Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Keinginan Rianty


__ADS_3

"Kak kita mau ke mana? Aku mau pulang, aku lelah", ujar Monica pada Devan, menyenderkan kepalanya ke tempat duduk mobil.


"Ya, ini kita memang mau pulang", sahut Devan singkat dan konsentrasi memperhatikan jalan, lagipula Devan juga lagi malas bicara pada Monica, setelah mengetahui semua perbuatan Monica.


"Lho ke mana kita pulang?", tanya Monica kembali menegakan kepalanya dan memperhatikan jalanan di depan.


"Pulang ke mansion kita!", sahut Devan.


"Aku tidak mau, aku mau pulang ke mansion ku sendiri. Malas, nanti ibu ngomel lagi!", ujar Monica.


"Sadarlah kamu! Kalau tidak ada ibu, kamu tidak mungkin dilepas Gerald! Ubah sifat mu itu! jangan coba-coba mencelakakan Rianty lagi, atau kali ini tak ada lagi yang bisa membantumu lagi!


Untuk apa kau balik ke mansion mu lagi, surat gugatan cerai saja sudah siap, tinggal kau tanda tangani", ujar Devan yang akhirnya melampiaskan kemarahan nya pada Monica.


"Aku tidak mau tanda tangan! Aku tidak mau bercerai dari Gerald!", ujar Monica masih keras kepala.


"Memang kau pikir kau masih punya hak memilih? Dengan persetujuan mu ataupun tanpa persetujuannya Gerald bisa menceraikan mu atas kesalahan yang sudah kau lakukan. Aku tidak mengerti apa yang otakmu pikirkan hingga bisa melakukan hal seperti itu? Sadarlah Monica, sebelum terlambat!", omel Devan kesal.


Kali ini mendengar omelan Devan, Monica terpaku diam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Devan hanya bisa menghela nafas, menyesali tindakan Monica yang sudah salah dari pertama.


...********...


Betul saja begitu sampai di Mansion Anderson, Monica sudah dihadang di depan pintu masuk rumah oleh Mirna.


Tampak wajah Mirna memerah karena emosi, dan langsung menarik Monica ke dalam.


"Dasar anak gak tahu malu! Berbuat yang tidak-tidak! Percuma aku menyekolahkanmu tinggi-tinggi, kalau jadinya seperti ini. Aku bahkan sudah memilihkan kamu suami yang sempurna, kamu malah hadiahkan pada perempuan lain!", sesal Mirna sambil memukul-mukul punggung Monica dengan kesal.


Sedangkan Monica hanya diam menerima pukulan ibunya tanpa ekspresi.


Akhirnya yang sadar dulu adalah Devan yang segera menangkap tangan ibunya.

__ADS_1


"Sudahlah Bu, semua sudah terlanjur. Nasi sudah jadi bubur, biarkan Monica merenungi kesalahan nya sendiri dan berubah.


Jangan diungkit lagi, biar Monica juga memulai hidup baru lagi", ujar Devan merasa kasihan pada Monica juga.


Sedangkan pak Anderson hanya melihat dari ujung ruangan dan hanya menghela nafas. Pak Anderson memang jarang mengurusi masalah rumah tangga, jadi Mirna yang selalu mengambil keputusan masalah keluarga.


"Yang ibu sesalkan, ibu sudah berhasil memilih pria yang sempurna untuk dia, tetapi dia tidak menjaganya, malah menyia-nyiakan usaha ibu!", ujar Mirna masih tidak terima.


"Justru karena ibu memilihkan pria yang terlalu sempurna buat aku, makanya aku tidak bisa menghadapinya!", sahut Monica dengan muka datar.


"Jadi kamu maunya pria gembel seperti Patrick simpanan mu itu?", tanya Mirna kesal.


"Bahkan sekarang aku menikah dengan seorang pengemis juga sudah tidak masalah buatku, asal ibu mau menerima!", ujar Monica lagi langsung beranjak bangun meninggalkan Mirna yang menjadi bingung


"Devan! Lihat adikmu itu sudah gila!dasar anak gak tahu diuntung! Kalau mau mu begitu lihat nanti apa yang akan ibu lakukan!", ujar Mirna tidak terima atas perlakuan Monica, sambil menepuk-nepuk dadanya karena kesal.


Sedangkan Devan hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi, Devan hanya bisa menepuk-nepuk punggung Mirna, agar ibunya bisa lebih sabar.


...********...


Tapi tidak demikian dengan Rianty, Rianty tetap merasa was-was dan risih karena mereka berada di kantor.


Benar saja ketika ada yang mengetuk pintu ruangan Gerald, Gerald langsung memerintahkan masuk dan sama sekali tidak berniat melepaskan Rianty dari pangkuannya.


Rianty yang kelabakan dan tidak sempat melakukan apapun, akhirnya hanya diam saja. Untung saja yang masuk adalah sekretaris Kim lagi, sehingga Rianty agak merasa lega.


Sekretaris Kim sempat tertegun melihat pemandangan di depannya,


"Astaga ini mau kerja atau mau ngapain di kantor? Sebaiknya aku cepat mengurus honeymoon Tuan saja, daripada tiap hari aku disajikan pemandangan seperti ini", keluh sekretaris Kim dalam hati.


Tapi sesudah itu sekretaris Kim menghampiri Gerald, dan bersikap biasa seperti tidak melihat apapun juga,


"Yang satu ini belum ditanda tangani Tuan", ujar sekretaris Kim sambil memberikan filenya.

__ADS_1


"Ketinggalan ngasih ya?", tanya Gerald dengan polos dan sama sekali tidak merasa bersalah.


"Bukan, tadi sudah kuberikan, tapi tuan lupa tanda tangan", sahut sekretaris Kim kali ini tidak mau mengalah lagi.


"Huh masih mau nyalahin aku!", omelnya dalam hati.


"Bukan lupa, tapi mungkin terselip. Karena tadi file yang kamu berikan agak berantakan!", ujar Gerald yang tidak pernah mau kalah.


Akhirnya sekretaris Kim beranjak keluar dari ruangan Gerald tanpa berkata apa pun lagi, sesudah Gerald menandatangani file nya.


Rianty hanya tersenyum mendengar perbincangan kedua orang itu, akhirnya Rianty juga semakin mengerti sifat Gerald yang jarang mau mengalah, hanya padanya saja Gerald bisa mengalah.


...********...


Sedang Rianty berpikir bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari pangkuan Gerald, tiba-tiba saja Rianty teringat dengan pamannya Dodi yang sempat dia lupakan, karena suasana bahagia dalam hidupnya beberapa hari ini.


"Mas aku mau ketemu pamanku, boleh ya mas? Aku naik transportasi online saja, daripada aku di sini mengganggu pekerjaan mas.Lagipula aku belum pernah bertemu paman?", tanya Rianty meminta ijin Gerald untuk bertemu Dodi.


Gerald yang dari tadi sedang serius memperhatikan layar monitor, langsung mengalihkan pandangan nya pada Rianty yang masih berada di pangkuan nya.


"Mas kurang suka kamu menemui paman mu! paman mu licik dan suka memanfaatkan mu. Dia juga sangat pandai bersilat lidah. Mas takut kamu ditipu dia lagi!", ujar Gerald kurang setuju.


"Tapi bagaimanapun dia tetap pamanku. Dia juga pernah menolongku. Dia adalah satu-satu keluargaku yang tersisa mas. Lagipula ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada paman Dodi, boleh ya mas", ujar Rianty, membalas tatapan Gerald dengan tatapan memohon sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Gerald.


"Kamu semakin pintar merayu ya!", ujar Gerald menghela nafas.


"Baiklah! Ayo aku antar kamu ke sana!", ujar Gerald menarik tangan Rianty dari lehernya, memberi tanda agar Rianty bangun dari pangkuannya.


Rianty langsung bangun dari pangkuan Gerald, sedangkan Gerald segera mematikan komputernya dan mengambil kunci mobil.


"Ayo!kita berangkat sekarang", ujar Gerald


"Terimakasih mas", sahut Rianty yang semakin hari semakin pintar menyenangkan hati Gerald, sambil memeluk lengan Gerald dengan kedua tangan nya.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2