Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 91


__ADS_3

Luna, Ian dan Yuda menggeram sekilas setelah mendengar itu. Sepertinya isi pikiran mereka sama saat ini.


Mereka jadi tahu akar dari penyebab kehebohan ini. Karena itu kenapa tiba-tiba Elio memaksa ingin bertemu mamanya tepat sebelum Luna resmi menjadi istri Ian. Dari pesta pernikahan ke sebuah makam. Itu agak aneh. Ternyata itu doktrin dari Naura yang sepertinya ingin membuat masalah.


Ian tahu apa yang harus di lakukan pada perempuan kurang ajar itu. Namun yang harus ia lakukan pertama adalah pulang. Ia harus menyelesaikan pernikahan yang tertunda ini dengan cepat.


Mereka pulang menuju lokasi pernikahan awal.


Mama Ian yang melihat Ian, Elio, dan Luna muncul langsung menangis haru. Setelah memeluk Elio, mama menyerahkan bocah ini pada bibi. Setelah itu beliau memeluk Luna.


"Kamu juga baik-baik saja, sayang?" tanya Mama cemas setengah mati. Kepala Luna mengangguk. Mama menatap Ian dengan tajam.


"Mama sebenarnya ingin marah sama kamu Ian. Kamu tidak tahu betapa sedihnya Luna tidak mendapat ketidakpastian pernikahan ini dari kamu," tegur mama masih dengan mata sembab.


"Maafkan Ian, Ma." Ian menunduk mengaku salah. Mama mengusap air matanya.


"Sekarang cepat kembali ke sana. Segera resmikan Luna jadi istri kamu. Mama tidak ingin berlama-lama," kata mama menahan amarah.

__ADS_1


"Iya, Ma."


Karin yang melihat Luna kembali memeluknya dengan erat.


"Semua aman, kan?" bisik Karin. Luna mengangguk. "Kamu tetap menikah dengan Pak Ian kan?"


"Tentu saja." Luna tersenyum akhirnya tersenyum mendengar candaan Karin.


Akhirnya setelah riasan wajah Luna di benahi lagi, pesta berlanjut. Pernikahan Luna dan Ian yang sempat terganggu oleh kejadian tidak terduga kini di satukan lagi.


Sah!


Luna meneteskan air mata karena terharu juga. Akhirnya ia resmi menjadi istri duda tampan dan kaya ini.


***


Naura tergesa-gesa mendatangi kantor Ian. Danar yang melihat perempuan itu di lorong hanya melihat saja tanpa menahannya untuk masuk ruangan Pak Ian.

__ADS_1


Brak! Pintu ruangan terbuka dengan keras. Ian yang saat itu berdiri sambil memegang ponsel, menoleh.


"Ternyata kau." Ian melihat sebentar, kemudian melihat ke arah layar ponselnya lagi.


"Ian, ada apa ini? Kenapa semua kartu kredit ku tidak bisa di pakai? Lalu, semua iklan dan pekerjaan yang aku lakukan di hentikan semua oleh mereka. Ada apa ini?" tanya Naura panik dan bingung.


"Kamu tidak tahu?" tanya Ian tanpa menoleh.


"Tentu saja aku tidak tahu. Makanya aku datang ke sini. Oh, maaf. Aku lupa mengucap selamat atas pernikahan mu. Selamat ya. Aku sempat datang ke pesta, tapi ternyata aku harus pergi karena ada urusan," kata Naura sambil mengibaskan rambutnya dengan manja.


"Ya, terima kasih."


"Lalu? Bagaimana ini dengan semua yang aku tanyakan padamu tadi? Kenapa bisa semua kartu ku dari perusahaan bisa beku?" Naura empat lagi tujuannya kesini.


"Kenapa bertanya padaku? Seharusnya kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan hingga membuat semuanya menyulitkan mu," ujar Ian dingin. Kali ini ia mendongak menatap Naura.


"A-apa maksud mu?" tanya Naura tiba-tiba menjadi gugup melihat raut wajah serius Ian. Sepertinya pria ini sangat marah padanya. Namun dia tidak mengerti ada apa?

__ADS_1


...____...


__ADS_2