
Lalu ia mengelus kepala suaminya.
"Duh, segitunya ...," ledek Luna. Ian justru makin menenggelamkan kepalanya pada cerukan antara leher dan bahu Luna. Bukan hanya menempelkan kepalanya saja. Setelah jari-jari Ian menarik kaos yang menutupi cerukan itu, bibirnya pun mulai menciumi bahu yang terbuka itu.
Luna berjingkat terkejut.
"Sayang ... Kamu bohong ya mau makan siang?"
"Kenapa?" tanya Ian berhenti menciumi bahu istrinya. Luna melepas pelukan Ian dari belakang. Tubuhnya berbalik. Kini mereka saling berpandangan.
"Ternyata kamu ingin makan aku ya?" tanya Luna yang terasa berniat menggoda di telinga Ian. Bibir Ian tersenyum.
"Kenapa? Kamu mau kabur?" Ian menarik pinggang Luna untuk makin mendekat padanya. Luna tersenyum.
"Enggak. Aku enggak mau kabur kok," ujar Luna. Tangannya menyentuh kedua garis rahang suaminya.
"Lalu?" tanya Ian mencium leher istrinya. Namun Luna mendorong kepala Ian. "Kamu tidak mau?" tanya Ian seraya mengerutkan kening.
__ADS_1
"Bukan tidak mau. Tubuhku juga lengket karena habis main sama Elio tadi di luar," ujar Luna memberi penjelasan. Ian diam sejenak berpikir.
"Kamu mau mandi?" tanya Ian seperti tengah menawarkan sesuatu pada Luna. Kepala Luna mengangguk. Namun kemudian ia ingat sesuatu. Bola mata luna mengerjap. Sepertinya ia salah bicara. Bukan membuat Ian setuju untuk menunda, tapi justru membuat pria itu menggebu-gebu. "Baiklah. Ayo kita mandi bareng."
Ini ajakan yang bukan sembarang ajakan tentunya. Mandi barengnya dua pasang manusia dengan label suami istri, tentu tidak hanya mandi saja. Ian memesrai istrinya dan menyalurkan hasratnya yang sudah di tahan sejak tadi. Mereka menyatu di bathub.
***
Luna duduk di depan cermin seraya mengeringkan rambutnya yang sudah setengah basah. Kepala perempuan ini menoleh ke arah ranjang. Pria itu ternyata terlelap setelah memaksakan kehendaknya yang menggebu pada dirinya.
Buatnya itu menakjubkan.
Ia beranjak dari kursi meja rias, lalu berjalan menghampiri ranjang. Terdengar napas teratur Ian. Itu artinya pria ini sudah sangat lelap.
"Dasar. Seenaknya sendiri meminta jatah, sekarang tidur pulas setelah melakukannya," kata Luna kemudian tersenyum. "Ughh ... pinggangku terasa sakit," keluh Luna tiba-tiba. "Stamina duda tampan ini memang mengagumkan," kata Luna takjub. Ia menggerak-gerakkan tubuhnya. Ada bunyi yang langsung membuat pinggang lumayan nyaman.
"Sebaiknya aku keluar dulu menyiapkan makan. Pasti dia sebenarnya lapar. Hanya saja mementingkan ego untuk melakukan hal intim tadi." Tubuh Luna merunduk pelan, kemudian mendaratkan ciuman di pipi Ian yang tidur dengan posisi miring. "Aku mencintaimu pria tampan," bisik Luna.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Luna beranjak menuju ke pintu. Namun ternyata Ian menahan tangan Luna. Perempuan ini menoleh. Perlahan bola mata Ian terbuka.
"Sayang? Aku pikir kamu pasti sudah tidur sangat lelap," ujar Luna terkejut. Bibir Ian tersenyum. Meski tatapan Ian redup, bola mata itu terlihat penuh cinta.
"Mau kemana?" tanya Jan serak.
"Aku mau turun dan menyiapkan makan. Bukannya tadi kamu lapar?" tanya Luna.
"Duduklah dulu."
Tubuhnya berbalik dan duduk di pinggir ranjang.
"Kamu tidak lapar setelah melakukannya?" selidik Luna.
"Aku memang lapar, tapi lebih ingin di temani kamu," sahut Ian.
..._____...
__ADS_1