
Kepala Luna menggeleng.
"Pak Ian juga belum kembali. Kemungkinan Pak Ian sedang mencari Elio, Non." Bola mata bibi pengasuh sudah berkaca-kaca. Beliau ingin menangis.
"Jadi sekarang Pak Ian tidak ada di sini? Lalu pernikahan ini?" tanya Luna panik. Karin sampai ikut bingung mendengarnya. Luna menatap Karin dengan wajah bingung. Bibi menggelengkan kepala tidak tahu.
"Saya mencari Elio lagi, ya Non." Bibi pengasuh pergi keluar.
"Aku di tinggalkan?" tanya Luna tertegun. Sesaat ia ingat harus menghubungi ponsel Pak Ian. Dengan terburu-buru Luna mengambil ponsel. Lalu mencoba menghubungi Pak Ian.
Telepon tersambung, tapi pria itu tidak segera menerimanya.
“Ayolah, Ian. Ayolah ... Kamu harus menerimanya dengan cepat, kalau tidak aku akan marah besar,” gumam Luna dengan gelisah. Karin ikut merasakan kegelisahan gadis ini.
Beberapa menit mencoba, Ian tetap tidak bisa di hubungi. Fix! Pria itu tidak bisa di hubungi!
“Sial! Kemana pria tampan itu? Tidak mungkin dia meninggalkan aku kan?” tanya Luna marah. Dia meletakan ponselnya begitu saja di atas meja.
__ADS_1
"Tenang Luna. Mungkin mereka sedang ada di luar. Jadi bibi menganggap mereka menghilang. Atau di toilet mungkin." Karin langsung berusaha menenangkan temannya.
"Sebenarnya ada apa ini, Karin?" tanya Luna ingin menangis.
"Tidak ada apa-apa, Luna. Tidak ada apa-apa. Kita tunggu saja sampai mereka muncul," kata Karin seraya mengelus punggung temannya. Dia juga tidak paham ada apa ini?
Tepat di saat janur kuning melengkung, tiba-tiba pengantin pria menghilang. Akankah pernikahan ini lanjut?
"Kurang ajar. Bocah itu lagi-lagi membuat kacau," kata Luna kesal. Ada setitik air mata yang jatuh. Luna menangis.
Mendadak, gadis ini sudah bersiap pergi.
"Jika semua orang menghilang untuk mencari Elio, sebaiknya aku juga mencari bocah itu kan?" Jawab Luna aneh.
"Iya, tapi kemana?" tanya Karin yang tahu Luna pasti galau sekarang. Keadaan kacau.
"Aku enggak tahu." Luna menjawab dengan wajah sedih. Dia hanya punya tekad saja, tapi sebenarnya tidak tahu memulai darimana. “Aku hanya marah dan marah!” Luna menunjukkan kekesalannya. Ada air mata yang jatuh membasahi pipinya. Luna segera menghapusnya.
__ADS_1
Karin ikut prihatin dengan keadaan ini.
"Sebaiknya kamu duduk dulu dengan tenang." Karin menyentuh lengan Luna dengan penuh kehati-hatian. Dia takut sahabatnya kalut.
"Aku tidak mungkin bisa tenang dalam keadaan begini, Karin," desis Luna ingin marah.
"Ya, paham aku itu. Sangat paham malah. Namun lihat kondisi, kamu harus tenang dulu. Masa iya Pak Ian tega buat kamu terombang-ambing seperti ini? Dia bukan pria seperti itu," kata Karin menenangkan.
Luna terdiam. Perlahan bahunya menurun. Itu artinya dia tidak lagi berambisi untuk kabur seperti tadi.
"Oke. Duduk dulu ya?" pinta Karin sembari membimbing Luna untuk duduk. Gadis itu hanya mengikuti saja. Seketika kebahagiaannya luruh. Tidak ada dalam pikirannya berada dalam pesta pernikahan tanpa mempelai pria.
Suasana hening beberapa saat. Karin menutup mulutnya tidak ingin salah bicara. Ini kejadian besar.
Ini kejadian yang tidak pernah sama sekali Luna mimpikan seumur hidupnya. Siapa yang menyangka kalau dia harus di tinggalkan seluruh keluarga mempelai pria tepat di hari H acara.
Jari Luna bergerak-gerak cemas.
__ADS_1
"Jika Pak Ian enggak ada, aku harus bertemu dengan Danar."
..._____...