
Monica pagi-pagi sudah berada di kantor design nya. Ternyata dia tidak bisa bertahan lama duduk di kursi kebesarannya, tidak lama kemudian dia sudah bangun dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir tidak tenang sambil menunggu kedatangan Dodi.
Monica teringat dengan penemuannya tadi pagi, Dia dengan sabar menunggu sekretaris Kim keluar dari kamar Gerald karena mendengar suara anak kecil.
Ternyata benar saja tidak lama kemudian seorang anak berusia sekitar 6 tahun tampak keluar dengan tergesa dari kamar Gerald, yang diikuti sekretaris Kim di belakangnya.
Monica sempat terpaku melihat anak kecil itu, dia melihat kemiripan anak kecil itu dengan Gerald waktu kelas SMP.
Saat SMP sebenarnya Monica sudah menyukai Gerald dan dia pernah menyimpan foto Gerald yang tidak pernah bosan dia pandangi kala itu.
Sekretaris Kim juga kaget, tadi dia tidak menyangka kalau Monica akan menunggunya di depan, sepertinya pertemuan ini sudah tidak bisa dicegah. Apalagi sejak pagi-pagi Aldi sudah ribut mau cepat-cepat bertemu ibunya.
"Selamat pagi nyonya Gerald", sapa sekretaris Kim tersenyum.
"Anak siapa yang kamu bawa nginap di kamar Gerald?", Monica bertanya langsung.
"Saya tidak bisa memberitahu nyonya. Saya sudah bilang berulang kali kalau mau menanyakan segala sesuatu langsung ke tuan Gerald, saya tidak berhak memberitahu", sahut sekretaris Kim.
Akhirnya Monica yang sudah lama menyimpan kekesalan pada sekretaris Kim tidak tahan lagi.
"Sekretaris si*lan, kurang ajar!", omel Monica, tapi kali ini bukan dalam hati lagi.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak bermaksud kurang ajar, saya hanya menjalankan tugas saya!", sahut sekretaris Kim santai, sama sekali tidak marah disebut si*lan dan kurang ajar.
"Hfff, benar juga kata tuan Gerald, semakin cantik seorang wanita, semakin pintar bersandiwara, hari ini belangnya kelihatan", pikir sekretaris Kim sambil membawa Aldi pergi dari situ.
Monica masih berdiri terdiam di situ, dia sadar kalau tadi sudah terbawa emosi.
"Ah, bodoh sekali aku. Buat apa aku tanya sekretaris si*alan itu, bukankah kemaren Dodi sudah melaporkan padaku, kalau Gerald yang menolong Rianty saat kecelakaan. Berarti itu anaknya Rianty. Jangan-jangan anaknya dari Gerald. Jangan-jangan Gerald sudah tahu", pikir Monica yang semakin cemas.
Sedangkan Aldi sesudah melangkah lumayan jauh langsung bertanya pada Sekretaris Kim.
"Om Kim, siapa Tante galak itu? kenapa dia marah-marah?"
"Tantenya cantik kan?", tanya sekretaris Kim untuk mengalihkan pertanyaan Aldi, karena dia tidak mungkin menjawab kalau itu istri Gerald.
__ADS_1
"Cantik tapi galak, jadi serem. Yang cantik itu ibuku, sudah cantik hatinya baik lagi", jawab Aldi membanggakan Rianty.
Sekretaris Kim hanya mengiyakan jawaban Aldi, sekedar untuk menyenangkan hati Aldi saja.
"Kamu belum tahu saja nak, jangan-jangan ibumu itu sekutunya tante galak!", pikir sekretaris Kim dalam hati, karena menurutnya Rianty tidak mungkin bisa masuk kamar Gerald tanpa ijin Monica.?
...********...
Sebetulnya sejak Monica rencananya gagal, Monica masih berusaha keras untuk mendekati dan menarik perhatian Gerald. Sayangnya Gerald sama sekali tidak bergeming.
Hal itu membuat Monica menjadi tidak konsentrasi di bisnis designnya, akhirnya membuat usahanya semakin meredup.
Monica ke kantor designnya sebenarnya hanya untuk mengisi waktunya saja, tapi dengan statusnya sebagai istri Gerald dia mendapat tunjangan yang cukup besar untuk dia bersenang-senang.
Dia juga tidak perlu mengkhawatirkan masalah keuangannya.
Tapi hari ini penemuannya sudah membuat dia menjadi khawatir dengan posisinya.
Dia merasa posisinya sebagai istri Gerald sudah tidak aman lagi.
"Jangan-jangan perempuan kampung ini sudah punya rencana. Aku kan sudah menyuruh Dodi untuk memberinya obat.
Tapi harus kuakui kalau perempuan itu memang hebat dalam hal menarik perhatian laki-laki, sepertinya kak Devan juga tertarik padanya.
Aku tidak menyangka tampangnya yang polos ternyata bisa lebih licik dari aku.
Yang lebih anehnya lagi, perempuan kampung itu sungguh beruntung , sudah ditabrak tidak mati lagi! Malah kebetulan bisa ditolong Gerald!". sesal Monica.
Lamunan Monica buyar seketika, ketika ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Belum sempat memberi salam selamat pagi, Dodi sudah langsung disemprot habis-habisan oleh Monica.
"Dodi dulu kamu menemukan gadis kampung itu dari mana? perempuan kampung itu benar-benar menjadi masalah buat kita.
Bagaimana sih cara kerjamu? Dulu perempuan kampung itu sudah kau berikan obat belum? Aku curiga anaknya itu anak Gerald, wajahnya mirip.
__ADS_1
Kalau sampai Gerald tahu kita dalangnya habislah kita!"'
Mendengar omelan Monica, Dodi juga menjadi takut.
"Ah.. sekarang aku yang disalahkan dan terlibat. padahal dulu adalah rencananya. Sepertinya aku harus menemui Rianty kali ini, Aku harus meminta Rianty untuk merahasiakan aku dan Monica yang terlibat. Rianty anak yang baik hati, dia pasti akan menolongku.
Apalagi dulu aku pernah memberi modal pada dia waktu hamil. Jangan sampai aku berurusan dengan tuan Gerald dan sekretaris nya itu, bisa tamat riwayatku!", pikir Dodi dalam hati, padahal modal yang dikatakan Dodi itu sebenarnya juga uang Rianty dari menjual diri.
"Kamu ditanya koq malah bengong kayak orang bego sih!", omel Monica lagi. "Cepat pikirkan cara bagaimana menghilangkan gadis kampung itu!"
"Sepertinya kita sudah tidak boleh mencelakai Rianty, nona. Rianty baru saja kecelakaan. Takutnya nanti Tuan Gerald curiga, belum lagi sekretarisnya itu. Tuan Gerald kelihatannya sangat perhatian pada Rianty, Dia sendiri yang membawa Rianty ke rumah sakit.
Semalaman dia juga menjaga Rianty di rumah sakit! Takutnya menjadi masalah besar kalau kita mencelakai Rianty lagi", ujar Dodi sengaja memanasi Monica, karena dia kesal dari tadi diomeli dan disalahin terus.
"Jadi kamu punya solusi lain tidak?", tanya Monica akhirnya terpengaruh oleh perkataan Dodi dan menjadi takut juga untuk mencelakai Rianty lagi.
"Saya akan menemui Rianty nona, Saya akan meminta Rianty untuk menutup mulut. Rianty adalah perempuan yang suka uang, saya jamin kalau nona bisa memberikan uang dalam jumlah yang banyak,
tentu dia akan bersedia merahasiakannya", usul Dodi pada Monica. Padahal Dodi tahu Rianty tidak mungkin menerima uang seperti itu.
Monica tidak sadar kalau kali ini Dodi orang yang paling bisa dipercaya dia, mulai menghianati dia.
Dodi kali ini rencananya untuk keuntungan dia sendiri. Dia mulai kesal dengan Monica yang sering menyalahkannya. Bukan tidak mungkin, kalau sampai ketahuan, pasti dia yang menjadi kambing hitamnya, pikir Dodi.
Akhirnya Dodi sudah menyusun rencana , kalau benar Monica memberi uang untuk menyumpal mulut Rianty, uang itu akan dia ambil sendiri.
Kali ini dia harus punya simpanan, andaikata sampai suatu hari ketahuan, Dodi sudah berencana membawa keluarganya pergi jauh. Dia tidak mau terlibat dengan Gerald.
"Maafkan aku nona, kamu yang memaksaku berbuat seperti ini", ujar Dodi dalam hati membenarkan perbuatannya sendiri.
Sedangkan Monica dengan pikirannya sendiri, Bagaimana dia akan menyiapkan uang itu.
Bersambung........
...πππππ...
__ADS_1
...Jangan lupa follow Author &...
...tekan favoritβ€οΈ...