Anak Bos Yang Kabur

Anak Bos Yang Kabur
Bab. 43


__ADS_3

Luna tersenyum mengangguk dengan panik saat pria itu memilih duduk di sampingnya dengan santai.


 


"Jika dekat seperti ini, kita bicara dengan nyaman." Ian puas bisa duduk tepat di sebelah Luna. Namun pria ini tidak tahu kalau Luna justru sesak napas. Sesak napas karena berdebar tidak karuan.


 


"Emm ... Bapak tidak pulang?" tanya Luna tiba-tiba.


 


"Kamu mengusirku?" tanya Ian dengan bola mata melebar. Mungkin dia terkejut.


 


"B-bukan. Tentu saja saya tidak berani melakukannya," jawab Luna gugup. Dia menggoyang-goyangkan tangannya.


 


"Lalu kenapa kamu mengusirku?"


 


"Em ... itu ... Bapak membuat saya sesak napas,” sahut Luna.


 

__ADS_1


"Kamu sakit?" tanya Ian terkejut. Ia makin mendekatkan tubuhnya karena cemas mendengar pengakuan Luna. "Ayo. Kita harus segera ke rumah sakit," ajak Pak Ian tanggap.


 


"B-bukan. Bukan seperti itu, Pak!" Suara Luna agak meninggi. Bahkan wanita ini berdiri. Ian tertegun. Luna berdecih di dalam hati dengan sikapnya saat ini. Namun ia harus tegas.


 


Bola mata Ian mengerjap pelan. Mungkin tidak menduga kalau Luna akan bersuara tinggi padanya. Ini sangat jarang terjadi.


 


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ian tetap lembut meskipun Luna bersikap galak. Ini membuat Luna makin amburadul.


 


"Saya sehat, Pak. Saya ini baik-baik saja ..." Luna menjeda kalimatnya. Mengambil napas dulu untuk bicara selanjutnya. “ ... tapi napas saya jadi sesak kalau Pak Ian duduk dekat dengan saya. Karena dada saya berdebar terus menerus saat Pak Ian ada di dekat saya," ungkap Luna lebih lengkap. Napasnya naik turun karena mengerahkan seluruh tenaganya.


 


 


Sial. Apa yang aku katakan? Itu bodoh. Itu gila! Aku benar-benar menggila! Sialan.


 


Luna melirik. Ian masih tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala mengerti maksud wanita yang lebih muda darinya ini.

__ADS_1


 


Jangan tersenyum dan mengangguk mengerti, Pak. Anda tidak mengerti dan jangan mengerti. Karena aku bisa mati karena malu!


 


"Duduklah, Luna," pinta Pak Ian. Luna meringis dan menangis di dalam hati. Ia harus duduk karena Pak Ian memintanya. Meskipun begitu, pandangannya tetap melihat ke arah lain. Dia malu untuk tatap muka dengan Pak Ian. "Sepertinya aku memang harus pulang. Elio mencariku," kata Ian sambil melihat ke arah ponselnya.


 


Oh, Pak Ian tidak dengar apa yang aku katakan. Luna hanya mengangguk saja.


 


Pak Ian bangkit dari duduknya. "Istirahat dengan cepat. Jadi besok bisa kerja dengan pikiran fresh," pesan Pak Ian. Kepala Luna mengangguk lagi. Ia tidak ingin mengeluarkan sepatah kata apapun.


 


Benar! Pak Ian tidak mendengar apa yang aku katakan. Buktinya Pak Ian tidak membahas apa yang aku katakan tadi. Luna kegirangan.


 


Kaki Luna mengikuti langkah Pak Ian menuju pintu. Meskipun begitu, sebenarnya dia tidak ingin mengantar karena rasa malu karena kelepasan bicara masih ada. Namun sungguh tidak sopan jika ia membiarkan Pak Ian jalan sendiri keluar. Pria itu atasannya.


 


"Tidak mengantar tidak apa-apa. Aku bisa jalan sendiri ke depan. Itu tidak sulit." Rupanya Pak Ian mengerti. Luna mengantar sampai di depan pintu rumahnya saja. Ia sudah mendapat acc. "Selamat malam Luna. Sampai jumpa besok," ujar Ian membuat Luna mengerjapkan mata.

__ADS_1


...__________...



__ADS_2