Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 62


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Karin, bola mata Luna melebar. Dia memang belum mengatakan sepenuhnya pada temannya ini kalau dia ada pembicaraan serius soal pernikahan dengan atasan mereka yang tampan itu.


"Kalian beneran jadian? Iya?" tanya Karin mendesak temannya.


"Emmm ..."


"Itu pasti!" seru Karin. "Melihat kamu yang berciuman dengan Pak Ian, kalian pasti ada hubungan asmara. Bahkan lebih dari itu," kata Karin seraya melebarkan mata.


"Stop. Jangan berpikir macam-macam soal hubungan lebih dari itu dengan otak negatif dan kotor." Luna mendelik protes.


"Jadi nggak ya? Kan Pak Ian duda."


"Enggak," desis Luna geram.


"Benarkah? Enggak percaya."


"Stop Karin! Aku pecek kamu kalau terus berpikir negatif ya!" Luna kesal.


"Hahahaha." Karin bahagia mengerjai temannya. "Bisa minta traktir nih. Kan udah dapat kakap tampan nih?" ledek Karin.


"Hush, tutup mulut kamu. Kalau Pak Ian dengar bisa tidak aman aku."


"Eh, iya. Bisa langsung di cut hubungan kalian. Sekaligus out dari perusahaan," bisik Karin tergelak.


***


Setelah beristirahat di rumah sakit beberapa hari, tubuh Luna begitu terasa segar. Karena istirahat yang ia jalani bukan sekedar istilah. Dia benar-benar bebas tugas. Apalagi ada Pak Ian yang selalu menemaninya.


Siang ini Naura muncul di kantor. Luna terkejut melihat wanita cantik itu di sini. Padahal apa yang di katakan Pak Ian adalah soal perempuan ini sudah usai. Tinggal urusan dengan Yuda saja. Namun kenapa dengan percaya dirinya, model ini muncul.


"Sialan. Dia memang menjadi model dalam proyek perusahaan," lirihnya sambil menggeram kesal.


Dengan langkah pasti dan bagus, Naura berjalan langsung menuju ke ruangan Ian. Luna yang tidak sengaja di sana  mengamati dari belakang. Namun ia tidak mendekat, tapi memilih kembali ke ruangannya.

__ADS_1


Bruk! Luna mendudukkan pantasnya agak keras.Gadis ini menipiskan bibir dan melipat tangan.


"Apa-apaan itu? Apa Pak Ian enggak bisa melepas Naura yang bertubuh sintal? Huh, dasar lelaki. semua sama aja," gerutu Luna di dalam ruangannya. "Tidak. Aku tidak mau memikirkan itu. Sekarang lebih baik bekerja." Luna memilih tidak ambil pusing.


Namun saat setelah beberapa menit bekerja, tangannya terhenti. Luna tidak bisa tidak memikirkan Naura yang muncul di perusahaan ini. Itu sangat mengganggunya.


Tok! Tok! Pintu di ketuk seseorang.


"Masuk!" Seru Luna seraya memperbaiki ekspresi wajah. Dia tidak ingin seseorang yang masuk sebentar lagi menemukan raut wajah kesalnya memikirkan Pak Ian dan Naura di dalam ruangannya.


"Halo, Luna," sapa Naura. Sungguh mengejutkan wanita itu datang ke ruangannya. Ini bagaikan dejavu. Kejadian ini mirip waktu yang lalu.


"Nona Naura? Ada apa datang ke sini?" tanya Luna langsung berdiri menyambut wanita ini. Awalnya wanita itu melihat Luna dengan tatapan rendah seperti biasanya, tapi secepat kilat Naura mengganti tatapan itu menjadi lebih menghormati.


"Emm ... Aku mau menemui Ian. Aku ada perlu."


"Ah, iya silakan. Sepertinya beliau ada di ruangannya." Luna yakin bahwa sudah melihat Naura berjalan menuju ruangan pak Ian tadi, tapi kenapa wanita ini justru kembali dan menuju ruangannya?


Mungkin tidak ada Ian di ruangannya, jadi Naura ingin Luna mencari tahu. "Apa saya coba tanya pada Danar dimana Pak Ian?" Meskipun tidak senang mereka bertemu, Luna harus tetap profesional.


"Tidak. Tidak perlu. Ian ada di ruangannya," kata Naura menahan tangan Luna saat menyentuh pesawat telepon.


"Ya?" Luna terkejut mendengarnya. Jadi pak Ian ada di ruangannya? Lalu kenapa dia ke ruanganku? Luna menjauhkan tangannya dari pesawat telepon itu. "Jadi Anda ada perlu di bagian lain atau bagaimana?" Luna masih mencoba mencari tahu apa tujuan model ini ke ruangannya.


"Bukan itu," sahut Naura.


Luna menggeram di dalam hati. Ia sudah lelah mencari tahu. Tidak mungkin dia sengaja ke ruangan ini untuk mencarinya bukan? Ada apa gerangan dengan wanita ini? Apa yang diinginkannya?


Helaan napas samar Luna menghentikan otaknya berpikir keras.


"Silakan duduk dulu, Jika Anda butuh waktu banyak untuk berpikir." Luna memilih mempersilakan wanita ini duduk. Bukan hanya bersikap sopan, dia juga mengistirahatkan kakinya. Jadi saat menyuruh Naura duduk, ia pun ikut  duduk.


Ternyata Naura tidak duduk. Wanita itu tetap berdiri. Luna heran.

__ADS_1


"Jadi Anda tidak ingin duduk? Pasti ada keperluan penting lainnya." Luna bukan menebak. Dia hanya sekedar bicara.


"Benar. Aku ada perlu denganmu," sahut Naura agak cepat.


"Saya?" tanya Luna heran. Dari sekian tebakan, ternyata jawabannya adalah Naura ada perlu dengannya. Sungguh di luar nalar.


"Ya. Sebenarnya aku ingin menemui Ian, tapi dia menolak ku." Naura sedikit kebingungan menyembunyikan ekspresi malu-nya saat mengatakan di tolak Ian.


Lalu hubungannya denganku apa?


"Aku bisa bicara dengannya, tapi dengan satu syarat." Naura menjeda kalimatnya. Ia mengambil napas panjang. Sepertinya yang akan di katakannya adalah hal yang berat untuknya. "Ian memintaku mengatakan padamu kalau aku ada perlu dengannya."


Kalimat yang meluncur dari bibir Naura makin membuat heran. Mungkin jika Luna adalah sekretaris Pak Ian, syarat itu tepat jika untuknya. Namun sekarang posisi Luna tidak ada hubungannya dengan pertemuan Ian dengan wanita ini.


"Mungkin Anda harus bilang pada Danar, bukan saya." Luna meluruskan. Karena selama ini pertemuan apapun terhubung dengan Danar.


"Tidak. Ian menyuruhku meminta ijin padamu, bukan Danar," kata Naura sedikit kesal saat mengatakannya.


Ijin? Luna tidak paham.


"Ian bilang, jika aku ingin bicara dengannya, aku harus meminta ijin padamu. Ini memang mengesalkan, tapi aku paham. Aku mengerti." Naura gusar. Luna diam masih terperangah kaget. "Menurutnya aku yang pernah punya hubungan asmara dengannya, bisa menimbulkan masalah jika bertemu dan bicara dengannya tanpa seijin kamu."


Benarkah? Apa Pak Ian tahu aku sedang gusar karena kemunculan Naura ke ruangannya?


"Jangan berbelit-belit Luna. Bicara yang santai. Aku tahu kalian menjalin hubungan asmara bukan?" kata Naura mulai bisa mengontrol emosinya. "Kamu tahu semua tentang aku dan Yuda yang ingin menghancurkan Ian bukan?" lirih Naura. Dia yakin Luna juga tahu.


Luna menatap lurus-lurus wanita ini. Ia sudah kembali dari rasa terkejutnya. "Jadi kamu mulai mengaku kalau semua yang kamu lakukan itu hanya untuk membuat skenario Yuda berhasil ya?" tanya Luna. "Kamu ini kaki tangan Yuda rupanya." Luna melipat tangannya.


"Hei." Naura ingin membentak, tapi urung. Dia tahu posisinya tidak berhak membantah. "Argghh ..." keluh Naura kesal. "Aku tidak bisa membalas mu karena sekarang posisi kita sangat berbeda. Kamu wanita kesayangan Ian, jadi aku tidak bisa sembarang menyerang mu."


Wanita kesayangan? Itu terdengar bagus, batin Luna. Ia tersenyum dalam hati.


...________...

__ADS_1


__ADS_2