
"Kak Devan, kalau suatu hari aku berbuat salah, apakah kamu masih menganggap ku sebagai adik mu?", tanya Monica pada Devan yang sedang serius memperhatikan surat-surat di meja kerjanya.
Mendengar pertanyaan aneh Monica, Devan langsung menghentikan kegiatannya dan memandang ke adik nya,
"Setahu kakak kamu adalah perempuan yang berperilaku bagus, selama ini kamu tidak pernah berbuat salah yang cukup berarti. Apa maksudmu usahamu yang yang mengalami kemunduran? Itu kan bukan salah mu.
Aku heran sama Gerald, dia pandai berbisnis, tapi mengapa dia tidak membantumu? Bagaimanapun juga kamu istrinya!", sahut Devan yang tidak menyukai Gerald, sejak Gerald menikahi Rianty.
"Ah kak Devan kurang peka, percuma aku mengeluarkan isi hatiku padanya. Ibu juga, bagaimana aku bisa berbicara padanya, kalau tiap hari dia selalu menyesalkan aku yang tidak bisa mengambil hati Gerald dan kalah dengan seorang gadis kampung!", gerutu Monica dalam hati, merasa sedih karena tidak ada tempat untuk berbagi.
Memang sudah beberapa hari ini Monica hatinya resah dan tidak tenang, dia sendiri juga bingung mengapa bisa begitu.
Apalagi ketika dia tidak bisa menghubungi Dodi, hatinya semakin bertambah cemas.
"Patrick kamu sungguh tega, kamu benar-benar meninggalkanku!", sesal Monica dalam hati. Saat merasa tidak ada orang yang mengerti dia, Monica menjadi teringat pada Patrick.
Melihat adiknya yang diam dan termenung, Devan jadi merasa kasihan, Devan pun bangun dari duduknya dan menghampiri Monica dan memegang kedua bahu Monica,
"Apakah Gerald melakukan sesuatu padamu? katakanlah, kalau iya aku akan mencarinya membuat perhitungan dengannya!", ujar Devan yang masih dendam pada Gerald, karena merasa Gerald sudah merebut Rianty.
"Melakukan apa kak? Apa yang bisa dilakukan Gerald padaku, pulang ke mansion ku saja sudah tidak pernah. Bahkan aku sudah lama tidak pernah bertemu Gerald.
Apa sih yang membuat seorang Rianty bisa membuat banyak laki-laki tertarik padanya. Aku yakin kak Devan juga pernah menyukai Rianty!", Monica malah menjadi marah mendengar pertanyaan Devan.
"Iya, aku akui dulu memang tertarik dengan Rianty. Sifatnya keibuan dan kelihatannya tulus dan tidak suka berpura-pura. Makanya aku tidak menyangka kalau Rianty bisa bersama Gerald, padahal Gerald sudah mempunyai istri. Ternyata aku selalu salah dalam menilai seorang wanita. Dulu Tiara, sekarang Rianty", ujar Devan menarik nafas kecewa.
"Kak Devan masak gak tahu rekaman pembicaraan Rianty dan bapaknya. Untung saja kak Devan gak sama Rianty, pasti memalukan buat keluarga kita. Cih, menjijikan, hanya seorang perempuan yang pernah menjual diri demi uang!", ujar Monica penuh kebencian, bahkan dia sudah lupa kalau dia sendiri yang sudah membelinya.
"Sebaiknya aku diam saja, Monica pasti membenci Rianty, karena sudah merebut Gerald darinya. Dari pada nanti aku salah berbicara malah membuat dia tambah sedih", pikir Devan dalam hati akhirnya memilih diam, dan menepuk-nepuk punggung Monica untuk
menghiburnya.
Padahal dalam hatinya Devan masih ingin bertanya, "Pada siapa Rianty menjual diri? Apakah pada Gerald?".
Selama dia mengenal Gerald sebagai temannya, rasanya hal yang tidak mungkin kalau Gerald mau membeli seorang perempuan hanya untuk memenuhi nafsunya.
Menurut Devan, tanpa harus membeli saja, mungkin banyak perempuan yang bersedia dengan Gerald.
Tapi kalau dengan laki-laki lain, rasanya juga tidak mungkin Gerald akan menerima Rianty yang sudah pernah dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Itulah yang sampai sekarang selalu menjadi tanda tanya besar buat Devan.
Bahkan Devan ingin tahu bagaimana perlakuan Gerald pada Rianty sekarang setelah kejadian itu.
Tapi Devan tidak berani menanyakan nya pada Monica, Devan takut membuat adiknya semakin sedih.
Devan tahu Monica sedang gundah, kalau tidak, tidak mungkin Monika akan berkunjung ke kantornya.
...********...
"Mas Aldo jahat, aku benci!", ujar Rianty yang masih berada dalam pelukan Gerald.
Walaupun Rianty berkata demikian, Gerald yakin Rianty sudah memaafkannya, Rianty hanya melampiaskan kekesalannya saja.
Karena Rianty sama sekali tidak memberontak dalam pelukannya, Rianty hanya memukul-mukul dadanya dengan sebelah tangannya dan itupun tidak kencang.
Gerald membiarkan Rianty melampiaskan kemarahannya, dan hanya tersenyum melihat tingkah Rianty yang seperti anak kecil yang sedang marah.
Akhirnya Gerald menemukan sisi baru Rianty satu lagi, ternyata Rianty juga bisa bersikap kekanakan, padahal biasa nya pengertian dan dewasa.
"Sudah, jangan marah lagi. Aku janji tidak akan berkata sembarangan lagi lain kali. Kalau aku melakukannya lagi, kau boleh menghukum ku!", ujar Gerald menangkap tangan yang memukulnya itu dan menaruh punggung tangan Rianty ke bibirnya.
Gerald tentu tidak membiarkannya begitu saja.
Gerald sudah bertekad akan membawa Rianty kembali tinggal bersamanya lagi.
Entah dari mana Gerald belajar merayu perempuan, padahal selama ini selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Gerald menekan tengkuk Rianty, kemudian mengecup dahi Rianty dengan penuh perasaan.
Rianty yang pada dasarnya sudah mencintai Gerald, akhirnya hatinya melunak, tanpa berkata apa-apa Rianty membalas memeluk pinggang Gerald.
Gerald tentu mengerti tanda maaf yang Rianty berikan, dengan cepat Gerald mengecup bibir Rianty sekilas.
"Ah.. lebih lama lagi aku bisa lupa diri dan lupa misi ku ke sini, kalau bermesraan dengan Rianty terus",
pikir Gerald segera memulai pembicaraan mengenai penemuan polisi tentang kematian ayah Rianty.
"Polisi tadi memberitahu kalau mereka sudah menemukan pelaku yang menyebabkan kematian ayahmu. Aku datang sekalian ingin memberitahukan hal ini padamu!", ujar Gerald.
__ADS_1
"Benarkah? Siapa pelakunya mas? Apakah penagih hutang?", tanya Rianty yang tiba-tiba merasa sedih, karena teringat terakhir kali dia tidak memenuhi permintaan ayahnya untuk meminta uang kepada Gerald.
Rianty kembali merasa bersalah, kalau mengingat hal itu.
Gerald yang merasakan kesedihan Rianty, memeluk Rianty kembali,
"Belum tahu, polisi hanya menyebutkan nama pelakunya,
namanya Dodi Suwarno", ujar Gerald memberitahu Rianty
"Apa?! Dodi Suwarno?", tanya Rianty kaget dengan suara bergetar.
Rianty yang tidak bisa menerima kenyataan itu, dan juga karena kondisinya yang kurang sehat akhirnya tidak sadarkan diri dalam pelukan Gerald.
Gerald tentu saja kaget melihat keadaan Rianty, Gerald segera menggendong Rianty turun ke lantai bawah menuju mobilnya.
Dita yang curiga, menghadang Gerald,
"Apa yang tuan Gerald lakukan pada ibu Rianty?", tanya Dita .
"Ibu Rianty tidak sadarkan diri setelah mendengar nama pelaku yang menyebabkan kematian ayahnya.
Ayo, kamu tolong bukakan pintu mobil", ujar Gerald malah memberi perintah pada Dita, setelah menjelaskan penyebab Rianty tidak sadarkan diri .
"Tuan, jaga ibu Rianty baik-baik ya", pesan Dita pada Gerald, sesudah Rianty di masukkan ke dalam mobil, karena rasa khawatirnya melihat wajah pucat Rianty.
Dita bahkan lupa kedudukannya yang hanya seorang pegawai .
"Jangan khawatir", jawab Gerald akhirnya.
"Rianty pasti memperlakukan pegawainya dengan baik, sehingga pegawainya begitu mengkhawatirkan dia", pikir Gerald dalam hati.
Bersambung........
...🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉...
...Author ucapkan selamat tahun baru, semoga semua readersku bertambah sukses di tahun baru ini....
...🙏🙏🙏...
__ADS_1