
"Sudah, sudah, sana. Mama mau makan buah," usir beliau.
"Baiklah, Mamaku sayang." Ian melepas pelukannya. Lalu tersenyum sambil berlalu pergi.
"Dasar Ian. Sepertinya dia sudah sangat jatuh cinta pada gadis itu. Hhh ... susah memang kalau menghadapi orang yang jatuh cinta," keluh mama.
"Oh, ibu di sini." Bibi pengasuh muncul di dapur.
"Ada apa Bi?"
"Anu Bu, Elio rewel minta susu."
"Sekarang dia sendirian?" tanya mama Ian meletakkan buahnya seraya berdiri.
"Enggak, Bu. Ada Pak Ian yang menemani."
"Oh, ya sudah." Mama Ian kembali duduk. "Memangnya kekasih Ian itu sering ke sini, Bi?" tanya mama Ian pada bibi pengasuh yang sedang buat susu. Beliau yang awalnya ingin tidak peduli jadi penasaran.
"Tidak terlalu sering, tapi kalau nona Luna datang, pasti suasana rumah ramai. Elio pun gembira karena sejak kejadian itu, mereka dekat."
"Kejadian itu?" tanya Mama Ian mengerutkan kening. Merasa tidak tahu menahu kejadian yang di maksud pengasuh.
"Oh, itu ... Anu ..." Bibi pengasuh kebingungan. Dia langsung panik karena salah bicara. Lupa juga bahwa Nyonya besar tidak tahu soal kaburnya Elio. "Tidak. Tidak ada apa-apa."
"Jangan menyembunyikan sesuatu dari saya ya? Meskipun itu perintah Ian," gertak mama Ian.
"Maafkan saya, Bu." Bibi pengasuh bermaksud menutup mulut.
"Bi, susu-nya belum selesai?" tanya Ian yang datang menjemput susu untuk Elio. Bibi dan mama Ian terkejut. Tubuh mereka sampai berjingkat karena kaget.
"S-sudah Pak. Ini ..." Bibi berjalan mendekat ke Ian.
"Bibi tidak usah kembali ke kamar. Biar saya yang temani Elio," kata Ian.
"Baik Pak."
"Mama ikut menemani, Ian?" tanya mama.
"Tidak perlu, Ma. Biar Elio denganku saja." Setelan mengatakan itu, Ian pergi. Kini tinggal Mama Elio dan bibi pengasuh. Ujung mata mama sudah melirik ke arah bibi pengasuh. Beliau sudah mengincar untuk mendesak lagi.
"Katakan saja, Bi. Saya tidak akan marah," ujar mama Ian berusaha membujuk. Kali ini dengan metode halus dan lembut. Tidak pakai mengancam seperti tadi.
__ADS_1
"E ... itu Bu." Bibi pengasuh ragu. Mama Ian dengan sabar menunggu. "Elio pernah kabur dari rumah." Bibi pengasuh akhirnya mengaku. "Jangan bilang sama Pak Ian kalau ibu tahu dari saya ya ..."
"Pasti itu. Tunggu. Kabur? Kabur gimana?" tanya mama Ian mendekat. Bibi pengasuh pun bercerita tentang Elio yang kabur ke rumah Luna. Juga soal kehebohan karena salah paham. "Kenapa Elio sampai kabur? Memangnya Ian sering marah-marah sama anak itu?"
"Bukan. Itu karena ... Elio enggak suka sama non Naura. Jadi ... pas dengar non Naura mau jadi mamanya, Elio ... protes dengan kabur, Bu," ungkap bibi pengasuh dengan takut-takut.
Raut wajah mama Ian memang terlihat tidak ramah. Namun sepertinya perempuan paruh baya ini sedang menahan amarah.
"Ternyata perempuan itu bertingkah di rumah ini, ya ...," kata mama Ian geram.
"Iya Bu. Untung saja enggak jadi sama Pak Ian." Bibi pengasuh malah menambahi.
"Kalau kekasih Ian yang sekarang, gimana?"
"S-saya tidak bisa bilang-bilang apa-apa Buk." Bibi enggan mengomentari Luna.
"Saya kan belum pernah bicara banyak itu, jadi kurang paham. Apa dia juga bertingkah di rumah ini?"
"Kalau itu sih ya enggak, Buk. Non Luna itu enggak macam-macam. Dia biasa saja," kata Bibi pengasuh.
"Ya sudah. Tolong beresin kupasan buah itu ya? Aku mau istirahat." Mama Ian menepuk lengan bibi pengasuh dengan pelan. Lalu berjalan keluar.
**
"Maaf, sayang. Kencan kita jadi seperti ini," kata Ian.
"Tidak apa-apa. Kita kan memang janji sama Elio mengajaknya jalan-jalan," sahut Luna.
"Elio, jangan berlarian terus," nasehat Ian. Meskipun di nasehati, Elio tetap berlarian. Bocah itu terlalu gembira karena di ajak keluar oleh papanya. Luna pun turun tangan. Dia melangkah menangkap bocah itu.
"El, jangan lari-lari terus dong. Nanti kamu hilang dan enggak bisa ketemu papa. Mau, kamu di culik orang terus di jadikan sop daging?" gertak Luna.
"Enggak mau," sahut Elio cepat.
"Ya sudah. Kita jalan dulu bersama-sama. Nanti kalau pas di taman di sana itu, baru kamu bisa berlarian. Disana juga banyak anak kecil yang bermain, jadi aman. Kamu juga enggak akan nabrak orang," usul Luna sambil menunjuk ke arah Utara. "Kalau enggak mau, nanti papa enggak mau ngajak kamu keluar lagi lho."
"Iya, Tante." Elio patuh.
"Kita sekarang jalan saja, jangan lari-lari," imbuh Luna. Elio mengangguk. Ian yang sudah dekat dengan mereka tersenyum.
"Sudah selesai kesepakatannya?" canda Ian sambil senyum.
__ADS_1
"Sip," kata Luna memberikan jempolnya pada Ian.
"Elio enggak akan lari-lari, Pa. Karena Elio mau di ajak jalan-jalan lagi," kata Elio. "Juga enggak mau jadi sop daging," imbuh Elio yang membuat Ian heran. Luna tergelak mendengar itu.
"Sop daging apa?" tanya Ian tidak mengerti.
"Itu kode rahasia kita berdua," jelas Luna sambil melingkarkan tangannya pada lengan Ian.
"Oh, jadi ada kode rahasia antara kalian berdua ... Lalu kode rahasia kita apa?" tanya Ian iseng. Pria ini sepertinya ketularan sifat Luna.
"Enggak ada."
"Kenapa enggak ada?"
"Itu nanti kalau sudah nikah baru ada kode rahasia," sahut Luna spontan.
"Kode rahasia setelah menikah? Apa itu?" tanya Ian dengan mata nakal menggoda.
"Ishh ... " Giliran di tantang, Luna malah menghindar. Akhirnya mereka tiba di taman bermain. Di sini Elio di biarkan bermain sebebasnya. Banyak juga anak yang sebayanya. Sementara Luna dan Ian duduk di pinggir sambil mengobrol.
"Apa tidak ada keluarga lain yang ingin kamu kabari pernikahan kita, Luna?" tanya Ian.
"Ada. Keluargaku di kampung. Itu nenekku. Aku hanya tinggal dengan nenek."
"Kenapa tidak mengenalkan aku pada beliau? Aku juga butuh restu dari keluargamu."
"Nenekku tinggal dengan keluarga barunya. Dia menikah lagi setelah umurnya sudah tua. Mereka pasti merestui kita. Yang lebih penting adalah mama."
"Mama pasti merestui kita," kata Ian yakin.
"Benarkah? Aku pasti bukan kriteria menantu idaman."
"Memangnya seperti apa, menantu idaman itu?" tanya Ian setengah bercanda.
"Ya ... yang sempurnalah. Cantik, baik, penurut, bisa masak ..."
"Tidak perlu muluk. Yang penting hati klik. Kamu sudah mencakup semuanya," potong Ian. Luna tergelak sambil tepuk tangan untuk dirinya sendiri. "Lagipula satu kamu saja aku belum selesai mencicipinya. Bagaimana bisa aku mencari yang lain."
"M-mencicipi bagaimana sih?" Luna langsung terdiam dan salah tingkah mendengar kata-kata Ian.
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa wajahmu memerah?" tanya Ian sambil tergelak.
__ADS_1
...____...