Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 56


__ADS_3

Danar yang mencoba menekan bel dan mengetuk pintu apartemen Yuda sedikit panik karena tidak ada respon dari dalam. Jika Yuda mungkin tidak menjawab karena tidur itu wajar, tapi tidak mungkin Luna juga tidur bukan?


Luna sendiri masih terkejut karena kini keadaan langsung berubah 180 derajat.


"Katakan padanya kalau pintu macet. Tenangkan dia tanpa Danar tahu aku sudah mengetahui semuanya," perintah Yuda pelan. Luna diam. Dia sedang memikirkan sesuatu di antara rasa panik dan tegangnya. "Lakukan Luna. Aku bukan orang yang sabar," desis Yuda.


Luna mendekat pada mesin di dekat pintu. Dimana ia bisa melihat di monitor bahwa Danar sedang berada di depan pintu.


"Pintu macet Danar. Kamu tunggu aku di luar. Aku tidak apa-apa. Yuda belum bangun." Setelah mengatakan itu Luna menjauh dari pintu.


"Duduk. Jangan melakukan apapun jika kamu ingin aman. Pintu akan tetap seperti itu. Aku tidak akan membukanya," kata Yuda menunjuk pada sofa di sebelah kanan mereka. Luna harus patuh. Ia pun berjalan menuju sofa. Yuda pun melakukan hal yang sama.


"Kenapa harus mengurungku?" tanya Luna memberanikan diri. Karena sudah tertangkap basah sekalian saja nekat.


"Kamu bersekongkol dengan Ian untuk menghancurkan aku bukan?" tanya Yuda dengan mata yang tajam.


"Menghancurkan? Apa maksudmu?" tanya Luna berusaha terlihat kuat meskipun tangannya gemetar.


"Sesuatu yang kamu cari. Kamu mencari bukti agar Ian bisa menghempas ku. Jangan berpura-pura tidak mengerti Luna. Kamu sengaja mendekatiku untuk itu kan?" Meski tidak berteriak, Luna tahu pria ini sedang membentaknya.


"Aku pikir kamu salah paham, Yud. Pak Ian bukan ingin menghancurkan mu. Aku datang bukan menjadi kaki tangannya untuk menghempas mu."


"Kamu sudah di latih untuk bicara seperti itu ternyata," ujar Yuda tersenyum sinis.


"Pak Ian tidak melatihku."


"Kamu yang sengaja mendekatinya? Huh, perempuan itu sama saja. Jika ada yang tampan dan kaya, akan bergerak cepat merayunya," ejek Yuda.


"Aku juga tidak merayunya." Luna masih sempat menyangkal.


"Tutup mulutmu, Luna. Aku mengerti soal ini. Bagaimana seorang wanita itu terlena dengan ketampanan dan kekayaaan!" teriak Yuda marah.


Luna menarik napas berat. Atmosfir ruangan ini menjadi tegang.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan itu tentangku, atau kamu sedang membicarakan tentang wanita lain?" Luna yakin Yuda bukan sedang membicarakan dirinya. Yuda bungkam. "Kamu tahu aku. Meskipun sebentar kita dekat. Kamu pasti tahu aku. Jadi aku yakin kamu bukan sedang membicarakan ku. Karena aku tidak begitu."


Luna menyadari bahwa ini bukan murni karena harta kekayaan seperti yang di dengar oleh Karin. Jadi ia punya rencana lain untuk berbicara dengan Yuda. Pria yang pernah di cintainya.


Pria itu menatap Luna agak lama. Hubungan singkat yang dulu pernah ada di antara mereka, bukanlah hubungan biasa. Mereka sempat saling jatuh cinta. Bahkan Yuda sempat menyatakan cinta. Hanya saja menghilang yang tidak di ketahui alasannya.


"Kamu sedang berusaha menenangkan ku? Kamu juga mau menggodaku? Hmmm ..." Yuda tersenyum sinis. "Aku bukan Ian, Luna. Aku tidak mudah di goda olehmu."


"Apa kamu pikir Pak Ian juga mudah di goda oleh ku yang hanya karyawan ini?" dengus Luna.


Yuda membuang muka ke arah lain masih dengan senyum sinisnya.


"Untuk apa aku susah-susah menggoda mu. Aku sudah tahu jawaban hatimu yang pasti menolak ku. Aku pernah di beri harapan palsu olehmu, kamu ingat?" Luna tidak sedang bersandiwara. Dia menjadi dirinya sendiri.


Yuda ingat bahwa gadis ini pernah di khianatinya. Jadi mustahil bagi Luna untuk mau menggodanya lagi.


"Namun kamu pasti sudah menduga soal Naura yang sengaja aku persiapkan untuk menghancurkan Ian." Yuda mencondongkan tubuhnya pada Luna dengan pandangan tajam. Lalu meraih dagu Luna dan memegangnya erat.


Luna mengernyit menahan rasa sakit. Namun ia mencoba terlihat baik-baik saja.


Luna menyentuh dagu dan mengusapnya. Rasa sakit mulai makin terasa di dagunya. Luna melihat ke Yuda.


"Pak Ian tidak ada hubungannya dengan ini, Yud."


"Tidak mungkin. Dia pasti menyuruhmu mencari surat wasiat palsu yang ada di apartemen ku ini." Karena marah, Yuda mengatakan sendiri bahwa surat wasiat itu palsu.


"Kamu mengakuinya kalau itu palsu?" Luna mendapatkan jawaban.


Yuda menoleh pada Luna. "Itu kan tujuan Ian menyuruhmu datang ke sini. Bodoh. Kamu berniat mendekatinya, tapi ternyata kamu dimanfaatkannya."


"Sudah aku katakan Pak Ian tidak pernah menyuruhku mendekatimu. Justru dia tidak ingin aku mendekatimu." Luna menjeda kalimatnya. "Ini semua adalah ide ku."


"Ide mu?" tanya Yuda terkejut.

__ADS_1


"Ya. Pak Ian memang merasa ada yang janggal dengan surat wasiat itu. Dan ternyata kamu memang memanfaatkannya. Kamu ingin menguasai hartanya melalui Naura. Namun Pak Ian tidak ingin melakukan cara ini."


"Lalu kamu dengan bodoh menyerahkan diri untuk menjadi penyelamatnya?" Yuda menyeringai.


"Aku ingin tahu ada apa denganmu. Kenapa kamu sampai melakukan ini Yud?"


"Apa peduli mu? Diam dan cukup melihat saja Luna."


"Pak Ian juga sebenarnya ragu untuk melakukannya. Karena apa? Karena kamu adalah temannya. Pak Ian sepemikiran denganku yang mengenalmu. Kamu bukan orang seperti itu, Yuda." Luna berusaha membujuk.


"Kalian tahu apa tentangku?!"


"Aku tahu karena aku juga pernah mencintaimu bukan?" desak Luna. Yuda melihat Luna dengan tatapan sedih sekaligus marah.


"Bukankah aku pernah menghilang setelah menyatakan cinta padamu? Apa kamu pikir aku itu pria baik?" Yuda menggelengkan kepala heran.


"Walaupun begitu, aku yakin kali ini bukan karena kamu jahat. Pasti ada sesuatu yang membuatmu marah dan merencanakan ini. Apa kamu lakukan ini ... karena perempuan itu? Istri Pak Ian?" tanya Luna hati-hati.


Bola mata Yuda melebar.


"Tutup mulutmu. Apa yang kau tahu tentang dia? Kamu tidak tahu apa-apa." Yuda menarik lagi tangan Luna. Kali ini Luna tidak bisa menyembunyikan rasa sakit. Namun ia harus diam.


"Aku tidak tahu Yuda. Maka dari itu aku ingin tahu. Karena aku tidak ingin kamu menjadi orang jahat. Mencintai orang dengan sepenuh hati itu tidak jahat, tapi hingga terobsesi dan menjadi dendam seperti ini adalah kejahatan," kata Luna sedikit kesulitan bicara karena Yuda menekan pergelangan tangannya.


Yuda menghempaskan tubuh Luna hingga gadis ini terhempas di sofa.


"Kamu tidak tahu Luna. Kamu tidak tahu kalau ... " Yuda tidak meneruskan kalimatnya. Luna yang meringis di sofa berusaha mendengarkan. "Arggh!!"


Pyaar!!


Yuda melempar pot di meja dengan kesal dan marah yang sejak tadi berusaha ia tahan. Luna menutup mata guna meredam suara yang memekakkan telinga.


..._____...

__ADS_1



..._____...


__ADS_2