
# Flashback kemaren malam#
Kedatangan Dita dan Ayu akhirnya membuat Gerald merasa tidak enak berada di kamar Rianty terus, Gerald akhirnya memilih ke coffe shop untuk bersantai dan minum secangkir kopi.
Sekitar jam 22.00 dia kembali ke kamar Rianty dan dengan perlahan membuka pintu kamar.
Ternyata dugaannya benar, Rianty sudah tertidur lelap mungkin karena pengaruh obat dan kali ini benar-benar sudah tertidur.
Akhirnya Gerald memilih duduk di bangku tadi lagi, entah rmengapa setiap melihat wajah Rianty dia merasakan perasaan yang bercampur aduk antara tertarik, kesal karena merasa Rianty dulu sudah menjebaknya, merasa kasihan mendengar perjalanan hidup Rianty dari sekretaris Kim.
Tapi hal yang jelas menarik perhatian Gerald adalah Rianty berbeda dengan wanita yang biasa berusaha menarik perhatiannya seperti Monica dan Lucy.
Rianty sama sekali tidak berusaha menarik perhatian dia, bahkan sepertinya Rianty berusaha menghindarinya.
Hal tersebutlah yang membuat Gerald bertambah penasaran.
"Jadi apa tujuannya dulu menyerahkan dirinya padaku, sesudah itu menghilang, dan sekarang Rianty malah dengan semudah itu menyuruh aku melupakannya dengan semudah itu"
Sedang berpikir tiba-tiba ada panggilan masuk untuknya, Gerald segera mengangkat handphonenya karena khawatir bunyinya akan membangunkan Rianty, tanpa melihat nama penelpon lagi, sambil menggerutu kesal,
"Huh siapa yang menelpon aku malam-malam, sungguh mengganggu!"
Sedangkan matanya masih mengarah pada wajah Rianty yang masih tertidur pulas.
"Halo Tuan Gerald, selamat malam, maaf mengganggu", terdengar suara sekretaris Kim
"Iya mengganggu! ada apa malam-malam menelpon aku, besok saja gak bisa?", tanya Gerald kesal.
"Sepertinya ini lumayan penting ...", ujar sekretaris Kim memancing.
"Katakanlah!"
"Tuan jangan kaget ya dengan beritaku
ini!"
"Heran, sejak kapan kamu berbelit-belit, katakan saja langsung, hal apa yang bisa membuat Tuan mu ini kaget!", tantang Gerald.
"Baiklah, setelah lumayan dekat dengan Aldi, saya menebak sepertinya Aldi adalah anak Tuan. Tinggal besok saya pastikan dengan tes DNA"
Ternyata kali ini Gerald benar-benar kaget dengan berita itu dan terdiam cukup lama.
__ADS_1
"Halo Tuan, tuan??"
Terdengar suara Kim memanggilnya, karena lama tidak mendengar suara apapun.
"Kamu yakin?"
Akhirnya terdengar suara Gerald bertanya, sesudah hening lumayan lama.
"Besok kita pastikan saja tuan, langsung tes DNA saja, hasilnya yang paling cepat 24 jam tuan. Saya sudah berhasil mengambil rambut Aldi untuk keperluan tes DNA. Saya juga memerlukan rambut tuan", sahut sekretaris Kim.
"Baiklah", ujar Gerald kembali menatap wajah Rianty.
"Awas kamu Rianty, kalau benar Aldi anakku. Berani sekali kamu menyembunyikannya dari aku!"
Gara-gara hal tersebutlah yang akhirnya membuat Gerald tidak bisa tidur semalaman karena penasaran, apalagi ditambah secangkir kopi tadi, akhirnya membuat Gerald duduk di depan Rianty tanpa tidur sekejap pun.
********
"Kamu tidak bisa menjawab aku? Siapa nama suamimu?", Gerald bertanya ulang lagi.
"Untuk apa tuan Aldo bertanya nama suamiku? Tuan juga tidak akan kenal.
"Memang aku tidak akan kenal kalau kamu sebutkan, tapi aku ingin tahu siapa papanya Aldi. Aldi anak yang pintar aku suka padanya", jawab Gerald yang sengaja ingin melihat reaksi Rianty.
Rianty tentu kaget dan sempat terdiam.
"Tuan Aldo pasti punya anak sendiri, untuk apa suka pada anakku', sahut Rianty yang asal jawab saja karena mulai takut.
"Aku dengan istriku tidak mungkin punya anak. Entah kalau dengan perempuan lain", sahut Gerald yang merasa senang sudah berhasil membuat Rianty ketakutan.
Kali ini Rianty benar-benar tidak bisa menjawab lagi, mukanya langsung berubah pucat, apalagi dia teringat Al yang dibawa sekretarisnya Gerald masih belum datang.
"Apa maksudmu tuan Aldo?"
"Kamu tentunya sudah mengerti maksudku, jangan berlagak bodoh!", gertak Gerald, karena dia masih belum mendapat kepastian dari tes DNA, tapi dia sudah tidak sabar dan penasaran.
Mendengar perkataan Gerald, Rianty mulai sadar kalau Gerald sudah mulai mencurigai kalau Al adalah anaknya, atau bahkan jangan-jangan sudah tahu.
Rianty walaupun berasal dari desa, tapi dia adalah seorang wanita yang lumayan cerdas. Rianty tahu percuma dia melawan orang seperti Gerald dengan kekerasan, dengan uang dan kekuasaannya, dia bisa melakukan apapun.
Rianty akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan mendekati Gerald yang berdiri di samping tempat tidurnya itu.
__ADS_1
"Biarlah aku merendahkan diriku, yang penting mereka mengembalikan Aldi padaku", pikir Rianty dalam hati.
Gerald tidak menyangka kalau Rianty kali ini mengeluarkan senjatanya, Rianty bersimpuh di kakinya sambil meneteskan air mata ,
"Tuan, aku mohon padamu, jangan ganggu hidupku dan anakku. Tidak mudah untukku mendapatkan hidup yang tenang ini. Aku dulu mungkin bersalah padamu, tapi sungguh aku tidak pernah menjebak tuan. Aku melakukannya karena aku sudah dibayar, dan saat itu aku membutuhkan uang, tidak ada maksud apapun. Percayalah padaku Tuan Aldo", ujar Rianty memohon.
Melihat itu, Gerald tiba-tiba merasa tidak tega dan berjongkok, dengan kedua tangannya dia memegang wajah Rianty, dan menghapus air mata Rianty dengan jari tangannya.
Kali ini Rianty membiarkannya, karena dia harus mengambil hati Gerald agar Gerald mau mengabulkan permohonannya dan percaya padanya kalau dia tidak pernah menjebak Gerald.
********
"Benar ya, kemaren yang dibawa Tuan Gerald saat kecelakaan itu bukan istrinya ya?", tanya seorang suster pada teman sejawatnya.
Saat itu ruangan masih sepi, karena masih sedikit orang yang berlalu lalang.
"Jelas bukan, mana mungkin istri pak Gerald naik motor. sedangkan perempuan cantik itu saat kecelakaan sedang membawa motor, dan sudah punya anak", sahut suster yang satu lagi.
"Wah berarti itu siapanya Tuan Gerald ya? Waktu sampai di sini Tuan Gerald yang menggendongnya sendiri, bahkan tuan Gerald yang mengisi formulir dengan jaminan namanya.
Pokoknya perhatian banget deh.
Aku kemaren malem kebagian memeriksa kamar VIP gadis cantik itu, kamu tahu tidak? Tuan Gerald duduk diam di bangku, hanya memperhatikan wanita cantik itu.
Ternyata Tuan Gerald menungguinya sampai semalaman. Kalau tidak ada hubungan, buat apa tuan Gerald melakukan itu. Kamu tahu sendiri sesibuk apa orang seperti Tuan Gerald?
Rumah sakit kita mengundangnya untuk suatu acara saja harus 2 minggu sebelumnya, tidak bisa mendadak", cerita suster itu merasa hebat dengan penemuannya itu.
Mendengar cerita itu, teman sejawatnya juga menjadi tertarik, karena Gerald mempunyai saham yang cukup besar di rumah sakit itu, dan sering diundang untuk acara-acara tertentu.
"Ah sudah biasa orang sekaya tuan Gerald itu mempunyai istri lebih dari satu, apalagi tuan Gerald belum mempunyai anak dari istrinya", sahut temannya itu.
Tapi gosip itu akhirnya terhenti, ketika suster yang pertama dipanggil ke UGD untuk membantu.
Kedua suster itu sama sekali tidak sadar kalau pembicaraan mereka didengar seorang perempuan berusia 50 an yang dari tadi berada di sana.
Perempuan itu adalah asisten kepercayaan nyonya Rini Anggara, ibunya Gerald.
Tentu apa yang didengarnya itu akan disampaikan ke Nyonya Rini, apalagi yang dia dengar itu adalah cerita tentang anaknya Nyonya Rini, Gerald Anggara.
Bersambung........
__ADS_1