
"Untuk Luna, mama yakin kamu begitu mencintainya sampai dia bisa muncul di depan rumah, tapi mama juga ingin tahu bagaimana sebenarnya gadis itu. Apalagi dia itu ternyata bawahan mu di kantor. Mama takut dia hanya merayu mu saja. Jadi mama sempat ingin mengujinya," kata mama mengatakan bagaimana dia pertama bertemu dengan istrinya.
Ian tersenyum. "Kalau sekarang?"
"Mama yakin dia gadis yang baik. Juga perempuan yang tepat untuk kamu," kata Mama tersenyum ketika mengatakannya. Ian ikut tersenyum.
Dari tempat bermain, Elio berlari ke arah Ian dan Oma sambil tertawa. Luna menyusul di belakangnya.
"Kamu sudah ninggalin mama ya ..." Luna berpura-pura marah sambil mencubit lembut pipi bocah itu. Elio tertawa karena berhasil meninggalkan mamanya.
"Sudah mainnya?" tanya Oma.
"Belum Oma, tapi aku mau makan dulu," kata Elio.
"Katanya lapar, Ma. Jadi maunya makan dulu sebelum lanjut ke yang lain," kata Luna.
"Ohhh ... lapar? Ayo mau pesan apa?" Mama menunjukkan menu pada Elio sambil menjelaskan makanan apa yang ada di menu itu. Bocah itu pun serius mendengarkan. Setelah itu ia menunjuk pada makanan yang ia mau.
"Istriku bersemangat sekali," kata Ian sambil mengusap kening Luna. Perempuan ini malah menutup mata saat suaminya merapikan anak rambut.
"Ya. Aku harus bisa mengimbangi Elio yang punya banyak tenaga," ujar Luna.
__ADS_1
"Aku jadi punya dua bocah," kelakar Ian sambil tersenyum. Luna ikut tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Setelah makan, kita main lagi ya Ma," pinta Elio saat menunggu makanan tiba.
"Iya. Makan dengan tenang saja. Nanti kita main lagi, oke?" tanya Luna. Elio mengangguk senang.
"Kamu juga harus makan dengan tenang kalau mau menemani Elio main lagi," nasehat Ian. Luna mengangguk.
"Mama enggak ingin ikut main juga nanti?" tawar Luna.
"Hhh ... kalau sudah tua begini, mana bisa ikut main seperti kamu yang masih muda," kata mama.
***
Setelah puas bermain, makan dan minum, mereka memilih pulang. Apalagi Elio mengeluh capek. Mereka melangkah menuju ke area parkir. Meskipun bilang capek, tapi tetap saja bocah itu tidak bisa diam. Ada saja kelakuannya di jalan.
"Tenaga Elio memang tidak ada matinya. Lihatlah ... meski bilang capek, bocah itu masih bisa berlarian," kata Mama yang berjalan dengan Luna di sampingnya.
Bibir Luna tersenyum melihat tingkah bocah itu.
"Benar. Enak sekali jadi bocah ya, Ma," ujar Luna sembari menggandeng tangan mertuanya.
__ADS_1
"Kamu juga kan sudah jadi bocah kalau sama suami mu," sindir mama dengan bercanda.
"Ah, mama ini ..." Luna jadi malu.
"Tapi lihat saja nanti. Ian itu sepertinya berpotensi jadi bocah besar juga," kata mama sambil menoleh pada Ian yang sedang bersama Elio.
"Benarkah, Ma?" tanya Luna sambil tersenyum.
"Elio, berhenti!" teriak Ian mengejutkan.
Duk!
Bocah itu terpental tidak jauh dan tergeletak di atas tanah. Mama dan Luna yang menoleh ke arah mereka membeku sejenak sambil melebarkan mata.
Rupanya ada sebuah mobil tidak sengaja menabrak bocah itu.
"Elioooo!!!!" teriak mama dan Luna hampir bersamaan. Mereka pun berlari menuju tempat Ian.
Pengemudi mobil yang menabrak keluar dari mobil setelah tahu bocah tadi terpental.
...____...
__ADS_1