya Karin. Luna menggelengkan kepala. "Kenapa enggak bilang?"
"Memangnya aku tukang ngadu domba. Aku karyawan perusahaan swasta, tahu?"
"Kan Pak Ian biar tahu juga kalau respon mamanya ke kamu seperti itu."
"Tapi sekarang Pak Ian tahu."
__ADS_1
"Lho tadi?" Karin bingung.
"Aku keceplosan ngomong," potong Luna.
"Ya ampun ..." Karin menipiskan bibir dan melotot dengan geram.
"Tapi aku enggak bilang secara rinci apa yang mamanya Pak Ian katakan. Hanya sebatas kalau kita sempat ngobrol yang aneh-aneh."
"Respon Pak Ian gimana?"
"Dia mau tanya sama mamanya sendiri?"
"Widih ... horor banget Pak Ian. Bisa-bisa kamu di benci mama Pak Ian dan di coret dari daftar calon istri Pak Ian selamanya," kata Karin malah memanaskan suasana.
"Benar. Aku sudah katakan itu padanya, tapi dia tetap saja bersikeras untuk tanya sama mamanya. Hhhh ... Aku jadi enggak bersemangat lagi deketin Pak Ian."
Plak!
"Aduh! Kenapa pukul aku sih?" Luna marah. Sampai orang yang ada di dekat mereka menoleh cepat.
"Jadi enggak bersemangat deketin Pak Ian? Heh, kamu pikir Pak Ian itu barang pasaran yang bisa kamu dapat sewaktu-waktu? Dia itu barang langka tahu. Langka! Apalagi untuk kamu," tunjuk Karin emosi. Luna menipiskan bibir sambil mengusap-usap punggungnya. "Segampang itu bilang enggak semangat deketin Pak Ian. Emang kamu bakal dapat pria yang seperti dia lagi kalau pisah sama ini orang?"
"Jangan doain yang enggak-enggak Karin," protes Luna.
"Makanya jangan ngomong seenaknya. Di Aminin mampus kamu."
"Kamu enggak tahu seberapa takutnya aku bertemu dengan mama Pak Ian, Rin." Mata Luna melebar saat mengatakannya.
"Aku enggak tahu, tapi bisa bayangin. Pasti seperti itu, tapi kan memang gitu kalau ingin dapat Pak Ian. Kalau kamu menyerah dengan gampang begini, mending gak usah cinta-cintaan sejak awal."
"Hhh ... Karena dapatnya yang sempurna, aku jadi mengalami kesulitan," keluh Luna.
"Kalau jalan kamu mudah, terlalu enggak adil. Mau nambahin menu untuk besok enggak? Aku mau, jika di traktir lagi." Karin merayu.
"Dih, enak dong kamu. Aku yang rugi." Luna mencibir.
"Kan sama-sama, Lun. Aku bertugas buat dengerin kamu curhat, lalu kamu curhat sepuas hati kamu. Impas dong," kata Karin membela diri.
Luna menggelengkan kepala kuat sambil mencebik. Kemudian dia menyeruput jus yang tinggal sedikit. Ponselnya berdering. Ian! Tangan Luna dengan sigap meraih ponselnya.
"Ya, sayang?" kata Luna membuat Karin mendelik.
"Sudah kenyang?" tanya Ian.
"Eh, ini hampir selesai. Ada apa?" tanya Luna.
"Aku di belakang mu."
__ADS_1
"Hah?!" teriak Luna terkejut. Dia langsung menoleh ke belakang. Pria itu muncul dan tersenyum padanya. Dia tidak mungkin dengar apa yang aku bicarakan dengan Karin kan?
..._____...