
Setelah proses melahirkan yang membuat cemas, tegang dan bahagia campur jadi satu ... akhirnya lahirlah seorang putri dari rahim Luna.
"Oek ... Oek ..." Tangis bayi itu memecah ketegangan yang terus menyerang Ian.
"Selamat Pak Ian. Putri Anda sudah lahir." Dokter menunjukkan bayi yang masih penuh dengan darah sisa proses persalinan itu.
"Anak kita sudah lahir, Luna," lirih Ian. Dia mengecup kening istrinya dengan emosional. Ian sangat bahagia dan lega.
Tangis tidak bisa lagi di bendung karena haru. Luna menangis melihat sebuah nyawa telah lahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Ia menggenggam erat tangan Ian. Tak pelak lagi, Ian pun ikut meneteskan air mata haru.
Dokter langsung membawa bayi yang masih merah itu pada ibunya. Dengan bantuan dari dokter, bayi itu di letakkan pada dada ibu.
Sengaja dokter menunda waktu pertama mandi bayi setelah dilahirkan juga dapat mendukung proses inisiasi menyusui dini.
Hal ini juga dapat membuat bayi merasa aman dan nyaman.
Sedangkan bila bayi langsung dipisahkan dari ibunya untuk dimandikan, ia bisa saja merasa stres. Kondisi ini pun akan mengganggu terjalinnya ikatan awal antara bayi dengan ibu, yang sangat penting dalam proses menyusu.
__ADS_1
Bayi itu menyusu dengan lucu. Begitu menggemaskan. Luna tak henti-hentinya menitikkan air mata karena melihat bayi di dalam pelukannya.
***
Mendengar kabar proses persalinan di dalam sudah selesai, mama Ian mengucap syukur dan lega.
"Jadi, cucuku laki atau perempuan?" tanya beliau tidak sabar pada perawat. Karena tidak boleh ada orang lagi yang menemani di dalam, mama Ian belum boleh masuk.
"Perempuan Bu."
"Oh, senangnya. Cucuku lengkap. Laki dan perempuan." Mama Ian tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Danar yang juga ada di sana ikut bahagia.
"Oh, Danar. Terima kasih. Aku sangat bahagia." Senyum beliau tidak berhenti terlukis di bibirnya.
**
Setelah bayi dan ibu di bersihkan, Luna di pindah dalam ruang perawatan. Di sini mama bisa bebas melihat Luna dan cucunya. Karena Luna juga terlihat sehat dan tidak ada masalah, semua proses berjalan dengan baik.
__ADS_1
"Aduh Lihatlah, Ian. Putrimu sungguh cantik," kata mama tidak henti-hentinya memuji cucu barunya.
"Aku tahu itu. Karena Luna juga cantik, pasti putri kami juga begitu," kata Ian sambil memandang Luna dengan penuh cinta. Bibir Luna tersenyum tersipu ditatap seperti itu.
"Aduh sayang ... Ini Oma. Kamu harus ..." Mama tidak berhenti bicara meski sebenarnya bayi itu belum bisa mendengar dan melihat dengan jelas. Ian dan Luna membiarkan mama mereka mengobrol dengan putrinya yang baru saja lahir.
"Elio tidak kesini?" tanya Luna yang belum melihat batang hidung bocah itu.
"Belum. Aku masih belum memperbolehkan bibi pengasuh membawa Elio kesini. Kamu baru saja melahirkan. Belum pulih benar. Lalu mama ... Lihatlah. Mama masih fokus pada cucu barunya." Ian menunjuk mama yang menggendong putri mereka dengan antusias. Luna hanya diam sambil melihat mama.
"Ma, bisa kita bicara," kata Ian tiba-tiba saja bicara serius. Mama tidak mendengar karena sibuk bicara pada cucunya.
"Biarkan dulu. Mama lagi bahagia. Ada apa? kenapa tiba-tiba bicara serius begitu?" tanya Luna penasaran.
"Ini soal Elio," sahut Ian. Luna mengerjap.
"Kenapa?" bisik Luna.
__ADS_1
"Karena Mama terlalu bahagia, aku takut dia lupa kalau masih ada Elio," kata Ian dengan raut wajah resah.
...____...