
"Kamu ... malu?" ledek Ian yang melihat wajah istrinya tiba-tiba saja merah.
"Tentu saja. Ini tempat umum, dan kamu mencium ku dengan begitu berhasrat. Aku cemas, was-was dan senang dalam waktu yang bersamaan tahu ...," geram Luna.
"Hahaha ... maafkan aku. Kamu terlihat begitu cantik hingga aku tidak tahan untuk melahap bibirmu," ujar Ian tanpa malu. Luna menipiskan bibir seraya mencebik.
"Kenapa jadi mesum?"
"Mesum ke istri kan tidak apa-apa. Bahkan di sarankan," ujar Ian sambil menyalakan mesin mobil. Luna menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Dia pun mendengus lucu mendengar jawaban suaminya.
***
Ruang dokter.
"Selamat Tuan, istri Anda hamil," ujar dokter pada Ian. Wajah Ian langsung berubah. Dimana yang awalnya begitu cemas, kini berubah tampak cerah bahagia. Ia menoleh pada istrinya yang termangu.
"Kamu dengar itu, sayang? Kamu bukan hanya sakit biasa, tapi kamu sedang hamil!" seru Ian tidak bisa menutupi kebahagiannya. Ian langsung memeluk Luna saat itu juga. Dokter tersenyum melihat itu.
Luna menatap Ian dengan wajah terkejut dan tidak percaya. Rupanya kabar kehamilan ini sempat membuat Luna beku sejenak.
__ADS_1
"Aku hamil?" tanya Luna masih tidak percaya pada Ian.
"Benar. Anda saat ini tengah mengandung, Bu." Dokter tersenyum saat mengatakannya. Karena sepertinya Luna masih termangu.
"Benarkah?" tanya Luna yang kini menoleh pada dokter di depannya.
"Kamu meragukan dokter, sayang?" tanya Ian sambil tersenyum geli.
"Oh, bukan. Itu tidak mungkin. Aku hanya terkejut dan tidak percaya." Luna menggelengkan kepala dan mengibaskan tangannya pelan. "Apa mungkin saya bisa langsung hamil bahkan saat setelah melakukan hubungan tadi malam, Dok?" tanya Luna terdengar polos. Ian ikut menoleh. Dia juga takjub sendiri pada air ajaibnya yang begitu tokcer.
"Bisa. Namun untuk test kehamilannya baru bisa di lakukan seminggu setelahnya." Dokter menjelaskan.
"Mungkin benih yang tertanam pada hubungan sebelum-sebelumnya," ujar dokter dengan sabar dan ramah.
Berarti aku memang hamil beneran!
***
Perjalanan pulang, Ian terus menggenggam tangan Luna. Sepertinya pria ini tidak ingin jauh-jauh dari perempuan ini.
__ADS_1
"Kenapa menggenggam tanganku terus?" tanya Luna yang sejak tadi ingin bertanya.
"Karena aku tidak ingin melepaskan mu."
"Bukannya aku enggak akan kemana-mana ...," ujar Luna geli. Ian menoleh sebentar ke samping lalu tersenyum.
"Aku tidak peduli. Saat ini aku ingin terus menggenggam tanganmu sayang." Setelah mengatakan itu, Ian kembali melihat ke depan. Dia sedang menyetir.
"Punya kebiasaan baru nih?" ledek Luna.
"Ya. Anggap saja begitu. Kamu tahu Luna, aku sangat bahagia mendengar kabar ini. Ada darah daging ku di dalam rahim kamu. Itu membahagiakan Luna." Ian tersenyum lagi.
"Aku juga bahagia. Bukan hanya kamu," kata Luna dengan mengernyitkan hidungnya pada Ian. Sekedar ingin menggoda pria ini. Tiba-tiba saja Ian menghentikan mobilnya. "Ha? Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Luna bingung dan heran.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mencium mu sekarang," kata Ian mengejutkan.
"A-apa? Mencium?" tanya Luna tidak percaya. Ia panik. Lalu melihat ke sekitar.
..._____...
__ADS_1