Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 48


__ADS_3

Danar yang memasuki ruang baca Pak Ian terkejut dengan adanya Luna yang sedang bersama Elio di sana. Namun ia coba diam. Berdialog dengan otaknya sendiri, kenapa wanita ini bisa ada di sini?


"Oh, Danar!" seru Luna saat dia melihat pria itu muncul.


"Kamu?"


"Iya ..." Luna tersenyum canggung.


"Halo om Danar." Elio melambaikan tangan. Pria ini menanggapi dengan lambaian tangannya juga.


"Kamu sedang bermain?" tanya Danar mendekat pada putra atasannya.


"Ya. Aku sedang main sama Tante Luna," jawab Elio. Lalu Danar memberikan tangannya untuk tos. Elio menyambutnya dengan gembira. Bahkan mengerahkan seluruh tenaganya untuk tos dengan pria ini.


Luna tersenyum melihat interaksi itu. Namun saat Danar menatapnya, Luna langsung menunduk. Ia merasa sedang di amati.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Danar curiga.


"Aku ... ada perlu sama Elio," kata Luna menunjuk bocah itu.


"Ya. Elio minta sama papa, kalau Tante Luna temani Elio main." Ternyata tanpa di minta, Elio sudah mendukungnya. Luna senang. Pintu ruang baca terbuka.


"Oh, kamu sudah datang Danar." Pak Ian muncul. Danar yang tadi melihat Luna, berbalik dan memberi hormat.


"Kita akan bicara di sini. Ayo, Elio. Sudah waktunya kamu tidur," ajak Ian pada putranya.


"Nggak. Aku mau main sama Tante Luna," tolak Elio sambil mendekat pada Luna. Lalu memeluk erat kaki perempuan ini. Luna berjingkat sebentar karena terkejut. Ia menundukkan pandangan pada bocah yang merapat padanya.


"Tapi waktu buat kamu sudah habis. Ini waktunya orang dewasa, Elio," kata Ian.


"Benar, Tante Luna?" tanya bocah ini pada Luna. Rupanya ia tidak percaya pada papanya.


"Iya. Papa kamu benar. Jadi sekarang kamu tidur ya ...," kata Luna meraih lengan Elio dan melepaskan dari kakinya.


"Baiklah. Papa mau main sama Tante Luna, ya?" kata Elio polos dan tanpa maksud tertentu. Namun entah kenapa di telinga Luna, makna kalimat itu jadi konotasi. Dia langsung melebarkan mata.


"Ya," jawab Ian. "Kita kan mau lembur kerja."


Namun Luna yang berpikir negatif, segera ikut bicara. "Tidak. Tante Luna enggak main. Tante Luna mau ngobrol tentang pekerjaan sama papa kamu. Mengerjakan suatu tugas yang ada hubungannya sama perusahaan. Kerja, kerja," ralat Luna supaya kalimat itu tidak mempunyai makna konotasi.


"Tidak perlu di jelaskan sedetail itu, Lun. Anak kecil tahu kok arti main. Dia juga paham arti lembur kerja," kata Ian yang terasa menampar wajah Luna seketika. Karena apa? Karena pria itu tengah menyunggingkan senyum manis di bibirnya. Bahkan menambahkan raut wajah ekspresi penuh godaan.


Oh tidak. Jadi hanya aku yang berpikiran kotor tadi? Sepertinya dekat-dekat dengan duda tampan ini, membuat aku mesum.


Danar mengerjap. Ia melihat raut wajah penuh godaan milik atasannya dengan heran.

__ADS_1


Tidak mungkin, tepis Danar sendiri.


"Kamu antar Elio pada bibi pengasuh, lalu kamu kembali ke sini karena Danar sudah datang."


"Baik, Pak. Ayo Elio." Luna bersyukur Pak Ian menyuruhnya keluar dari ruang baca. Ia bisa bernapas normal sejenak akibat ekspresi menggoda pria itu.


"Duduklah Danar," pinta Ian. Danar mengangguk. "Kita akan menunggu Luna."


"Apa kita akan membicarakan ini dengan Luna, Pak?" tanya Danar yang menyadari bahwa keberadaan gadis itu sangat di perlukan.


"Iya."


"Apa ... fungsi dia di sini, Pak?" tanya Danar tidak mengerti. Ian belum mengatakan semuanya memang. Jadi ia mengerti pria ini menanyakan itu.


"Tentang Yuda yang bersekongkol dengan Naura untuk membuat hartaku jatuh pada mereka adalah Luna," jelas Ian.


"Namun, jika akan membicarakan musuh, bukankah lebih baik orang dalam saja atau orang kepercayaan, Pak?"


"Aku menjamin Luna dengan diriku, Danar. Aku percaya padanya," kata Ian membuat Danar terdiam.


Tok! Tok! Pintu di ketuk. Mungkin itu Luna. Saat Ian mengijinkan, perempuan itu muncul. Dari sini pandangan Danar pada perempuan ini berbeda.


Jika biasanya ia menganggap keakraban Ian pada perempuan itu adalah karena mereka adalah atasan bawahan yang sering berkomunikasi. Namun setelah mendengar bahwa Ian percaya padanya, Danar tahu ada yang lain dari cara bicara Pak Ian pada Luna.


Ada sesuatu di antara mereka, tebak Danar di dalam hati.


 


 


Puncak pesta ulang tahun perusahaan adalah hari ini.


"Luna! Luna!" teriak Bi Muti dari rumah depan.


"Ya, Bi!" sahut Luna dalam rumah.


"Lun ... Hei, kenapa kamu cantik sekali?" tanya Bi Muti terkejut. Perempuan ini sudah berdandan dengan gaun yang melekat di tubuhnya.


"Aku cantik, Bi? Oh, baguslah." Luna menggerakkan alisnya. "Ada apa bibi memanggilku?"


"Eh, itu ... Ada pria tampan di depan rumah nyari kamu."


"Pria tampan? Pak Ian?" tebak Luna salah.


"Bukan. Kenapa kalau Pak Ian? Antusias sekali ..." Bibir Bi Muti tersenyum menggoda Luna.

__ADS_1


Karena keliru, Luna memperbaiki ekspresi senangnya tadi. "Oh, enggak. Terus siapa?"


"Emm ... Siapa namanya ..." Bi Muti berusaha mengingat nama pria yang ada di depan. "Yud ..."


"Oh, Yuda?" tebak Luna dengan wajah datar.


"Bener, bener. Itu siapa?"


"Teman kantor," jawab Luna singkat.


"Teman kantor? Kok bibi baru tahu?"


"Iya." Luna berdiri dan meraih tas pesta di meja. "Aku berangkat ya, Bi. Doakan aku sukses ya?" kata Luna mengherankan.


"Kamu mau ngapain?"


"Membantu Pak Ian dalam pekerjaan. Juga membantu kehidupan percintaan ku segera dalam tahap serius," kata Luna penuh misteri.


"Kamu pacaran sama pria di depan itu?"


"Enggak. Pokoknya doakan yang baik-baik, Ya Bi?" Luna memeluk bibi Muti. Meskipun tidak paham, Bibi menyambut pelukan itu.


"Iya, Bibi selalu doakan kamu."


"Sudah ya, Bi. Aku berangkat.


Yuda duduk di kap mesin menunggu Luna.


"Aku siap. Ayo berangkat." Luna muncul membuat Yuda takjub. Bahkan pria ini masih mengamati keseluruhan tampilan Luna meskipun Luna mengajaknya berangkat. "Yud ..."


"Oh, iya." Pria itu tersenyum geli dengan dirinya yang bengong barusan. Dia memutar dan membukakan pintu untuk Luna. "Silakan masuk."


"Terima kasih," kata Luna tidak menyangka Yuda memperlakukan dirinya seperti itu. Yuda pun ikut masuk juga.


"Aku tidak pernah melihat kamu dalam balutan gaun. Kamu terlihat berbeda," kata Yuda menanggapi penampilan Luna.


"Tidak mungkin aku kerja tiap hari pakai gaun kan? Karena ini pesta, aku juga harus pakai pakaian pesta," jelas Luna tanpa menoleh. Jujur ia masih kesal jika harus ngobrol panjang dengan pria ini. Namun ia harus tetap pura-pura ramah demi mendapat kepercayaan pria ini dan bisa mendekatinya.


"Benar juga." Yuda tergelak. Luna melihat ke samping. Menatap pria ini sejenak.


Kenapa dia sampai ingin menghancurkan Pak Ian? Apakah dugaan bahwa ia mencintai istri Pak Ian adalah benar? Jangan-jangan mereka memang sepasang kekasih. Lalu Pak Ian muncul bagai orang ketiga.


Mungkin aku juga akan melakukan hal sama. Menghempas pria lain kalau pria seperti Pak Ian yang muncul. Dia kan lebih dari segalanya.


..._______...

__ADS_1



__ADS_2