
Langit masih cerah karena acara pernikahan di gelar sejak pagi tadi. Bahkan sangat cerah dan panas karena beranjak siang.
Suasana area makam ini tidak terlalu menakutkan. Berbeda lagi jika langit gelap. Luna akan berpikir panjang untuk datang dengan penuh keberanian seperti sekarang.
"Jadi ternyata kalian ada di sini!" teriak Luna. Ian dan Yuda menoleh bersamaan. Elio yang tadinya asyik mengejar kupu-kupu juga menoleh karena suara Luna.
Dengan melangkahkan kaki lebar-lebar, Luna menghampiri mereka bertiga.
"Tante Luna!" teriak Elio kegirangan. Dia orang pertama yang mendekat ke Luna dengan wajah tanpa dosa. Luna tetaplah Luna. Dia marah, tapi saat bocah ini ingin masuk dalam pelukannya. Ia tetap menyambutnya.
"Kamu enggak apa-apa, Elio?" tanya Luan cemas. Ia meneliti tubuh Elio dengan seksama.
"Tidak. Elio tidak apa-apa, kok." Elio tersenyum manis.
"Hhh ... syukurlah kalau kamu tidak apa-apa. Tante Luna cemas. Kamu ingin main lagi?" tanya Luna.
"Ya," sahut Elio polos.
__ADS_1
"Danar, bisa temani Elio dulu?" pinta Luna.
"Ya," jawab Danar. Pria ini pun mendekat dan mengajak Elio menjauh dari mereka.
"HHH ..." Jika tadi menghela napas kecil. Kini ia menghela napas berat dan besar. "Jadi apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Luna berusaha tenang.
Ian mendekat.
"Tidak. Cukup katakan saja di tempat kamu berdiri. Dengan jarak seperti ini aku masih bisa menahan diri untuk tidak marah," kata Luna jujur. Ia menjulurkan tangan membentuk dinding untuk tidak di lewati Ian.
"Maaf. Aku membuat mu sedih dan marah," kata Ian.
Ian menghela napas. Ya. Dia sangat bersalah. Dia memilih meninggalkan pesta pernikahannya demi mencari putranya.
Namun haruskah ia memilih meneruskan menikah dan membiarkan putranya hilang? Meskipun ia bisa menyuruh Danar atau orang lain, bisakah dia fokus pada pernikahan saat putranya masih belum jelas keadaannya.
"Bisa tidak kamu memberi kabar padaku bagaimana kelanjutan pernikahan kita?" ujar Luna.
__ADS_1
"Ya. Seharusnya aku bisa. Maaf." Ian tertunduk mengaku salah. Ia tidak bilang kalau ponselnya terjatuh entah dimana. Dia yang sebenarnya ingin menghubungi Danar pun jadi tidak bisa.
Hingga saat itu ia ingat sesuatu dan segera mengejarnya. Mungkin Elio berada di makam Mina, mamanya. Karena bibi pengasuh sempat bilang, kalau Elio ingin bertemu mamanya tiba-tiba.
Luna menatap Ian dengan mata nanar.
Yuda menatap Luna. Dari keadaan gadis ini saja sudah kelihatan kalau dia akan meledak-ledak. Namun salut, dia masih bisa kuat bersikap tenang.
"Jadi kamu menculik Elio atau bagaimana? Jelaskan dengan sejelas-jelasnya Yuda?" geram Luna.
"Aku tidak menculiknya. Aku hanya ingin membantunya," jelas Yuda.
"Membantu? Membantu dari apa?!" Luna marah. Ini membuat Elio menoleh cepat.
"Tante Luna marah," kata Elio. Ia segera berlari menjauh dari Danar dan menghampiri Luna. Danar mengikuti bocah itu. "Tante Luna kenapa?" tanya Elio polos. Luna terkejut teriakannya membuat bocah ini menghampirinya.
"T-tidak. Tante tidak apa-apa." Luna tersenyum tipis. Ia mengerjap menghilangkan bola matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tante Luna jangan bohong. Aku dengar Tante Luna marah barusan." Elio berkata dengan tepat.
...____...