Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 36


__ADS_3

Ian diam tidak jadi memarahi Luna. Mendadak di dalam benaknya banyak hal yang di pikirkan.


 


"Ada yang perlu di tanda tangani?" tanya Ian mengubah topik pembicaraan.


 


"Ah, iya. Ada." Luna sempat kosong pikirannya saat Ian bertanya. Karena tiba-tiba saja topik pembicaraan berganti arah. Luna bergegas ke ruangannya masih dengan tas kerjanya.


 


"Aku akan ke ruangan Luna, Kamu bisa tunggu aku di ruanganku," kata Ian.


 


"Aku akan ikut denganmu ke ruangannya Luna. Aku ingin tahu," kata Yuda seraya tersenyum. Ian mengerjap. Tidak menduga pria ini akan ikut dengannya. Biasanya Yuda akan menunggu di ruangannya jika ada perlu.


 


"Kenapa harus ikut?" tanya Ian seraya berjalan.


 


"Kenapa kamu terlihat sangat kaku hari ini, Ian?"


 


Ian tidak menjawab. Pria itu tetap ikut Ian dengan berjalan di sampingnya.


 


Di ruangannya, Luna sudah menyiapkan berkas yang perlu di tanda tangani oleh Pak Ian. Ia terkejut saat orang-orang di sekitarnya menyapa Ian dan Yuda.


 


Kenapa dia ikut ke sini, sih? gerutu Luna.


 


Ian mendekati meja kerja Luna. Teleponnya berdering. Ian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menatap layar. Luna tidak bisa melihat itu dari siapa karena dia berseberangan dengan pria ini.


 

__ADS_1


Setelah membaca pesan yang ada di ponsel, Ian menoleh pada Yuda.


 


"Lebih baik kamu ke ruanganku. Danar sedang kesulitan," kata Ian memberi perintah.


 


"Ada masalah apa?" tanya Yuda.


 


"Naura."


 


Bola mata Yuda menyipit. Ian memberi kode untuk segera kesana.


 


"Baiklah." Yuda terpaksa menyetujui. Bola mata pria itu melirik Luna yang ternyata sedang melihat ke arahnya. Bibir Yuda tersenyum. Luna mengalihkan pandangan ke arah lain. "Aku akan ke ruangan kamu. Namun lain kali biarkan aku menemui Luna lagi," kata Yuda seakan sengaja di usir oleh Ian.


 


Ian tidak menjawab.


 


"Hanya ini yang perlu di tanda tangani?" tanya Ian.


 


"Iya, Pak." Luna mengangguk.


 


"Duduklah. Kenapa kamu berdiri?" tanya Ian melihat Luna masih enggan duduk.


 


"Y-ya. Baik." Luna jadi gugup. Ia pun duduk sembari menunggu Pak Ian membaca berkas.


 

__ADS_1


"Kamu gugup karena Yuda?" tanya Ian seraya tetap membaca berkas. Ini membuat Luna tidak yakin akan pendengarannya sendiri. Karena pertanyaan Pak Ian begitu mengejutkan.


 


"A-apa, Pak?" tanya Luna hati-hati. Ian berhenti membaca berkas dan mendongak. Kemudian menatap Luna sejenak tanpa bicara. Ini makin membuat perempuan ini gugup.


 


"Jadi aku perlu mengulang pertanyaan ku, ya?" tanya Ian terasa ketus. Bahu Luna berjingkat samar.


 


Tahu begitu, aku tidak akan bertanya. Namun sekarang terlambat.


 


"Kamu gugup karena Yuda ada di sini tadi?" Meski terlihat marah, rupanya Ian mau mengulang pertanyaannya.


 


"T-tidak. Bukan," sangkal Luna cepat. Ian diam dengan masih menatap Luna lurus-lurus.


 


"Cepat sekali kamu menjawab? Apa itu karena kamu memang gugup karena dia?" ujar Ian sinis. Setelah mengatakan itu, pria ini menunduk kembali membaca. Tidak peduli pada ekspresi Luna yang terheran-heran.


 


Apa-apaan pria ini? Kenapa sejak tadi sinis? Aku salah apa? gerutu Luna di dalam hati. Dia kehilangan kendali dalam menata ekspresinya. Untung saja Pak Ian menunduk. Kalau saja Pak Ian mendongak, habislah aku.


 


Deg!


 


Luna terkejut saat wajahnya masih masam, mendadak saja Pak Ian mendongak dan menatapnya. Secepat kilat Luna mengganti ekspresi kesal tadi dan menunduk. Kali ini menunduk karena ia malu dan takut. Karena mana ada yang berani bawahan berwajah masam di depan atasannya.


 


"Apa itu barusan?" tanya Ian makin membuat hati Luna jedag-jedug ketakutan.


..._____...

__ADS_1



__ADS_2