
"Hhh ... Ya. Tante Luna memang marah sekarang," ujar Luna jujur.
"Kenapa?" tanya Elio. Luna tidak sanggup mengatakannya. Ia marah dan kesal. "Oh, ya kenapa Papa memakai baju itu?" tunjuk Elio tiba-tiba. Semua melihat ke arah Ian.
Ya. Pria itu masih memakai jas hitam untuk menikah. Bocah itu sesaat lupa kalau akan ada pesta pernikahan orangtuanya.
"Papa Ian mau menjadikan Tante Luna mama kamu, Elio," ujar Yuda menepuk punggung bocah ini. "Mereka kan mau menikah. Namun sepertinya sedikit ada masalah. Jadi mereka belum tuntas menyelesaikan pesta pernikahannya." Yuda menjelaskan dengan senyum.
Elio melihat ke sekitar. Menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana. Papa Ian, Yuda, Danar dan terakhir Tante Luna.
"Apa itu karena Elio?" tanya bocah ini dengan wajah mendadak merebak merah dan sedih. Matanya berkaca-kaca. Luna tidak tega.
"Bukan," jawab Ian tidak ingin putranya tahu kalau dia penyebab drama ini terjadi.
"P-pasti karena Elio memaksa ingin bertemu mama. J-jadi ... jadi Tante Luna dan papa ... Hwaaaaaa!!!!" Elio dengan menangis keras setelah bicara dengan terbata-bata.
__ADS_1
Luna langsung memeluk bocah itu. Dia kebingungan juga melihat bocah kriwil ini menangis histeris.
"Hwaaaa!!!" Saat di peluk, Elio makin menangis menjadi. Luna pun ikut berkaca-kaca. Suasana pun menjadi haru Semua terdiam di iringi oleh tangisan bocah kecil yang memilukan.
Setelah agak lama tangisan bocah itu terdengar, kini tangisan itu mereda. Yuda dan Danar menjauh dari mereka sejenak.
"M-maafkan E-elio Tante, Papa. Elio ... sudah membuat Tante tidak jadi menikah dengan papa," kata Elio polos. Elio menatap Luna dengan wajah bersalah dan sedih. Itu menusuk hati Luna.
"Papa tetap akan menikah dengan Tante Luna, Elio," jawab Ian dengan cepat. Luna melirik tajam ke pria ini. Ian rela di perlakukan seperti itu.
"Iya. Papa tidak bisa melepaskan Tante Luna. Hanya Tante Luna yang pantas jadi istri Papa, juga jadi mama kamu," jelas Ian.
Elio melihat ke Luna dengan wajah berseri-seri. Luna tersenyum tipis.
"Tante bisa masih bisa menikah dengan papa?" tanya Elio. Ian mengangguk. "Aku senang!" Elio langsung memeluk Luna dengan erat. Luna tersenyum tipis menanggapi. Lalu menepuk punggung bocah ini pelan.
__ADS_1
"Kita kembali Luna?" tanya Ian takut-takut.
"Huh." Luna melengos. Ian mengerti. Namun dia tetap jalan kembali ke area parkir. Luna berjalan lebih dulu meninggalkan Ian di belakangnya.
Danar dan Yuda melihat mereka muncul. Yuda melambaikan tangan pada Elio yang tersenyum padanya.
"Jadi Elio rindu sama mama, makanya om Yuda mengajak ke sini?" tanya Luna saat mereka berjalan beriringan. Sekarang mereka sudah sampai di tempat Yuda dan Danar yang bersandar pada mobil Yuda.
"Ya. Soalnya kata Tante Naura, Elio harus minta ijin dulu sama mama kalau mau menjadikan Tante Luna itu mama baru Elio. Kalau tidak, Tante Luna akan di ajak mama. Aku tidak mau Tante Luna menghilang karena di ajak sama mama. Jadi aku mau ketemu mama dulu sebelum Tante Luna jadi mama baru Elio," jelas Elio polos begitu mengejutkan.
"Tante Naura?" tanya Luna tidak menduga. Bocah ini mengangguk. Semua yang ada di sana mendengar langsung apa yang di katakan bocah ini barusan. Mereka terkejut.
"Jadi Elio ingin bertemu mama karena Tante Naura?" tanya Yuda ingin lebih jelas.
"Ya," sahut Elio.
__ADS_1
...______...