
Luna ingin pergi, tapi Ian menahan tangannya.
"Duduklah. Toh semuanya sudah tahu kita adalah sepasang kekasih," kata Ian. Akhirnya Luna memilih duduk lagi. Karin menyenggol lengannya sambil tersenyum menggoda. Luna berdecak. Kedepannya ia merasa tidak tenang jika ketemu semua karyawan. Kepalanya menunduk menghindari tatapan orang-orang.
"Aku ingin bicara denganmu," kata Naura yang tidak lagi bermanja-manja pada Ian. Ia menepati janji untuk tidak mengusik.
"Jika ada perlu selain bukan pekerjaan, aku menolak," tegas Ian.
"Aku tahu. Aku mengerti kamu takut Luna cemburu," kata Naura. Mereka berdua sungguh berterus terang. "Ini soal pekerjaan."
"Kalau begitu tunggu aku selesai makan. Ini masih jam makan siang ku." Ian melihat ke arah arlojinya.
"Oke, aku tunggu."
"Kamu bisa menunggu di ruangan ku dengan Danar. Sepertinya dia sudah selesai makan," kata Ian seraya melongok ke arah Danar yang memang sudah selesai makan karena tidak terlalu mempedulikan drama tadi.
"Baik Pak," jawab Danar. Naura menoleh pada Danar sebentar.
"Baiklah. Aku tunggu di sana, Ian. Aku pergi Luna," sapa Naura menepuk punggung Luna pelan. Setelah Ian menegaskan bahwa dia dan Luna ada hubungan asmara, Naura mulai bersikap ramah pada gadis itu. Karena ia takut pada Ian yang akan menghancurkannya.
***
Saat mengantar pulang Luna, gadis itu sering banyak diam.
"Kenapa banyak diam? Kamu marah?" tanya Ian.
"Tidak."
"Jangan bilang karena Naura di kantin tadi," tebak Ian setengah geli.
"Pak Ian ..."
"My lovely," ralat Ian. "Jangan panggil Pak Lagi."
"Tidak. Aku tidak mau memanggil dengan itu," tandas Luna. Ian menoleh cepat.
"Lalu?"
Luna diam.
"Baiklah. Kamu pasti marah soal di kantin. Kenapa?" tanya Ian.
__ADS_1
"Aku takut semua orang akan berpikir aku menggoda Pak Ian untuk jadi kekasih ku," kata Luna cemas.
"Bukannya kamu memang menggoda ku, Luna. Aku tergoda olehmu jadi aku ingin jadi kekasihmu," jawab Ian jenaka. Luna menekuk bibirnya.
"Kapan aku menggoda ... Pak Ian yang menggoda ku," dengus Luna. Mobil berhenti mendadak. Ian pun mencium bibir Luna tanpa aba-aba. "Pak Ian ..."
"Sayang. Panggil aku sayang," kata Ian sambil memegang pipi Luna. Blush! Pipi Luna merah. Ia menunduk. Ian mengangkat dagu Luna untuk sejajar menatapnya. "Terserah apa yang di katakan semua orang di perusahaan. Aku yang mencintaimu lebih dulu. Aku yang tertarik denganmu."
"Aku tahu tapi ..."
"Tidak ada kata tapi. Karena aku memang atasanmu, jadi biasakan dirimu untuk menerima perhatian dari mereka yang begitu penasaran dengan hubungan kita," yakin Ian agar Luna tidak cemas.
Gadis ini benar-benar di buat melenyot dengan tatapan hangat Pak Ian.
"Baiklah," sahut Luna. Cup. Ian mengecup bibir Luna lagi. Hanya sebentar. Namun mampu membuat hanyut perasaan Luna.
Ini begitu indah! Bagus. Kisah cintaku berjalan lancar dan baik. Sepertinya aku memakai semua keberuntunganku dalam hidup untuk hubungan ini.
Mobil pun melaju lagi menuju rumah Bi Muti.
Melihat Ian muncul Bi Muti langsung menyambutnya dengan antusias. "Enggak mampir dulu, Pak?" tawar Bi Muti.
"Tidak, Bi. Luna sepertinya ingin istirahat," tolak Ian sopan. "Aku pulang Luna."
"Saya pulang Bi."
"Iya, iya. Hati-hati di jalan ya ...," kata Bi Muti. Ian mengangguk. Setelah kepergian Ian, Bi Muti langsung mengikuti Luna masuk ke dalam dari belakang. "Kalian sudah resmi jadi sepasang kekasih ya ..."
"Iya."
"Lalu model yang jadi kekasihnya Pak Ian kemana?" tanya Bi Muti yang memang masih belum mengetahui semuanya. Termasuk soal dirinya yang sempat di kurung Yuda.
"Ada. Mereka sudah putus. Karena sebenarnya wanita itu tidak mencintai Ian," jelas Luna.
"Maksudnya?" tanya Bi Muti penasaran. Luna akhirnya menceritakan rencana jahat Yuda dan Naura. Juga termasuk soal dia melakukan sandiwara konyol yang membahayakan. "Jadi pria yang bersama kamu saat mau ke pesta itu?" Bi Muti terkejut.
"Ya," sahut Luna sambil mengangguk.
"Kamu dan Pak Ian bersekongkol untuk membohongi Bibi ya ..." Bi Muti sadar sudah di bohongi mereka.
"Maafin Luna," kata Luna merajuk.
__ADS_1
"Kalau tahu begitu, Bibi tidak akan mengijinkan mu pergi dengannya," kata Bi Muti geram.
"Tidak, tidak. Itu sudah takdir. Karena dari sana semuanya terungkap. Termasuk Elio yang ternyata bukan putra Pak Ian."
"Apa?!" Bi Muti sangat terkejut.
"Ya. Aku juga sempat terkejut."
"Jadi ... siapa ayah Elio?" tanya bibi belum paham. "Jangan-jangan ..." Bi Muti mendapat satu kandidat. "Yuda itu?" tebak Bi Muti dengan wajah horor.
"Ya. Dia ayah biologis Elio," ungkap Luna. Bi Muti langsung menutup mulutnya yang membuka lebar karena saking terkejutnya.
***
Ini hari libur. Luna berinisiatif bertamu ke rumah Pak Ian. Dia membawa kue kesukaan Elio dan kesana tanpa memberitahu. Maksudnya membuat surprise. Namun saat ia sudah sampai di depan pintu rumah Pak Ian, ia bertemu seseorang yang sama sekali belum pernah ia temui.
"S-selamat siang. Pak Ian ada?" tanya Luna entah kenapa jadi gugup sekali saat kedua mata dari balik kacamata itu menatapnya tajam.
"Selamat siang. Ian? Kamu Naura?" tanya perempuan paruh baya itu seraya memperhatikan Luna dari atas ke bawah. Deg! Luna merasakan kekhawatiran yang besar.
"B-bukan," jawab Luna gugup.
"Oh, Non Luna," kata bibi pengurus rumah yang melihat Luna.
"Luna? Kamu kenal?" tanya ibu itu pada bibi. Kepala bibi pengurus mengangguk. "Siapa gadis ini?" tanya ibu. Bibi pengurus terkejut. Dia menoleh pada Luna sebelum menjawab. Ada rasa takut pada bibi itu untuk mengungkap siapa Luna.
"Saya Luna. Saya dari perusahaan," sahut Luna akhirnya. Dia tidak mau mengatakan bahwa dia kekasih Ian. Karena firasatnya mengatakan bahwa ini berbahaya.
"Oh, karyawan Ian?" potong ibu. Luna mengangguk. "Ada, tapi ada perlu apa?" tanya beliau belum ingin mempersilakan Luna masuk ke dalam rumah.
Luna kebingungan mencari alasan. Karena sebenarnya tidak ada alasan khusus datang ke rumah ini. Hanya sekedar berkunjung saja.
Jika biasanya Luna bisa bersikap tenang dan bicara dengan lugas, entah kenapa sekarang dia tidak bisa berkutik. Lidahnya pun kelu tidak mudah mengatakan banyak kata.
"Ini kan hari libur. Masa libur juga harus bekerja?" tanya ibu itu rinci. "Bukankah harusnya libur itu istirahat?"
Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, rapal Luna panik dan putus asa. Aku harus menjawab apa? Aku jadi takut nih. Bibi pengurus di belakang ibu yang lebih mirip nyonya besar ini menunduk. Beliau ikut takut juga.
"Oh, Luna! Kenapa berdiri di depan pintu?" tanya Ian yang melintas di ruang tamu. Perempuan paruh baya dan bibi menoleh. "Kenapa dia tidak di suruh masuk, Ma?" Ian terlihat cemas.
Ma? Mama?!
__ADS_1
..._______...