Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Masih berbohong


__ADS_3

"Silahkan masuk tuan Devan", ujar petugas keamanan yang sudah diperintahkan Gerald untuk membiarkan Devan bertemu dengan Monica.


Devan hanya mendengus kesal, sama sekali tidak mengucapkan terimakasih, karena dia mengenali petugas itu, sebagai petugas yang tadi mencegahnya masuk ke ruangan Monica ditahan.


Begitu masuk dalam ruangan Monica, Devan begitu kaget melihat penampilan Monica. Tidak pernah sekalipun Devan melihat keadaan Monica seperti itu.


Wajahnya berantakan, dandanannya sebagian terhapus, sebagian masih menempel di wajah membuat Monica tampak menyedihkan, Belum lagi rambutnya yang biasanya selalu tertata rapi seperti bintang iklan shampo itu, kini juga berantakan seperti baru bangun tidur.


Hati Devan langsung sakit dan terenyuh melihat adik satu-satunya, dalam keadaan seperti itu.


"Apa yang sudah kalian lakukan pada adikku? keterlaluan sekali kalian!", ujarnya marah pada petugas yang berada di dalam ruangan.


"Kakak tolong keluarkan aku dari sini! Aku tidak mau di sini, aku tidak bersalah", ujar Monica menghampiri Devan begitu melihat Devan muncul, dan dengan kedua tangannya dia menggandeng lengan Devan dengan erat.


"Bukan kami Tuan, sudah kami cegah, tapi nona Monica malah berkata kalau kami mau melecehkannya. Jadi kami tidak berani mendekati nona Monica", ujar salah satu petugas itu.


"Jangan bohong kalian!", ujar Devan tidak percaya. Dia tahu sifat adiknya yang tidak suka berpenampilan berantakan itu.


"Kami punya rekaman CCTV nya kalau Tuan Devan tidak percaya, biar Tuan Devan lihat sendiri kelakuan nona ini!", ujar petugas yang satu lagi mulai kesal, merasa ditekan Devan terus.


...********...


Akhirnya petugas itu memutarkan hasil rekaman CCTV di ruangan itu.


Devan terpana menyaksikan tingkah Monica yang menjambak rambutnya sendiri, dan sebentar-sebentar menghapus air mata di wajahnya dengan kasar, dan berteriak


"Gerald kamu sudah ditipu perempuan kampung itu! Dia dari pertama sudah mengincar mu! Dia hanya menginginkan hartamu. Akulah yang benar-benar mencintaimu dengan tulus! Perempuan kampung itu sudah menjebak mu! Cepat lepaskan aku, Gerald! "


"Apakah aku sudah salah menilai Rianty? Apakah Rianty wanita penuh tipuan seperti yang dikatakan Monica?", pikir Devan dalam hati menjadi bingung dengan penemuannya itu.


"Maaf pak, tolong tinggalkan kami berdua, Saya ingin berbicara berdua dengan adik saya!", ujar Devan mengusir halus, petugas yang memutar kejadian yang terekam CCTV itu.

__ADS_1


"Baiklah! jangan terlalu lama Tuan Devan", ujar petugas itu akhirnya meninggalkan Monica dan Devan.


"Apakah benar apa yang kamu katakan semua Monica? Benarkah Gerald sudah ditipu Rianty. Ceritakan yang sebenarnya pada kak Devan, agar kakak bisa membantumu!", ujar Devan.


"Kak Devan, Rianty sudah merebut Gerald dari ku. Aku tidak bisa hidup tanpa Gerald, kakak harus membantuku melenyapkan perempuan kampung itu. Agar Gerald kembali padaku!", ujar Monica.


"Tapi mengapa Gerald berkata berbeda, Gerald malah berkata kalau kamu yang sudah menipu dia?", tanya Devan mulai bimbang, siapa yang benar.


"Untuk apa aku menipu Gerald, Gerald adalah suamiku. Perempuan itulah yang sudah menipu Gerald, agar dia bisa menguasai Gerald seutuhnya!", ujar Monica meyakinkan Devan.


"Salahku, aku kalah dengan wanita kampung itu, dia sudah mengandung anak Gerald lagi. Bagaimana aku bisa memenangkan hati Gerald, kak Devan? Bahkan ibu menyalahkan aku yang tidak bisa mengambil hati Gerald. Bagaimana aku bisa mengambil hati Gerald, sedangkan sejak menikah dengan Rianty, Gerald tidak pernah sekalipun pulang ke mansion kami", sambung Monica dengan muka sendu.


Melihat wajah Devan yang masih ragu, Monica memukul-mukul perutnya sendiri.


"Salahkan aku yang tidak bisa memberikan anak untuk keluarga Anggara!" ujar Monica lagi dan mulai menangis, agar Devan percaya pada perkataannya.


"Jangan menyakiti dirimu sendiri Monica! Iya kakak percaya padamu!", ujar Devan menangkap kedua tangan Monica yang memukul perutnya sendiri.


Devan tidak tahu kalau Monica tertawa dalam hati, karena sandiwaranya sudah berhasil membuat Devan percaya padanya.


Monica memang benar-benar pintar bersandiwara, Monica sungguh pantas diganjal piala Oscar!


...********...


"Tapi bagaimanapun tetap tidak dibenarkan kalau kamu hendak membunuh Rianty", ucap Devan menyesalkan tindakan Monica.


"Maafkan aku kak, sudah menyusahkan kak Devan. Aku terbawa emosi kak, karena Rianty memanasi ku terus, akhirnya tanpa sadar aku membekap Rianty dengan bantal. Sebenarnya aku bukan mau membunuh Rianty, aku hanya tidak ingin mendengar perkataan Rianty yang memanasi aku terus. Tapi aku sekarang sudah benar-benar menyesal!", ujar Monica masih meneruskan kebohongan nya.


"Baiklah kakak akan memikirkan cara bagaimana agar kamu dikeluarkan dari sini. Kalau perlu kakak akan memohon pada Gerald, setidaknya kami dulu pernah berteman dekat", ujar Devan akhirnya, menenangkan Monica..


"Terimakasih kak, pada akhirnya hanya kakak seorang yang masih memihak padaku!"

__ADS_1


"Ah ternyata selama ini aku sudah salah menilai Rianty. kupikir Rianty adalah gadis yang polos, tulus dan baik hati. Aku sampai jatuh hati padanya, ternyata aku selalu salah menilai wanita. Dulu Tiara, sekarang Rianty", pikir Devan dalam hati, menyesali kebodohannya dalam menilai seorang wanita, menyesal kalau dulu dia pernah begitu menyukai Rianty.


Ternyata Devan memang benar-benar bodoh dalam menilai seorang wanita, Devan tidak tahu kalau kali ini dia sudah salah menilai seorang wanita lagi, yaitu Monica adiknya sendiri!


...********...


"Mas Aldo, malam ini mas tetap di sini kan? Mas tidak ke mana-mana kan?", tanya Rianty sambil menarik tangan Gerald, yang bangun dari duduknya.


Gerald yang dari tadi duduk di samping Rianty menemani, ketika melihat mata Rianty terpejam berpikir untuk menelpon Bu Atih, asisten rumah tangga mereka untuk menanyakan keadaan Aldi.


"Tentu mas akan menemanimu sayang, Mas hanya ingin menelpon sebentar di depan agar tidak mengganggu istirahatmu", ujar Gerald sambil menepuk pipi Rianty.


Rianty hanya tersenyum malu mendengar panggilan baru yang diberikan Gerald padanya.


Rianty akhirnya melepaskan tarikan tangan nya pada tangan Gerald, dan hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi pada Gerald karena malu.


Rianty memejamkan matanya kembali, memberi tanda pada Gerald untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya tadi.


"Kamu selalu membuatku gemas sayang!", ujar Gerald kembali mencium kedua pipi Rianty, sebelum melangkah keluar untuk menelpon.


Entah sudah yang ke berapa kalinya dia mencium Rianty hari ini.


"Dasar casanova, koq fasih banget memanggilku sayang. Dan kenapa sekarang aku begitu tidak tahu malu, begitu manja pada mas Aldo", gerutu Rianty dalam hati.


Bersambung.......


...πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...Terimakasih atas dukungan like, comment, vote dan hadiahnya pembaca tersayang...


...Jangan bosan dukung author terus yaπŸ™πŸ™πŸ™...

__ADS_1


...Love you all😘😘😘...


__ADS_2