Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 57


__ADS_3

Setelah menutup mata, Luna mencoba membuka mata perlahan. Yuda berdiri dengan napas naik turun. Pria itu tengah menunjukkan marahnya yang tertahan. Mungkin karena dia Luna. Gadis yang sempat ada cerita sedikit spesial dengannya, jadi pria ini menahan diri.


"Tidak akan ada yang tahu rasa sakit ini Luna. Bahkan kamu pun tidak akan mengerti." Yuda bicara dengan melebarkan mata. Rasa sedih dan terluka sangat terlihat di dalam matanya.


"Aku pasti tidak mengerti Yuda. Karena aku tidak pernah berpikir buruk dengan rasa sakit yang aku alami." Luna menelan ludah. Meskipun bisa bicara dengan lancar, tapi rasa takut tetap menyerangnya. "Aku tidak ingin sakit hatiku membuatku terpuruk."


"Mudah sekali untuk bicara, tapi ketika kau sendiri mengalami apa yang aku alami ... teori mu akan hancur," desis Yuda mencemooh.


Meski tidak berhasil membujuk pria ini, setidaknya Luna bisa bersyukur bahwa ia tidak di pukul atau di hancurkan seperti vas bunga yang hancur berantakan di lantai itu.


"Padahal Mina masih baik-baik saja dan mau menemuiku meski sudah menjadi istri Ian. Aku mengerti karena dia di jodohkan oleh orang tuanya. Kita tetap melanjutkan hubungan asmara ini karena hatinya untukku, Lun. Namun tiba-tiba, dia menjadi dingin dan tidak ingin menemuiku. Bahkan dia meninggal sebelum aku mendengar penjelasan tentang itu. " Yuda bercerita tentang dirinya dengan mudah.


Aku harus bisa mengambil hatinya. Jika dia di perhatikan dengan lembut, mungkin dia bisa tenang dan mengeluarkan aku dari sini. Luna langsung mendapat Ilham untuk melakukannya.


"Bisa aku ambilkan kamu minum? Sepertinya kamu butuh air untuk sedikit menenangkan mu," kata Luna membuat Yuda uang tadinya melihat ke arah lain, menengok cepat dengan alis menyatu. "Tidak. Aku bukan sedang melakukan trik untuk kabur atau semacamnya. Kamu bisa cerita banyak soal perempuan itu setelah meneguk air." Luna yakin dia seperti orang bodoh yang sengaja bertingkah di depan orang yang sedang marah besar.


Sorot mata Yuda terlihat tajam dan ingin mengulitinya. Luna menelan ludah. Kenapa mulutnya lagi-lagi bicara semaunya saat terdesak seperti ini. Dia bukan Pak Ian yang sepertinya menyukai caranya bicara yang terbuka dan apa adanya seperti ini. Namun dia Yuda, pria yang sedang kalut karena cintanya yang hilang.


"Kamu sangat ketakutan bukan? Sampai-sampai kamu mau mendengarkan aku ..." tanya Yuda meremehkan. Pertanyaan ini memang mengejutkan.


"T-tentu saja. Kamu b-bilang mengurungku. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain mendengarkan mu." Luna mengaku. Yuda mendengus. Sepertinya marahnya mulai menurun. "Aku ambilkan air?" tawar Luna lagi.


"Terserah."


"Baik. Aku akan mengambilkan air." Luna beranjak dari duduknya dan menuju pantry. Ia mengambil segelas air dan meminumnya. Baru setelah itu mengambilkan minum untuk Yuda. "Minumlah." Luna menyodorkan gelas pada Yuda yang sudah duduk di sofa.


Yuda menyahut tanpa bicara. Lalu meneguknya dengan cepat.

__ADS_1


Menurut Luna, Yuda mungkin butuh orang yang mau mendengarkan dan mempercayainya. Kini Luna sudah ikut duduk di depan Yuda.


"Kamu bisa cerita soal Mina." Luna bisa menghapal dengan cepat nama istri Pak Ian itu.


"Kamu ingin membujukku?" Yuda menunjukkan raut wajah menakutkan lagi. Luna menelan ludah samar.


"Bukan. Aku hanya ingin menjadi pendengar mu."


"Huh. Kamu begitu terdesak hingga mau mendengarkan aku ..." dengus Yuda merasa dibodohi.


"Aku selalu mau mendengarkan mu, Yud. Baik itu dulu maupun sekarang. Itu dimulai waktu itu. Bahkan mungkin aku melakukannya lebih dulu sebelum kamu mengenal Mina." Luna tidak bohong soal ini. Bukannya dia pernah mencintai Yuda. Jadi kalimat ini bukan bujukan. Ini sama persis seperti yang ia rasakan.


Yuda menatap Luna lurus. Kalimat Luna terdengar sungguh-sungguh.


"Terserah."


Segelas air ia habiskan dulu di tempat, baru setelah itu ia membawakannya untuk Yuda.


"Minumlah." Luna menyodorkan gelas berisi minuman itu pada Yuda. Meskipun terlihat renang, dalam hati Luna selalu merapal kalimat berharap pria ini tidak melampiaskan marahnya pada dirinya.


Yuda meraih gelas di tangannya tanpa bicara. Menghabiskannya dengan cepat lalu meletakkan di atas meja masih dengan kesal. Untung saja Luna sigap menahan gelas itu. Karena kalau tidak, gelas itu akan meluncur dengan mulus ke lantai dan hancur.


"Kita bisa berbincang Yuda. Aku bisa mendengarkan mu." Luna berbicara dengan lembut.


"Semua sudah tidak berjalan dengan baik. Mina sudah tiada. Apalagi yang harus aku katakan. Semua itu tidak ada artinya."


Luna menyadari sesuatu. Yuda mengerti kalau semua sudah berakhir saat Mina, perempuan yang di cintainya itu meninggal. Namun entah kenapa dia seakan mencoba menutupi kesadarannya dengan berpikir bahwa Ian adalah penyebab cintanya yang kandas.

__ADS_1


Mungkin meninggalnya wanita itu, membuat Yuda sangat terpukul. Hingga tanpa sadar otak pria ini membentuk opini bahwa rasa sakitnya timbul karena Ian yang merampas perempuan itu darinya.


"Berarti kamu tidak perlu mendendam seperti itu, Yuda." Luna menjeda dulu kalimatnya. Yuda melihatnya tajam. "Seperti yang kamu katakan barusan. Semua tidak ada artinya lagi." Suara Luna begitu lembut.


"Apa katamu? Tidak perlu melakukan hal seperti ini?"


"Kamu akan melukai hatimu sendiri. Jangan merusak hidupmu dengan balas dendam. Mungkin bagimu ini sangat berarti karena kamu mencintai Mina begitu besar, tapi apa yang akan terjadi padamu nanti jika rencana mu gagal dan merusak kehidupanmu?" Luna memberi pengertian.


"Tidak akan gagal kalau Naura berhasil membujuk Ian untuk menikah."


Luna menghela napas. "Pak Ian tidak akan menikah dengan Naura, Yud."


"Apa yang kamu bilang? Ian begitu mencintai Mina. Ia rela harus menikah dengan Naura, karena itu wanita pilihan Mina," kata Yuda mencondongkan tubuhnya yakin.


"Pak Ian tidak akan menikah dengan Naura, Yud," jelas Luna lagi. Yuda mengerutkan kening. "Elio tidak setuju. Naura mungkin bisa menipu Pak Ian, tapi dia belum ahli menipu Elio yang polos."


Dok! Dok! Dok!


Pintu di gedor dengan keras. Itu pertanda seseorang ingin masuk dengan tidak sabar. Luna dan Yuda menoleh.


"Yuda! Buka pintunya! Aku tahu kamu menahan Luna di dalam!" Suara keras dan kalut terdengar dari luar. Luna hapal itu adalah Pak Ian.


"Luna yang ia sebut? Jadi hubungan kalian memang spesial ya?" cela Yuda mendengar Ian menyebut namanya keras.


"Buka pintunya! Kalau tidak orang-orang di luar akan mendobrak masuk!" teriak Pak Ian lagi. Luna terkejut. Ia langsung berdiri tanpa permisi.


...____...

__ADS_1



__ADS_2