
Brak!
Naura kesal sambil menendang kursi di depannya. Yuda melirik.
"Kenapa sih, dia? Tiba-tiba saja marah-marah. Memangnya kenapa denganku? Kamu tahu Yud, kenapa dia?" tanya Naura kesal sambil melipat tangan.
"Tidak. Aku juga terkejut."
"Ini tidak pernah terjadi kan?" tanya Naura tidak yakin.
"Bukannya dia kekasihmu. Seharusnya kamu lebih tahu," kata Yuda.
"Tidak tahu. Aku sangat kesal." Naura kembali menendang kursi yang ada di depannya. "Bukannya dia juga teman kamu." Yuda dan Naura diam beberapa detik. Mereka sangat terkejut dengan kejadian barusan. "Padahal dia hanya bicara dengan staf keuangannya, tapi seakan dia sedang rapat hal penting," dengus Naura.
"Mungkin saja memang sedang bicara hal penting," timpal Yuda seperti sedang membela.
"Kamu membela Ian atau perempuan itu?" tegur Naura tidak senang. “Jangan-jangan kamu tertarik dengan perempuan itu dan membelanya,” tuding Naura. Yuda menaikkan ujung bibirnya sedikit seraya mengangkat bahu. “Cih,” cibir Naura. “Lalu ini apa?" tanya Naura melihat ruangan Yuda.
"Ruangan untukku," kata Yuda.
"Ruangan baru?" tanya Naura mengamati. "Sepertinya ini ruangan Danar." Naura pernah tahu.
"Ya. Dia akan di berikan ruangan yang lebih kecil dari ini. Aku akan bekerja di sini. Jadi aku mudah memantau Ian." Yuda melipat tangannya sambil bersandar pada kursi.
"Bagus juga. Aku bisa duduk di sini saat Ian menyebalkan seperti tadi," kata Naura geram.
"Kenapa tidak langsung pergi saja?" tanya Yuda.
"Aku tidak bisa pergi karena sudah janji denganmu. Bukannya pemeran utama, di cerita ini adalah aku?" Naura menunjuk dirinya.
Yuda manggut-manggut. "Benar. Kamu adalah pemeran utama dari sandiwara ini."
"Sampai kapan semuanya akan tetap seperti ini, Yuda? Kapan harta Ian akan terbagi untukku?" tanya Naura.
"Sabar saja."
"Aaghh, aku sudah tidak bisa bersabar. Aku ingin segera menikmati harta itu." Naura geram.
"Kamu lakukan saja seperti biasa. Apakah pekerjaan model mu menurun? Kenapa begitu ingin mendapatkan uang banyak?" tanya Yuda ikut kesal dengan tingkah Naura.
"Kamu pikir pekerjaan ini tidak membutuhkan biaya? Wajah dan tubuh ini butuh asupan untuk tetap terlihat bagus, Yuda," geram Naura.
"Ternyata cantik mu itu bukan asli ya ...," cemooh Yuda.
__ADS_1
"Benar. Kamu pasti membandingkan aku dengan perempuan itu. Mina." Naura tahu siapa yang di maksud Yuda. Itu pasti istri Ian. Pujaan hati Yuda yang memilih menikah dengan Ian. Padahal mereka adalah sepasang kekasih. "Huh, meski kecantikan dia asli. Mungkin saja hatinya buruk. Karena ternyata dia lebih memilih Ian yang lebih kaya darimu," pungkas Naura.
"Tutup mulutmu," hardik Yuda.
"Ups, aku kelepasan bicara," kata Naura sambil pura-pura menutup mulutnya. Lalu mencibir Yuda. Pria ini langsung bangkit dari kursinya dan menarik lengan Naura dengan kasar.
"Apa-apaan ini?!" tanah Naura setengah panik.
"Jangan pernah menyebut Mina sama dengan perempuan seperti kamu, Naura. Dia berbeda,” desis Yuda.
"Oke. Oke. Aku paham cinta mu yang begitu besar padanya." Naura mengalah.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menguping mereka. Orang itu berdiri di depan pintu mereka yang tidak tertutup rapat. Mereka berpikir ruangan yang berada di pojok ini begitu sunyi hingga tanpa sadar mereka tidak waspada.
Yuda langsung melepas cengkeramannya. Lalu membalikkan badan dan mendekat ke pintu. Bermaksud menangkap basah orang yang menguping. Namun saat Yuda membuka pintu lebar-lebar, tidak ada siapa-siapa di sana.
Naura mengerutkan kening. "Ada apa, Yud?"
"Aku merasa ada seseorang yang sedang menguping," sahut Yuda.
"Benarkah?" Naura terkejut. Ia sampai harus beranjak dari kursi. "Siapa dia?" tanya Naura yang berdiri dengan tegang.
"Benar, enggak ada orang di luar?" tanya Naura tidak yakin.
"Ini lantai spesial. Ruangan Danar juga bukan ruangan sembarangan. Tidak mungkin banyak orang yang melintas di lorong ini," jelas Yuda. Naura mengangguk mencoba yakin.
...***...
Di depan pintu ruangan eks Danar beberapa menit yang lalu.
"Kar ..."
Karin menoleh ke belakang dengan terkejut. Ia langsung mendorong tubuh temannya. Menjauh dari depan pintu ruangan Danar. Luna yang tidak mengerti hanya bisa membiarkan tubuhnya di dorong dengan bingung.
"Kenapa ..." Luna memaksa untuk bicara.
"Ssttt ...," kata Karin menutup mulut Luna. Bola mata Luna melebar bingung dengan sikap Karin. Ada apa sebenarnya? Setelah agak jauh dari pintu tadi, Karin melepaskan tangannya yang membekap mulut Luna.
"Ada apa? Kenapa aku di dorong dan di bekap? Kamu mirip penculik yang menyekap sanderanya," ucap Luna gusar.
"Sst ..." kata Karin lagi. Masih sama seperti tadi.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak bilang, tentu aku enggak tahu," bisik Luna. Wajah Karin tampak pucat. Dia seperti melihat hantu. "Karin ... kamu enggak apa-apa? Ada apa?" tanya Luna sambil mengguncang-guncangkan tubuh Karin pelan.
"Itu ... Disana ... Mereka ..." Karin bicara dengan bingung dan panik.
"Iya. Disana. Tenang. Mereka itu siapa?" tanya Luna berusaha membantu Karin bicara dengan benar. Karin menggeram pelan. Lalu ia menggerakkan jarinya tanpa suara. Lalu bergerak menjauh. Perempuan ini ingin Luna ikut dengannya.
Bola mata Luna mengerjap. Akhirnya dia ikut Karin. Berjalan di belakangnya untuk pergi dari sana. Sesekali kepala Luna menoleh ke belakang. Mencari tahu ada apa sebenarnya.
...*****...
Di lorong. Lantai lain gedung ini.
“Stop. Kita cukup jauh dari ruangan Danar.” Luna berhenti melangkah. Karin pun akhirnya ikut berhenti. Namun pandangannya was-was. Luna ikut melihat ke kanan dan ke kiri. “Ayo katakan. Apa yang kamu lihat tadi?” todong Luna.
“Sssttt ... Jangan keras-keras." Karin geram dengan raut wajah takut.
"Oke. Oke. Bicaralah."
"Aku mendengar ... Mereka ..." Karin menghentikan kalimatnya. Mengambil napas sejenak.
"Mereka kenapa?" kejar Luna.
"Mereka sedang membicarakan Pak Ian." Suara Karin terdengar gemetar. Napasnya juga terengah-engah. Luna sampai kasihan. Dia pun tidak jadi bertanya lagi. Sepertinya memberi Karin minum adalah tindakan yang tepat.
Luna membawa temannya itu ke ruangannya. Lalu menyuguhkan minuman. Karin menyeruput air putih itu dengan cepat.
"Pelan-pelan ..." Luna memperingatkan. Namun Karin tidak bisa mendengarkan Luna dengan baik. Baru setelah kebutuhan airnya terpenuhi, Karin meletakkan gelas agak keras di atas meja. "Hei ..." Luna meringis melihat itu. Takut gelas itu pecah dan repot membersihkan.
"Aku mendengar mereka berdua membicarakan Pak Ian," kata Karin dengan cepat. Dia belum benar-benar bisa mengatur napas.
"Siapa?" tanya Luna.
"Yuda dan model cantik itu," jawab Karin.
"Bukannya mereka sudah biasa membicarakan Pak Ian. Apalagi mereka orang terdekat Pak Ian. Pengacara dan kekasihnya. Tidak aneh jika mereka bicara soal Pak Ian."
"Aku tahu. Aku tidak mungkin seperti ini kalau isi pembicaraan mereka normal." Bola mata Karin melebar dengan horor.
"Lalu apa yang mereka bicarakan sampai kamu tegang dan ketakutan?" Luna mulai merasa gelisah.
"Yuda dan model itu punya rencana buruk pada Pak Ian. Naura itu palsu. Dia tidak benar-benar mencintai Pak Ian. Mereka ingin menipu Pak Ian, Luna ...," kata Karin sambil memegang punggung tangan Luna dengan wajah pucat dan gemetar.
...____________...
__ADS_1