Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 85


__ADS_3

"Kenapa harus bertemu Danar. Kamu mau apa?" tanya Karin.


"Tolong ambilkan handphone ku."


Karin segera mengambil ponsel karena Luna terlihat gusar dan tidak sabaran.


"Ini." Karin menyerahkan ponsel pada Luna. Gadis ini menekan nomor kontak Danar. Setelah beberapa detik, akhirnya ada yang menerima.


"Danar."


"Ya, Lun."


"Dimana Pak Ian sekarang?" tegur Luna tidak perlu basa-basi.


"Aku tidak tahu."


"Tidak tahu?" Luna terkejut. Ini jawaban yang tidak di sangka-sangka. "Kenapa kamu tidak tahu kemana bos kamu berada? Kamu tahu bagaimana situasi sekarang kan? Atau jangan-jangan kamu sedang bersama Pak Ian sekarang."


"Tidak. Aku sedang sendirian di sini."


"Dimana kamu?"

__ADS_1


"Aku masih di dalam gedung. Terlihat jika dari tempatmu sekarang. Kamu di ruang rias kan?"


"Aku akan ke sana sekarang. Kita sama-sama akan mencari Pak Ian dan Elio."


"Tapi Lun!" Klik. Luna tidak peduli kelanjutannya.


"Lun! Kamu mau kemana?" tanya Karin yang mengikuti Luna di belakang.


"Aku akan menemui Danar. Aku akan mencari pria tampan yang sudah membuat aku amburadul. Aku akan marahi dia dan ku patahkan kakinya jika ketemu nanti." Luna mengatakannya dengan emosional.


Siapa tidak marah dalam ketidakjelasan seperti ini? Bahkan ini adalah hari pernikahan.


"Aku ikut. Kamu bisa menggila dan tidak ada yang menenangkan mu nanti," kata Karin.


"Menjaga pesta? Kamu pikir aku Wedding organizer?" Karin mengerucutkan bibir.


"Tolong. Saat aku bisa membawa pulang Pak Ian, aku akan langsung menikahinya," kata Luna geram.


"Oke. Oke. Ponsel selalu on ya. Jadi ada apa-apa telepon aku." Karin langsung setuju. Daripada dia harus melihat kawannya frustasi hanya menunggu saja.


"Ya. Aku pergi Karin."

__ADS_1


Masih dengan pakaian pengantinnya, Luna beranjak pergi dari ruang rias. Beberapa orang yang masih ada di pesta memandang heran sekaligus kasihan.


"Mama?" Ternyata mama ada bersama Danar di depan pintu aula. Perempuan itu tersenyum sedih dan bingung secara bersamaan. Tanpa banyak bicara, Luna langsung memeluk mertuanya.


"Aku pikir tidak ada satupun dari keluarga Pak Ian di sini. Aku pikir aku di tinggalkan." Luna mengatakannya dengan jujur.


"Maafkan Mama. Bukan maksud mama membuat mu bersedih. Mama sengaja merahasiakan ini agar kamu tidak panik. Namun ternyata Ian tidak muncul juga. Jadinya mama hanya berdiri di sini dengan bingung," kata mama merasa bersalah.


"Ya. Pasti mama kebingungan juga. Lalu bagaimana dengan para tamu?" Luna menunjuk ke arah tamu-tamu yang masih tersisa di aula.


"Aku sudah menenangkan tamu sejak tadi. Sebagian sudah pulang, tapi ada juga yang masih menunggu." Danar menyahuti.


Ternyata Danar memang harus di sini membantu mama Ian mengatasi kepanikan dan kebisingan semua orang yang membicarakan pesta pernikahan yang masih terkatung-katung tidak jelas.


"Ijinkan aku ikut mencari Elio dan Ian di luar Ma," pamit Luna.


"A-apa?"


"Kalau aku tetap di sini, aku bisa gila. Aku harus melakukan sesuatu juga demi kewarasan ku." Luna tidak bisa membayangkan hanya menunggu saja tanpa melakukan apa-apa.


Mama menyentuh garis pipi menantunya dengan iba. "Kamulah orang yang paling terluka di sini."

__ADS_1


"Tidak Ma. Kalau ternyata Pak Ian tidak meninggalkan aku, aku tidak terluka. Aku baik-baik saja. Entah kalau pernikahan ini gagal." Kalimat terakhir terdengar melemah.


..._______...


__ADS_2