Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 69


__ADS_3

"Padahal aku ingin memanggil dengan sebutan lain." Luna bergumam seraya membuang wajah ke arah lain karena malu.


Ian yang tadinya sudah mengabaikan, kini berharap lagi. Luna mendekat dan berbisik tepat di telinga pria ini. "My Lovely?" Bola mata Ian melebar. Tubuhnya menegang seketika. "Sudah. Mau siap-siap pulang, nih." Luna mendorong tubuh Ian yang memeluknya. Namun Ian menangkap tangan gadis ini.


"Kamu tidak sedang menggodaku bukan?" tanya Ian tidak tenang. Ia gelisah.


"Entahlah." Bibir Luna tersenyum. Lalu ia segera pergi karena sebenarnya dirinya sedang panik sekarang. Dari tatapan Ian yang berkabut, pria itu sepertinya terperangkap godaannya.


"Oh, tidak. Ini gawat. Dia memanggilku seperti biasa saja sudah membuat aku resah, apalagi panggilan seperti barusan," desah Ian sambil menghempaskan punggung pada sandaran kursi di teras belakang.


**


Keesokan harinya, di kantin perusahaan.


"Menginap di rumah Pak Ian?" bisik Karin melebarkan mata. Luna menggaruk pelipisnya sambil mengangguk. "Nekat sekali."


"Itu bukan keinginanku. Aku terpaksa. Terpaksa. Itu karena Elio yang membuatku harus bermalam di sana," ujar Luna membela diri. Mereka tetap bicara sambil berbisik. Padahal mereka sudah mengambil tempat duduk di tempat yang agak menjauh dari yang lain.


"Aku kasih tepuk tangan sambil berdiri buat kamu," kata Karin berdiri sambil menepuk tangannya.


"Stop," geram Luna sambil menarik lengan temannya dengan kuat. "Duduk. Kamu enggak mau memberitahukan pada semua orang di sini kan?" tanya Luna.


"Maunya iya, tapi sayangnya enggak bisa. Bukan, tapi enggak boleh." Karin menyayangkan berita ekslusif ini tidak bisa disebarluaskan.


"Boleh duduk disini, Karin?" tanya dua karyawan pria. Karin mengangguk. Luna tersenyum sopan. Dia tahu mereka itu teman Karin di divisinya. Namun beberapa detik, ia merasa tidak nyaman. Ada rasa gelisah yang menyerangnya.


"Kita gabung di meja ini saja, Danar," kata sebuah suara membuat Luna tersentak kaget. Itu Pak Ian dan Danar.


"Baik, Pak," sahut Danar.


Brak! Pak Ian menarik kursi dan meletakkan piring dan gelas minuman dengan agak keras. Bisa-bisa piring dan gelas itu pecah sebelum sempat makan.

__ADS_1


Karin dan temannya melebarkan mata dan gemetar. Karena aura hitam mengelilingi sekitar Pak Ian. Danar menipiskan bibir. Dia paham kenapa Pak Ian terlihat sangat kejam. Itu karena gadis ini, Luna.


Danar melirik Luna yang terdiam di kursinya.


"S-sepertinya kita harus pindah, teman. Aku lebih nyaman di meja lain," kata teman pria Karin. Pak Ian memang memandang tajam ke arah mereka. "Kita, kita ... permisi Pak."


"Ya," sahut Ian dengan suara berat. Mereka berdua langsung pergi. Danar pun mulai duduk.


Karin menatap Luna yang masih diam. Lalu ia melihat Danar. Memberi kode pada pria ini untuk pindah juga. Danar menggelengkan kepala. Lalu membalas dengan kode menyuruh Karin makan saja, jangan pedulikan mereka berdua. Karin setuju.


"Sepertinya kalian tadi asyik sekali," kata Ian tanpa menoleh pada Luna.


"Tidak terlalu," sahut Luna.


"Yang aku lihat tadi begitu," kata Ian memaksa. Luna tidak membantah. "Jadi saat istirahat begini, kamu biasa makan dengan para karyawan pria ya ..."


Ketemu! Itu yang membuat Ian mengeluarkan aura gelap tadi. Luna menghela napas. Pak Ian sedang dalam mode cemburu!


"Kenapa memanggilku seperti itu?" tanya Ian yang sadar bahwa Luna memanggilnya 'Pak' lagi.


"Hah?"


"Kemana panggilan spesial mu itu?" tanya Ian. Luna terkejut. Di saat banyak orang begini, Ian malah meminta panggilan itu di suarakan.


Karin dan Danar melirik Luna yang kebingungan.


"Kamu lupa? My lovely ...," ujar Ian mengingatkan. Blush! Ini membuat Luna merah dan malu. Dia melirik ke arah dua orang di dekat mereka. Keduanya menatapnya tidak percaya. Padahal itu hanya keisengan semata.


"Sebaiknya kita bicara di tempat lain." Luna langsung berdiri. Ian masih duduk, dia tidak peduli pada apa yang di khawatirkan Luna. "Tolonglah. Saya ingin bicara dengan Pak Ian, berdua," mohon Luna seraya melebarkan mata. Ini kode.


Orang-orang di kantin seketika heboh di belakang mereka. Bukan melihat ke arah Pak Ian dan Luna, ada hal lain yang lebih menarik perhatian mereka.

__ADS_1


Karin dan Danar melihat ke arah sumber perhatian para penghuni kantin sekarang. Ternyata ada Naura. Perempuan itu melongok ke dalam kantin dan masuk. Rupanya ia melihat Ian di sana.


Semua mata memandang takjub ke model cantik ini. Bibir mereka juga tersenyum karena tahu kalau Naura menghampiri Pak Ian. Dimana semua orang tahu, bahwa mereka sepasang kekasih.


"Ternyata ada di sini," kata Naura berhasil menemukan Ian di kantin. Luna yang sudah berdiri menoleh. "Kamu tidak menerima telepon dariku, Ian," protes Naura. Ian mendongak.


"Aku punya kesibukan lebih penting, Naura," kata Ian tidak terlalu peduli.


"Hhh ... Aku tahu kita sudah putus dan kamu sekarang dekat dengan Luna, tapi jangan bersikap dingin dong. Kita memang bukan lagi kekasih. Namun bisa kan jika hanya berteman?" Naura tidak mengecilkan suaranya sedikit pun. Itu membuat semua orang yang ada di sana mendengar dengan baik apa yang dikatakan model ini.


Karin mendengarkan sambil makan. Sementara Danar hanya fokus pada makanannya. Dia lapar jadi tidak peduli dengan semua hal di depannya, kecuali jika Pak Ian memberinya perintah.


Luna mendelik mendengar ini. Dia tidak bisa membantah karena begitu syok. Mata Luna menatap Naura tajam. Dia kesal. Karena semuanya melihat dan berbisik karena kalimat Naura.


Berbeda dengan Ian yang tersenyum mendengarnya. Ia senang Naura tanpa sadar mengumumkan hubungannya dengan Luna ke khalayak umum. Ian senang tidak perlu repot-repot mengumumkan.


"Kamu kenapa? Aku tidak mengatakan hal yang salah kan?" tanya Naura yang merasa di salahkan oleh Luna.


"Luna marah karena kamu mengumumkan pada semua orang tentang hubungan aku dan dia," jelas Ian masih dengan senyum bahagia yang di tahan.


Naura mengerjapkan mata heran. Dia menoleh cepat pada Luna.


"Kenapa? Toh kalian akan menikah kan nantinya," sahut Naura malah membuat semua orang makin gencar berbisik membicarakan Luna dan Pak Ian.


Bila Luna muncul dengan Pak Ian berdua sekalipun, mereka akan berpikir keduanya hanya rekan kerja.


Namun karena berita ini muncul dari bibir Naura, model cantik yang di kenal mereka sebagai kekasih Pak Ian sendiri ... itu artinya kabar Pak Ian dan staff keuangan itu jadian adalah benar.


Jika tadinya mereka berpikir kemunculan Pak Ian yang sangat jarang di kantin perusahaan adalah kebetulan semata, kini mereka tahu alasannya.


Karena ternyata ada Luna yang menjadi kekasihnya ada di sini. Ini semua bukan hanya kebetulan semata. Pak Ian sengaja.

__ADS_1


...____...


__ADS_2