
"Anda tahu?" tanya Ian tidak percaya.
"Tidak, tapi melihat Anda yang gelisah ... saya pikir pasti ada hubungannya dengan istri Anda. Kemungkinan besar yang bisa menganggu Anda adalah ... istri Anda tengah melahirkan sekarang," ujar pria itu tanpa menunjukkan bahwa dia dia sok tahu.
"Maafkan saya," ucap Ian langsung merasa tidak profesional.
"Tidak apa-apa. Wajar saja Anda cemas." Pria ini begitu bijaksana. "Perjanjian ini memang penting, tapi sepertinya ... saya harus bisa memberi sedikit kelonggaran pada Anda."
"Maksud Anda?" tanya Ian cemas perjanjian ini bakal gagal karena sikapnya. "Anda akan membatalkan perjanjian ini?" Ian panik.
"Bukan, bukan. Saya hanya ingin memberi Anda waktu pulang lebih cepat," kata pria itu segera mengkoreksi.
"Jadi Anda ..."
"Saya akan menandatangani perjanjian ini dan mempersilakan Anda segera berangkat menuju rumah sakit," ucap pria itu melanjutkan dengan senyum wibawa yang kental.
"Terima kasih banyak. Maafkan saya tidak bisa menyambut Anda dengan baik dan benar," kata Ian membungkukkan badannya sedikit.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Saya mengerti bagaimana kita begitu gelisah ketika istri dalam masa mau melahirkan."
Pertemuan ini pun sukses meskipun harus di akhiri dengan cepat. Ian meninggalkan pria pemilik perusahaan textil itu dalam duduknya.
"Dugaan mu benar. Dia gelisah karena istrinya mau melahirkan, Fikar ..." Pria ini menatap punggung Ian yang masih tampak dari dalam restoran yang tepat berada di jalan utama ini. Pria di sampingnya mengangguk puas. "Kita pulang Fikar. Sepertinya aku tidak kembali ke kantor. Aku akan pulang. Kamu bisa kembali setelah mengantarkan aku," kata pria ini pada orang kepercayaannya. "Aku rindu istriku."
***
Ian datang dengan tergesa-gesa. Saat itu di dalam ruang bersalin, dokter dan perawat sudah memakai sarung tangan baru. Mereka siap menangani proses melahirkan Luna.
"Di dalam sedang ada dokter menangani persalinan, Pak," cegah perawat yang keluar dari ruang bersalin.
"Biarkan dia masuk. Saya akan keluar," kata mama yang sudah di beri tahu sebelumnya kalau Ian bakal datang.
"Oh, maaf." Perawat itu menundukkan kepala meminta maaf.
"Cepat masuklah." Mama langsung keluar untuk berganti posisi dengan Ian. Pria ini langsung masuk dengan cepat.
__ADS_1
"Saya datang, Dok," ujar Ian menyapa. Dokter menoleh.
"Oh, Pak Ian Anda datang."
Mendengar nama Ian, Luna mengerjapkan mata. Tanpa bicara pun Ian tahu bahwa perempuan itu begitu bahagia dengan kedatangannya. Ian mendekat sambil tersenyum.
"Aku datang sayang ...," bisik Ian seraya mengecup kening istrinya. Sekarang wajah Luna penuh peluh dan pucat.
"Nyonya sudah pembukaan delapan. Sebentar lagi nyonya akan melahirkan. Menunggu pembukaan sepuluh. Setelah itu Anda bisa mengejan," kata dokter memberi penjelasan.
"Sekarang saja Dok," kata Luna dengan suara lelah.
"Apa nyonya sudah siap mengejan sekarang?" tanya Dokter. Luna mengangguk. Ian hanya melihat saja. Dia tidak mengerti. "Baiklah. Saya dan perawat juga siap. Baiklah. Ambil napas dulu lalu mengejan. Ya, benar begitu."
Meskipun ini pertama kalinya Luna melahirkan, cara mengejan Luna sudah benar. Itu membuat bayi keluar dari mulut rahim dengan cepat.
Ini juga bukan pertama kalinya Ian menemani istri melahirkan. Namun jika mengingat lagi siapa sebenarnya janin yang di kandung Mina waktu itu, sikap Ian semua seakan hanya tameng untuk melindungi hatinya yang sakit. Ia tidak benar-benar bahagia waktu itu. Berbeda dengan sekarang.
__ADS_1
...____...