Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 55


__ADS_3

Yuda mengawasi Luna yang melintas di depannya barusan. Akhirnya kaki gadis itu sudah berada di luar ruangan.


"Oh, ya. Aku pinjam kamar mandi kamu." Luna mencari tempat aman untuk dirinya. Ia ingin menghubungi Ian atau Danar. Pintu keluar jauh dari tempatnya.


"Kamar mandinya berada di dekat kamarku yang tadi." Yuda menunjuk ruang kecil yang berada tidak jauh dari kamar tidur tempat Yuda berbaring tadi.


Luna bergegas menuju ke kamar mandi setelah meminta ijin.


"Oh, tidak. Aku harus segera menelepon Danar." Luna yang sudah masuk ke dalam kamar mandi langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tas pestanya yang masih berada di tangannya. Rasa panik dan tegang yang muncul di luar tadi kini tertumpah semua.


BIP.


"Tidak. Handphone ku mati." Luna meringis melihat ponselnya yang menggelap. Rasa panik dan tenaga kembali menyerang. "Bagaimana ini ..." Luna mengigit bibirnya sendiri. "Apakah Danar belum datang?"


Luna memilih berpikir keras di dalam kamar mandi.


"Oke. Tenang. Aku harus bersikap tenang. Aku akan meminta ijin pulang untuk menyusul Danar di bawah. Baik. Seperti itu juga akan aman. Benar. Aku harus tenang." Luna mengambil napas panjang lalu menghempasnya perlahan.


Luna sudah siap. Ia membuka pintu kamar mandi. Namun dia dibuat terkejut karena ada Yuda di dekat pintu.


"Oh, kamu bikin kaget." Luna jujur soal ini.


"Jadi ... yang kamu cari tidak ketemu?" tanya Yuda. Luna yang menatap Yuda.


"Apa maksudmu?" tanya Luna sambil berlalu.


"Aku tahu kalian sedang mencari sesuatu di sini," kata Yuda masih bersandar di dinding kamar mandi.


Mendengar kalimat Yuda, tubuh Luna kembali menegang. Kakinya berhenti bergerak. Pria ini bukan hanya menebak. Dia tahu sesuatu. Melihat Luna yang membeku, Yuda mendekat. Lalu mencondongkan tubuhnya sambil berbisik di dekat telinga Luna, dari belakang punggungnya.


"Aku tahu apa yang kalian lakukan, Luna ..." bisik Yuda makin membuat Luna tidak bisa berbuat apa-apa.


Sebelum Yuda menemukan Luna di ruang bacanya.

__ADS_1


Melihat gelagat Ian dan Luna di pesta, Yuda merasa ada yang aneh. Dia mengenal Luna meskipun kurang memahaminya. Gadis ini tampak berusaha tidak peduli sambil terus mengawasi Ian. Pun itu juga yang terjadi pada Ian. Mereka saling memperlihatkan ketidakpedulian pada satu sama yang lain, tapi mereka tetap mencoba mengawasi.


Yuda menemukan mata merah marah milik Ian saat ia memegang tangan Luna. Meskipun dia tahu bahwa mereka adalah karyawan di satu perusahaan, tapi ekspresi tadi bukan ditujukan untuk seorang atasan pada bawahannya.


Mata itu sedang menunjukkan bahwa gadis ini bukan sekedar karyawan biasa untuknya. Yuda menemukan itu tanpa berusaha menunjukkan pada mereka.


Sambil membiarkan mereka bergerak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, Yuda mencoba berpikir keras. Ada apa sebenarnya?


Dia perlu menyegarkan pikiran dengan beberapa gelas minuman beralkohol. Dari sana tanpa sadar Yuda menemukan bukti bahwa ketiga orang ini sedang melakukan suatu rencana.


Bel pintu apartemen berbunyi. Luna yakin itu pasti Danar. Namun ia tidak bisa bergerak bebas. Tatapan Yuda seakan mengunci gerakannya.


"Itu pasti Danar. Dia pasti kelimpungan kalau pintu itu tidak bisa di buka," kata Yuda dengan wajah tenang


"Aku akan membukanya. Karena ia pasti menjemput ku," kata Luna mencoba bersikap seperti tidak ada apa-apa. Dia berjalan dengan santai. Yuda tidak mengikutinya. Seakan sudah tahu kalau pintu tidak akan bisa di buka.


Luna mencoba membuka pintu. Namun pintu itu sulit


"Pintu itu tidak akan bisa di buka, Luna." Yuda mengatakan itu dengan tekanan bahwa Luna tidak bisa melakukan apa-apa. Luna menelan ludah karena was-was.


"Begitulah ... Aku tidak ingin membuka pintu untuk kamu ataupun Danar," kata Yuda mulai mendekati Luna.


"A-pa maksud kamu?" Luna mulai gugup. Dia tidak bisa lagi bersikap tenang. Situasi ini gawat.


"Kamu tahu maksudku, Luna." Yuda kini berdiri di dekat gadis ini. "Aku sedang mengurung mu sekarang," desis Yuda membuat Luna melebarkan mata.


**


Di rumah Naura.


Setelah mengantar Naura sampai pintu rumah, Ian langsung berpamitan untuk pulang. Namun perempuan ini mencegahnya.


"Tunggu sebentar di sini, Ian," pinta Naura.

__ADS_1


"Kenapa harus tunggu di sini?" tanya Ian kesal. "Aku punya urusan penting, Naura. Jadi aku tidak bisa tetap di sini." Ian hendak melangkah keluar dari pintu. namun perempuan ini menahan tubuh Ian agar tidak keluar dari rumahnya.


"Sejak tadi kamu mengabaikan aku di pesta. Jadi apa kamu tidak ingin menemaniku sebentar saja?" Naura merajuk. Ian diam. Naura membentuk eskpresi manja.


"Tidak. Aku harus pergi Naura." Ian memaksa untuk tetap pergi. Dalam pikirannya hanya ada Luna di sana. Namun Naura punya cara untuk menahan pria ini pergi. Kunci mobil dan ponsel sudah ia sita. Ia mengambilnya saat mencegah Ian pulang. Ternyata tangannya tangkas juga. Mirip pencuri.


"Kamu tidak akan bisa pergi jika ini ada padaku," kata Naura memamerkan dua benda itu pada Ian. Pria ini mencoba merampas dari tangan Naura, tapi sayang ... perempuan ini sudah berhasil menarik benda itu dan menjauhkan dari Ian.


Naura masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan dua benda itu dengan baik. Ian menyusul dengan maksud merebut dari tangan Naura.


Tiba di dalam kamar, perempuan ini duduk di atas ranjang dengan pose provokatif.


"Kembalikan kunci dan handphone ku, Naura," pinta Ian menahan marah.


"Tidak. Aku ingin kamu tetap di sini menemaniku."


"Aku punya banyak urusan daripada bermain-main seperti ini," kata Ian.


"Urusan? Setelah pesta perusahaan selesai, apa lagi urusan penting kamu Ian?" Dengan berbicara, Naura sengaja memainkan jarinya guna mengelus kulit mulus lengan dan pundaknya sendiri. Naura sengaja menggoda Ian.


"Aku tidak harus memberitahumu. Tidak ada kewajiban untuk mengatakan apa yang akan aku lakukan sebentar lagi, padamu Naura."


"Apa itu dia? Karyawanmu itu?" tanya Naura dengan mata menyipit. Ian menatap perempuan ini dengan tajam.


"Cepat berikan kunci mobil dan handphoneku, Naura." Ian mulai hilang kesabaran. Naura datang mendekat dan mengelus pundak Ian sambil berbisik.


"Oh, maaf Ian. Aku lupa dimana aku meletakkannya tadi. Coba saja kamu mencarinya sendiri di dalam kamar ini." Naura melebarkan lengannya dan mempersembahkan kamarnya dengan tingkah yang menyebalkan.


"Kamu ...," desis Ian kesal. Ia harus segera kembali. Jadi ia harus keluar dari kamar ini secepatnya.


"Minggir," desis Ian seraya mendorong tubuh Naura ke samping karena menghalangi jalannya. Ian berusaha mencari dengan seksama kunci mobil dan ponselnya. Dia harus segera menemui Luna.


...____...

__ADS_1



__ADS_2