
Elio, Ian, kemana kalian berdua? Kenapa saat aku kesulitan kalian tidak muncul? Aku sudah ada di depan rumah kalian tahu!
Ini pertama kalinya Luna muncul di rumah Ian dengan rasa cemas dan takut. Karena ia tidak tahu sama sekali siapa perempuan dengan aura kuat ini.
"Oh, Luna! Kenapa berdiri di depan pintu?" tanya Ian yang melintas di ruang tamu.
Ian! Harapan Luna terkabul. Luna bahagia sekali bertemu pria ini. Perempuan paruh baya dan bibi menoleh ke arah Ian. "Kenapa dia tidak di suruh masuk, Ma?" Ian terlihat cemas.
Sebentar. Apa yang di katakan Pak Ian barusan? Ma? Mama? Dia orang tua Pak Ian? Beneran?! Luna terkejut setengah mati. Reflek ia menatap orang yang di klaim adalah perempuan yang melahirkan Pak Ian yang tampan itu. Tidak. Ini gawat.
Ingin rasanya ia pulang dan kembali lagi nanti kalau beliau sudah tidak ada. Namun itu tidak mungkin. Jika mau menikah dengan pria ini, dia harus bertemu dengan orangtuanya bukan? Harus berbaik-baik dengan beliau.
Luna tersenyum.
"Ayo masuk Luna," ajak Ian. Luna ragu karena mama Pak Ian tidak mempersilakan dirinya masuk. Beliau hanya melihat ke arah dirinya dengan heran. "Mama tidak menyambut tamu Ian?" tanya Ian. Beliau terkejut Ian menegurnya.
Mama mengerjapkan mata. "Benar. Ada tamu ya ... Masuklah." Mama mempersilakan. Ian akhirnya menyuruh Luna masuk. Luna pun mengangguk sopan lagi dan ikut masuk. Ia duduk di ruang tamu. Sekarang dia tentu tidak bisa berkeliaran seperti tempo hari.
"Kenapa di sini? Duduklah di ruang tengah Luna." Pak Ian heran. Mama Ian melirik ke arah Ian dengan tatapan tidak percaya. Lagi-lagi Luna tidak bisa langsung mengabulkan permintaan Pak Ian karena terhalang ijin dari ibunda beliau.
"Biar mama temani dia di sini, Ian. Kamu bisa mandi dulu, kan barusan habis di kebun belakang sama Elio," kata mama.
"Baiklah kalau begitu. Aku tinggal dulu ya, Luna," pamit Pak Ian.
"Iya," sahut Luna yang sebenarnya menyimpan rasa sedih karena di tinggal. Itu artinya dia harus berdua dengan calon mertua. Rasanya sungguh canggung dan tegang.
"Duduklah. Siapa nama kamu?" tanya mama Ian.
"L-luna."
"Ya. Luna. Jadi kamu ini karyawan putraku?" tanya beliau.
"Benar." Luna mengangguk. Suasana tegang melanda.
Kedatangan bibi pengurus rumah yang membawa nampan berisi sirup dingin sedikit melegakan Luna. Itu seperti sebuah iklan setelah kita menonton film horor. Luna bisa mengistirahatkan hati dan pikirannya sebentar.
__ADS_1
"Minumlah. Udara siang ini begitu panas," kata mama Ian meminta Luna meminum es sirup yang sudah di suguhkan. Luna patuh. Ia mengambil gelas di meja dan minum dengan perlahan.
Karena Luna minum sambil duduk menyamping, dia tidak tahu bahwa mama Ian sedang memperhatikannya.
"Tante Lunaaaa!" teriak Elio yang mendengar dari bibi pengurus rumah kalau Luna datang, langsung melesat keluar dari kamar. Mama Ian menoleh.
Luna meletakkan gelasnya dengan tergesa-gesa karena melihat Elio sedang berlari ke arahnya. Untung saja Luna bisa menangkap bocah ini dengan sigap. Mama Ian menyaksikan keduanya saling berpelukan.
"Ini kejutan. Kenapa Tante enggak bilang-bilang kalau mau datang?" tanya Elio setelah dalam pelukan Luna. Mama Ian sedikit kaget dengan interaksi ini.
"Iya," sahut Luna singkat sambil tersenyum. Kali ini Luna sadar sedang di amati. Ia tersenyum tipis karena merasa mengabaikan beliau.
"Ini Oma Elio. Tante tahu tidak?" Elio mengenalkan neneknya pada Luna. Sepertinya mama Ian tidak tahu sama sekali soal siapa Elio sebenarnya. Pak Ian menutup rahasia besar itu sendirian.
"Iya, Tante tahu," jawab Luna sambil menowel pipi Elio.
"Kamu sudah akrab sekali dengan Tante Luna ini ya Elio," kata mama Ian pada cucunya.
"Sudah dong Oma. Tante Luna kan temannya Elio," sahut Elio bangga. Bahkan tubuh Elio bergelayut pada Luna. Anak ini manja sekali. Mama mengerutkan kening.
Ian menghampiri Luna dan duduk di dekatnya. Mama Ian memperhatikan detail gerak gerik putra dengan gadis ini.
"Iya. Bibi tadi bilang kalau ada Tante Luna. Jadi aku segera ganti baju dan lari ke sini," cerita Elio.
"Makan dulu, lalu kesini lagi, Elio," pinta Ian. Bocah itu cemberut.
"Aku masih ingin di sini," tolak Elio.
"Jangan. Kalau enggak makan, nanti mainnya enggak asyik karena lemas. Kan perut Elio jadi sakit karena belum makan," bujuk Luna.
"Tadi pagi sudah," bantah Elio.
"Makan yang tadi pagi sudah di pakai buat main sama papa di kebun belakang, terus makan siangnya untuk main sama Tante sebentar lagi. Gimana?" rayu Luna.
"Tante mau main sama aku?" Wajah Elio senang.
__ADS_1
"Tentu saja," sahut Luna.
"Oke!" Bocah ini pun setuju. "Elio makan dulu ya ..."
"Sip," ujar Luna menunjukkan jempolnya.
"Oma, Elio makan dulu ya ..."
"Iya. Makan yang banyak biar sehat," nasehat mama Ian.
"Oke. Tante jangan pulang ya. Tunggu aku selesai makan, lalu kita main. Awas kalau pulang," ancam Elio.
"Iya, cepat makan dulu." Luna mengangguk. Setelah Elio pergi, keceriaan tadi lenyap berganti dengan ketegangan yang makin meningkat daripada awalnya.
Kini tangan mama bersedekap. Lalu menatap Ian dengan banyak pertanyaan.
"Ehem." Ian berdeham sejenak. Dia tahu ini waktunya dia harus mengatakan semua. "Maaf Ma. Aku terlambat mengenalkan dia
pada Mama. Dia Luna. Kekasih Ian, Ma," ujar Ian. Dengan gerak cepat Ian mengenalkan Luna pada mamanya. Dia tidak harus berputar-putar.
Perempuan paruh baya itu terlihat terkejut meski hanya sekilas. Luna mengangguk sambil tersenyum. Canggung dan takut juga ada. Semua rasa yang mirip dengan itu campur aduk jadi satu.
"Kekasih?" tanya beliau tidak percaya.
"Benar, dia kekasih Ian." Ian tersenyum tipis pada Luna yang menoleh padanya. Mama Ian mengamati gadis di samping putranya dengan seksama.
"Maaf saya tidak memperkenalkan diri dengan baik tadi," kata Luna menyadari sikapnya kurang baik.
"Ya. Kamu pasti ragu dan takut mengatakannya karena aku tidak tahu siapa kamu," kata mama Ian mengejutkan. Ternyata beliau sangat tegas dan lugas bicaranya. Meskipun terdengar santai, tapi tatap mata beliau sungguh awas.
"Mama ...," tegur Ian lembut.
Benar. Saya terkejut saat tahu Anda adalah ibu Pak Ian. Jadinya saya agak takut, rengek Luna dalam hati. Namun dia harus memasang wajah tenang.
Pak Ian tidak pernah sekalipun menceritakan soal orangtuanya. Jadi sekarang Luna syok!
__ADS_1
..._______...