
Yuda berdiri di depan pintu dengan menundukkan kepala. Ia ingin masuk tadi, tapi urung setelah melihat ada mama Ian di dalam sana. Dari pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia tahu dia harus menghentikan kakinya untuk masuk. Percakapan mereka terdengar.
Beberapa saat yang lalu Ia bicara padanya.
Yuda tidak mengerti ketika Ian mengajaknya ke ujung lorong yang sepi.
"Sebenarnya kita mau apa, Ian? Kenapa kamu membawaku kesini?" Yuda memastikan sekeliling. Mereka benar-benar berada di lorong rumah sakit yang sunyi.
"Aku ingin bicara dengan mu," sahut Ian.
"Jika hanya bicara, bukannya kita bisa bicara di depan pintu kamar perawatan tadi?" Yuda menunjuk tempat mereka berada tadi.
"Tidak. Karena ini pembicaraan yang sensitif," kata Ian. Yuda menautkan kedua alisnya dengan mata menyipit.
"Soal apa itu?" tanya Yuda.
__ADS_1
"Mama tahu soal siapa Elio sebenarnya," kata Ian. Dia yang tadinya melihat keluar jendela kini, menatap Yuda.
"Benarkah?" tanya Yuda tercekat mendengar kabar itu. "La-lalu gimana mama kamu?"
"Mama pingsan karena sempat berdebat soal siapa Elio denganku," jawab Ian dengan wajah khawatir yang kentara. Keduanya diam sejenak.
"Maafkan aku, Ian." Yuda mengatakan itu dengan tulus. Ian melirik.
"Meski tidak berguna, terima kasih." Ian berkata dengan dingin. Saat ini dia mungkin sedang marah. Marah pada Yuda dan istrinya yang punya skandal di belakangnya. Marah pada dirinya yang tetap mencintai Mina yang ternyata tidak setia. Pun marah karena dia masih menerima buah hati mereka berdua yang menusuk dari belakang.
Keduanya terdiam lagi.
"Apa aku menyuruhmu untuk menghilang?" tanya Ian dengan sudut mata yang meruncing.
"Tidak, tapi aku harus tahu diri. Jika semua keluarga tahu tentang Elio dan aku punya hubungan darah, aku pantasnya tidak muncul di depan kalian." Yuda menjelaskan alasannya.
__ADS_1
"Karena semuanya tahu, lebih baik justru kamu tidak menghilang. Karena kamu terlihat kabur setelah melakukan kesalahan. Itu pengecut, Yuda." Lidah Ian terdengar tajam saat bicara. Pria ini menahan diri untuk amarah yang menggelegak si dada.
Yuda tidak menampik makian Ian padanya. Dia diam mendengarkan dan menerima semua kata-kata Ian dengan lapang dada. Dia telah berbuat salah, jadi inilah konsekuensinya.
"Tetap di sini jadi pengacaraku. Karena jika Elio besar nanti, dia harus tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Aku tidak bisa memberitahunya jika kamu menghilang tanpa jejak. Juga, kamu juga wajib memantau bocah itu meskipun hanya dengan diam."
Yuda mendengarkan dengan baik kata perkata dari ketika Ian bicara.
Setelah mengatakan hal ini, Ian menghela napas.
"Lalu bagaimana dengan mama kamu? Apa dia akan menerima Elio tetap menjadi cucunya?" tanya Yuda cemas.
"Aku masih belum bisa memastikan sikap mama nantinya karena saat ini beliau belum siuman. Namun aku harap, beliau tetap bersikap seperti biasa," harap Ian.
"Aku berharap yang sama," lirih Yuda.
__ADS_1
Ian mengusap wajahnya. Kemudian memijit lehernya yang kaku. Beban menyimpan rahasia besar ini mungkin tidak ada, kini berganti dengan beban yang lainnya. Ian memikirkan keadaan Elio, juga harus memikirkan mamanya. Pundaknya makin berat.
...____...