
"Hah! cuman segitu? kamu pikir bapakmu ini pengemis?", ujar Sugiman marah begitu Rianty memberikan semua uang hasil penjualan kemaren dan modal yang ada di laci kasir itu.
"Hanya ini yang aku punya, kalau bapak tidak percaya, bapak lihat saja di laci! Hanya sisa uang kecil untuk uang kembalian", sahut Rianty sambil menghapus air matanya.
"Dasar bodoh! terus buat apa kamu punya suami kaya? Jangan bilang kalau suamimu itu tidak memberikan uang padamu! Kalau dia tidak memberikan uang padamu, lebih baik kau kubawa pulang ke desa lagi untuk nikah dengan si Sugeng. Sugeng bersedia memberiku uang yang banyak, asal kau menikah dengannya!", ancam Sugiman.
Akhirnya kesabaran Rianty habis sudah. Kalau dulu mungkin dia tidak berani melawan ayahnya, tapi karena Rianty sudah pernah mengalami berbagai masalah dalam hidupnya, Rianty yang sekarang bukanlah Rianty yang lemah seperti dulu.
Tadinya Rianty mengalah saja, karena Rianty berpikir bagaimanapun Sugiman adalah bapaknya.
Tapi kali ini Sugiman sudah memaksa Rianty untuk melawan.
"Terserah bapak mau atau tidak! Hanya itu yang bisa kuberikan. Aku tidak mungkin meminta uang pada suamiku! Mau ditaruh di mana harga diriku!", sahut Rianty nekad melawan bapaknya.
"Aku tidak boleh mudah menyerah, aku tidak boleh meminta uang pada mas Aldo, lagipula paling uang itu hanya dipakai bapak untuk berjudi. Ibu mas Aldo dan asistennya seperti nya menganggap ku menikahi mas Aldo karena menginginkan hartanya", pikir Rianty dalam hati.
"Jangan sok menjaga harga diri! Sejak kau menjual diri, kamu sudah tidak punya harga diri lagi. Jangan membuatku marah Rianty, kau mau bapakmu sendiri yang mencari suamimu?", tanya Sugiman mengancam.
"Terserah bapak, yang penting sampai mati pun aku tidak akan meminta uang pada suami ku untuk modal bapak berjudi. Bapak mau melakukan apapun silahkan, Rianty sudah tidak perduli lagi", ujar Rianty menghela nafas panjang, berusaha menghilangkan beban di hatinya.
"Awas anak durhaka, bapak akan buat hidupmu tidak tenang selama kamu tidak memenuhi permintaan bapakmu!", ujar Sugiman, menatap tajam ke Rianty penuh ancaman.
Rianty sama sekali tidak bergeming dengan ancaman bapaknya.
Kali ini Rianty benar-benar sudah nekad dan tidak mau perduli lagi.
Akhirnya Sugiman memasukkan uang yang diberikan Rianty ke sakunya, sesudah itu beranjak keluar dari toko Rianty dengan kesal dan menutup pintunya dengan kencang.
Rianty segera menghampiri Dita dan Ayu,
"Dita, kamu tidak apa-apa kan?', tanya Rianty khawatir.
__ADS_1
"Tidak Bu, ibu yang sabar ya", sahut Dita malah menghibur Rianty. Sedangkan Ayu yang masih kaget, kali ini sama sekali tidak bersuara dan tidak bertanya apapun.
Sugiman yang sudah di luar kebingungan mencari Patrick yang sudah tidak kelihatan orangnya dan mobilnya.
"Sial! Sebenar nya apa sih tujuan
orang itu? Datang tiba-tiba dan hilang tiba-tiba. Sepertinya orang itu bermaksud tidak baik pada Rianty.
Ah.. tapi aku gak perduli, lumayan hari ini aku sudah punya modal lagi. Moga-moga bisa menang banyak hari ini", pikir Sugiman penuh semangat karena di sakunya sudah ada uang lagi.
...********...
"Ini rekaman yang kamu mau!", ujar Patrick agak ketus.
Patrick merasa perbuatannya tidak sesuai dengan hati nuraninya, apalagi ketika dia melihat ayah Rianty yang sikapnya keterlaluan dan kasar, dia jadi mengasihani Rianty.
"Kenapa sayang, koq sepertinya lagi jelek moodnya?", tanya Monica yang sedang senang karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sebenarnya yang bersalah kan Gerald, dia sudah mempunyai istri secantik kamu, tapi masih bisa menyukai perempuan lain", ujar Patrick yang tidak tahu masalah sebenarnya, karena Monica tentu tidak memberitahukan yang sebenarnya kepada Patrick.
"Kamu sendiri sebenarnya juga bersalah, di belakang Gerald kamu juga tidak setia", pikir Patrick dalam hati.
"Mengapa kamu membela wanita kampung itu? Apa jangan-jangan kamu menyukai perempuan itu juga ya", ujar Monica menuduh.
"Aku bukan menyukai, aku hanya merasa kasihan pada wanita itu. Apalagi ayahnya sungguh keterlaluan, tentu hidupnya tidak mudah punya ayah seperti itu!", ujar Patrick mencoba menyadarkan Monica.
"Huh dasar kalian laki-laki semua sama! tidak boleh melihat yang lebih cantik! pasti hati kalian berubah. Membelanya seperti itu masih bilang tidak suka!", tuduh Monica bukannya sadar, tapi makin iri pada Rianty.
"Terserah padamu Monica. Kalau kau terus seperti ini aku yakin kamu suatu hari pasti akan ketahuan. Ini terakhir kalinya aku membantumu berbuat hal yang tidak benar.
Aku juga sudah lelah dengan hubungan kita yang tidak ada kepastian! Aku juga ingin memiliki keluarga normal. Tidak mungkin selamanya aku hanya menjadi simpanan mu.
__ADS_1
Kali ini aku akan memilih jalan hidupku sendiri, mulai besok aku tidak akan bekerja padamu lagi dan aku tidak akan datang lagi ke sini", ujar Patrick menegaskan.
Akhirnya Patrick memutuskan dia harus segera mengakhiri hubungan yang tidak pasti ini, sebenarnya sudah lama dia sudah tidak puas dengan hubungan mereka ini, tapi dia berusaha bertahan karena berharap suatu hari Monica akan sadar dengan cintanya dan bersedia menikah dengannya.
Tapi sepertinya harapannya tidak mungkin terjadi, kalau dilihat dari sikapnya Monica.
"Kamu yakin akan melakukan itu?", tanya Monica menantang Patrick.
"Aku tanya padamu, apakah kamu bersedia menikah denganku?", Patrick tidak menjawab Monica, malah bertanya balik.
"Sudah aku bilang, kita tidak mungkin menikah, asal usul keluarga kita sangat berbeda!", ujar Monica memberikan alasan.
"Gerald saja berani menikahi perempuan yang asalnya dari kampung!"
"Karena Gerald bodoh!", sahut Monica kesal.
"Itu bukan bodoh, itu karena dia benar-benar mencintai Rianty. Harusnya kamu sadar, apapun yang terjadi, apapun yang kamu lakukan akan percuma, aku yakin Gerald tetap akan mempertahankan Rianty", ujar Patrick.
"Tapi aku yakin kalau Rianty membuat malu keluarga Anggara, Rianty pasti akan dibuang", ujar Monica dengan yakin.
Mendengar jawaban Monica, Patrick akhirnya sadar sampai kapan pun dia tidak bisa merubah hati Monica.
"Apapun yang terjadi hari ini aku harus mengakhiri hubungan yang gak jelas ini. Aku sudah tidak mau membuang-buang waktuku lebih lama lagi, terlibat dengan perbuatan-perbuatan gak benarnya Monica lagi!", putus Patrick dalam hati.
Sesudah itu Patrick berjalan ke luar dari ruangan Monica tanpa berkata apa-apa lagi. Patrick sudah benar-benar menyerah untuk mendapatkan hati Monica.
"Huh, mau kulihat bisa berapa lama kamu bertahan tidak mau ketemu aku. Paling sehari dua hari lagi kamu gak tahan dan balik lagi", pikir Monica penuh percaya diri, dan hanya menatap kepergian Patrick.
Monica sama sekali tidak berniat menahan kepergian Patrick, karena Monica yakin kalau Patrick pasti akan kembali lagi padanya.
Bersambung........
__ADS_1