Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Rianty tidak menyangka...


__ADS_3

"Mas Devan ada apa? Kalau ada masalah bicarakan baik-baik! jangan main tangan!", tegur Rianty yang kaget melihat Devan yang mendadak memukul Gerald sampai tersungkur.


Rianty segera berjongkok menghampiri Gerald. Melihat wajah Gerald yang sebagian memerah, tanpa sadar Rianty menyentuh bagian yang memerah itu dan mengelusnya seraya bertanya dengan nada khawatir,


"Sakit tuan Aldo?"


Mendapati Rianty yang perhatian padanya, Gerald tentu merasa senang , karena selama ini Rianty selalu terlihat segan dan menjaga jarak padanya, dan sepertinya Rianty bersedia menikah dengannya juga hanya karena terpaksa, hanya takut berpisah dari Aldi.


Gerald tidak menjawab pertanyaan Rianty, malah menatap lekat Rianty, perempuan yang sudah membuat dia tertarik sejak pertama bertemu.


Sedangkan Rianty yang serius memperhatikan wajah Gerald yang memerah, sama sekali tidak sadar, kalau Gerald sedang memperhatikannya.


Devan yang menyaksikan kejadian itu tentu hatinya semakin panas, Gerald bukan saja menyakiti adiknya, tapi Gerald juga sudah berhasil merebut wanita yang disukainya!


"Kamu sungguh terlalu Gerald, kita sudah berteman sejak kecil, tapi kamu tega menyakiti Monica adikku! Padahal dia begitu mencintaimu!", ujar Devan marah.


"Bangun kamu! Kita selesaikan masalah ini" sambung Devan lagi.


Mendengar hal tersebut Gerald segera menangkap pergelangan tangan Rianty, menurunkan tangan Rianty yang sedang mengelus wajahnya. Rianty seketika sadar dan merasa malu akan kelakuannya sendiri.


Setelah itu Gerald berdiri dan berjalan mendekati Devan.


"Apa maumu Devan? kamu masih ingin memukulku? Ayo! Aku akan meladenimu!", ujar Gerald yang juga sudah terpancing emosi.


Mendengar perkataan Gerald, Rianty segera menghampiri Gerald, dengan kedua tangannya, Rianty memegang pergelangan tangan kiri Gerald.


"Tuan Aldo jangan membuat keributan di sini, di sini tempat terbuka. Kalian adalah orang terpandang. Nanti akan jadi berita kalau terlihat orang lain!", ujar Rianty khawatir dan berusaha menyadarkan Gerald.


"Mas Devan, saya mohon!", ujar Rianty memandang ke Devan dengan memohon.


Devan memandang sejenak ke Rianty, entah mengapa setiap melihat muka Rianty, Devan merasa Rianty bukan perempuan yang jahat.


Tapi dia sungguh menyesalkan mengapa Rianty bisa berada di antara adiknya Monica dan Gerald.


"Baiklah, Gerald kutunggu kamu di kantorku untuk memberi penjelasan padaku!", ujar Devan akhirnya.


Dia sadar omongan Rianty ada benarnya juga, kalau mereka sampai berkelahi di sini, tentu akan menjadi berita yang hangat apabila sampai ada yang melihat.


"Aku pasti akan datang!", sahut Gerald sinis dan mengepalkan tangannya, bagaimanapun Devan sudah memukulnya, kalau bukan karena permintaan Rianty, dia ingin sekali memukul balik Devan.


Devan beranjak masuk ke mobilnya setelah itu, dan tidak berkata apa-apa lagi.


"Ya sudah, aku pergi dulu!", ujar Gerald pada Rianty.

__ADS_1


"Tuan Aldo masuk dulu ke dalam, biar wajahmu dikompres dulu, takutnya nanti akan membiru tuan", ujar Rianty menarik tangan Gerald dengan kedua tangannya, yang dari tadi kebetulan belum dia lepaskan dari pergelangan tangan Gerald karena takut Gerald dan Devan akan berbaku hantam.


Gerald memandang Rianty sekilas, sesudah itu mengangguk mengikuti Rianty masuk kembali ke dalam toko.


...********...


"Nyonya sudah ketemu cara bagaimana agar perempuan kampung itu bisa Nyonya kontrol gerak geriknya?", tanya Lena.


Entah mengapa Lena malah terlihat lebih kalang kabut, dibandingkan dengan sang Nyonya yang punya masalah.


"Sesudah kupikir-pikir aku akan meminta Aldi untuk tinggal di mansion ku, karena dari dulu aku sudah pernah meminta Gerald untuk tinggal di mansion kita, kalau dia sudah mempunyai anak, dan dia juga sudah menyetujui permintaanku waktu itu!", ujar Rini dengan mata menerawang.


Walau bagaimanapun Rini merasa senang dia memiliki seorang cucu, apalagi cucunya tampan dan juga terlihat cerdas. Bahkan begitu mirip dengan Gerald waktu kecil.


Sebenarnya dulu Rini menginginkan Monica dan Gerald tinggal di Mansion kembali, Rini merasa mansionnya begitu sepi sejak Gerald menikah dan tinggal di mansionnya sendiri.


Tapi Gerald menolak, karena Gerald tidak ingin ibunya tahu hubungannya yang buruk dengan Monica, sedangkan Monica sudah pasti setuju dengan penolakan Gerald, karena dia takut kebebasannya akan hilang kalau tinggal bersama mertuanya.


Akhirnya Rini meminta Gerald berjanji untuk tinggal bersamanya jika sudah mempunyai anak, agar Rini bisa membantunya menjaga dan memperhatikan cucunya, dengan alasan Gerald dan Monica yang selalu sibuk.


Gerald tentu saja langsung menyetujui permintaan ibunya dan tidak berpikir panjang lagi, karena Gerald yakin dia tidak mungkin mempunyai anak dengan Monica.


Gerald tentu tidak menyangka kalau janjinya ini, suatu hari akan membuat dia dalam masalah.


...********...


Kalau tinggal di dekat kita, tentu lebih mudah untuk melihat gerak geriknya", ujar Rini.


"Sudah pasti dia menyayangi anaknya, anaknya kan senjata dia untuk mendapatkan Tuan muda, nyonya!", sahut Lena yang tidak suka dan selalu berpikiran negatif pada Rianty.


"Nyonya yakin Gerald akan menyetujui permintaan nyonya, sedangkan sekarang Gerald begitu membela dan menurut pada perempuan itu?", tanya Lena lagi.


"Mau tidak mau Gerald tetap harus setuju, karena Gerald sudah berjanji padaku. Kamu tahu sendiri Gerald selalu menepati janjinya!", ujar Rini yakin.


"Kalau begitu nyonya harus gerak cepat, aku dapat kabar kalau sekretaris Kim sedang mencari rumah baru, aku yakin rumah itu pasti untuk perempuan itu, nyonya.


Perempuan kampung itu pintar, pasti dia mau mulai mengeruk harta tuan muda pelan-pelan. Nyonya jangan kalah taktik dengan perempuan kampung itu!", ujar Lena mulai mempengaruhi Rini lagi.


"Baiklah, aku akan segera menagih janjiku pada Gerald!", sahut Rini menghela nafas panjang, mulai terpengaruh ucapan asistennya lagi.


...********...


"Sudah Tuan, harusnya sesudah dikompres wajah tuan tidak akan membengkak parah", ujar Rianty sambil membereskan handuk dan alat-alat yang dia pakai tadi untuk mengompres wajah Gerald yang dipukul Devan.

__ADS_1


"Aldi ke mana? Koq dari tadi tidak kelihatan?"


"Saat saya cek tadi, ketiduran tuan, mungkin kecapean. Sikapnya Aldi, jangan terlalu diambil hati, mungkin tadi dia sedang capek, jadi moodnya jelek", ujar Rianty menjelaskan sifat Aldi.


Saat Rianty hendak membawa pergi peralatan tadi, tiba-tiba Gerald menarik tangan Rianty, Rianty yang tidak menyangka ditarik tangannya malah jatuh terduduk di pangkuan Gerald.


Begitu sadar dari kagetnya, Rianty berusaha beranjak bangun dari pangkuan Gerald, tetapi Gerald menahannya, bahkan memeluk pinggangnya.


"Tuan Aldo, lepaskan!", ujar Rianty dengan lirih, bagaimanapun Rianty terpengaruh dengan kedekatan mereka.


"Tidak! sebelum kamu menjawab pertanyaan ku!", sahut Gerald.


"Apa tuan?", tanya Rianty cepat, karena Rianty ingin segera lepas dari pelukan Gerald yang erat, dia sungguh merasa risih.


"Mengapa kamu tiba-tiba bersedia menikah dengan aku?"


Rianty sempat terdiam mendengar pertanyaan Gerald.


"Karena tuan adalah papa Aldi", sahut Rianty sesudah menemukan jawaban yang netral


"Apakah tidak ada alasan lain?"


Mendengar pertanyaan Gerald, kali ini Rianty menjadi bingung menjawab.


"Aku tidak tahu tuan", jawab Rianty akhirnya.


"Aku sudah menjawab tuan, tuan lepaskan pelukanmu!", sambung Rianty lagi.


"Mengapa kamu memanggil Devan, dengan sebutan mas Devan, mengapa terhadapku kamu memanggilku Tuan?"


"Aku mengikuti orang lain tuan."


"Aku bukan orang lain, aku akan segera menjadi suamimu, kamu harus merubah panggilan itu!"


"Baik mas Aldo", sahut Rianty cepat dan fasih, karena dia ingin segera lepas dari pelukan dan pangkuan Gerald


"Bagus!", sahut Gerald tersenyum puas.


"Aku ingin meminta sesuatu padamu, sesudah itu aku akan melepaskanmu!", sambung Gerald lagi.


"Apa mas Aldo?", tanya Rianty akhirnya menatap Gerald, padahal dari tadi Rianty tertunduk karena merasa risih.


Rianty tidak menyangka ketika dia menatap Gerald, Gerald menggunakan kesempatan itu untuk mengecup dan m*lu*at bibirnya dengan menekan kepala Rianty. Rianty yang tidak menyangka akan permintaan Gerald dan tidak berpengalaman, menjadi bingung dan sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap perlakuan intim Gerald.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2