Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Tuan Gerald sudah terbius


__ADS_3

"Tuan Gerald, tadi waktu saya datang bertemu dengan Monica. Sebenarnya sudah saya hindari, tapi saya tidak menyangka dia bakal menunggu sampai saya keluar.


Monica terlihat kaget begitu bertemu Aldi?", ujar sekretaris Kim melaporkan pada Gerald.


"Biarkan saja dia melihat, kalau nanti sore hasilnya sudah keluar, dan Aldi memang anakku, dia juga akan tahu. Salahnya sendiri membiarkan perempuan lain masuk ke kamarku waktu itu!", sahut Gerald tidak perduli.


"Sepertinya tidak mudah mengambil Aldi dari ibunya, hubungan mereka sangat dekat Tuan Gerald!"


"Akan kuambil dua-duanya, ibu dan anak!", sahut Gerald santai.


Mendengar jawaban Tuannya, sekretaris Kim tertegun sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan.


"Apakah nona Rianty bersedia? statusnya sebagai apa? Bukankah Tuan dulu sangat dendam dengan wanita yang menjebak tuan itu?" tanya sekretaris Kim tidak percaya.


"Setelah mendengar hasil penyelidikanmu dan apa yang dia ceritakan padaku sepertinya Rianty tidak bohong. Rianty hanya korban.


Dia mengatakan padaku bukan dia yang menjebak aku, dia saat itu hanya membutuhkan uang untuk menyelamatkan ibunya. Dia melakukan hal itu atas perintah seseorang!", ujar Gerald menjelaskan.


"Tuan percaya perkataan perempuan itu?", tanya sekretaris Kim tidak menyangka tuan nya secepat itu berubah.


Gerald tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, dia langsung teringat wajah Rianty yang begitu sedih saat ingin memohon sesuatu padanya.


Dan teringat matanya yang berkaca-kaca tampak sangat menyedihkan, yang membuatnya tidak tega.


Padahal biasanya air mata seseorang tidak ada efek buat dia, apalagi air mata Monica.


"Aku percaya, kelihatannya perempuan itu masih muda dan mukanya masih polos, tidak mungkin berbohong", ujar Gerald.


Sekretaris Kim langsung tertegun mendengar jawaban Tuannya itu.


Sekretaris Kim juga sudah tidak memberi komentar lagi, karena dia tahu dengan tabiat tuannya itu, percuma untuk dipengaruhi


"Bisa nasehati aku buat hati-hati sama perempuan cantik, ternyata dia sendiri terjebak. Lebih baik aku selidiki diam-diam saja agar tuanku jangan sampai tertipu, kalau ada buktinya baru bisa bikin tuanku sadar!", pikir sekretaris Kim dalam hati masih meragukan Rianty.


"Belum tentu nona Rianty bersedia, tuan kan statusnya sudah beristri. Dari dulu saya kan sudah meminta Tuan segera menceraikan Monica!", ujar sekretaris Kim menyayangkan tuannya yang masih mempertahankan statusnya itu hanya karena takut dijodohkan ibunya lagi.


"Siapa yang berani menolak aku?", ujar Gerald dengan percaya diri, karena dia ingat tadi Rianty begitu menurut dan pasrah padanya.


"Baiklah, kalau tuan begitu percaya diri. Apakah Rianty mengatakan siapa orang yang sudah membayar dia?", tanya sekretaris Kim menyelidiki.


"Katanya orang sekampung, tapi sama sekali sudah hilang kontak", sahut Gerald.

__ADS_1


"Tuan percaya?"


Gerald hanya mengangguk dan berkata,


"Rianty tidak akan berani membohongiku, dan ceritanya memang masuk akal".


"Hebat sekali Rianty ini, dalam sekejap bisa membuat tuanku begitu mempercayainya. Tuan Gerald kali ini benar-benar sudah terbius wanita cantik", pikir sekretaris Kim dalam hati semakin mencurigai Rianty.


Akhirnya sekretaris Kim


mengalihkan pembicaraan, dia sudah tahu percuma membicarakan tentang Rianty, apabila tuannya menginginkan sesuatu sudah pasti tidak akan dilepaskan lagi.


"Tuan sepertinya kita harus ke kantor sekarang, tuan sudah terlalu lama berada di sini, banyak yang harus diselesaikan. Lagipula Nyonya Rini nanti mau datang, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan dengan tuan", ujar sekretaris Kim.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang!", Gerald berpikir dia akan menyelesaikan pekerjaannya dengan segera, agar nanti dia bisa datang menengok Rianty lagi.


Sekretaris Kim benar-benar terpana, ketika sebelum berangkat ke kantor Anggara group, Gerald masih sempat mampir ke kamar Rianty, dan mengintip lewat kaca kecil di pintu.


Terlihat Rianty sedang tersenyum pada Aldi, entah apa yang sedang dibicarakan ibu dan anak itu, sampai tidak tahu sedang diperhatikan 2 pasang mata dari depan.


Setelah puas, Gerald langsung melangkah ke arah pintu keluar rumah sakit diikuti sekretaris Kim dari belakang, yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya,


melihat tingkah laku tuannya kali ini.


********


Rianty sungguh merasa bosan berada di rumah sakit terus, dia merasa keadaannya sudah baik, dan kangen pulang ke toko rotinya itu.


Aldi hari ini bahkan tidak ke sekolah. Padahal Rianty paling tidak suka anaknya absen sekolah, kalau bukan karena sakit. Dia ingin Aldi menjadi anak yang disiplin.


Tapi hari ini dia terpaksa membiarkan Aldi absen sekolah, karena dia malu kalau harus meminta bantuan Gerald untuk mengantar Aldi ke Sekolah.


Sedangkan Aldi yang kangen dengan ibunya sama sekali tidak tertarik untuk berangkat ke sekolah, apalagi dia suka bercerita dengan ibunya.


Lagipula dengan otaknya yang genius, tidak menjadi masalah kalau dia tidak masuk sekolah.


"Mi, sekali-sekali mami harus ke rumah om Gerald. Kayak istana mi!", ujar Aldi merasa seru.


Mendengar perkataan Aldi, Rianty langsung terdiam dan teringat kejadian 7 tahun yang lalu.


"Ah.. Al tidak tahu kalau aku sudah pernah menginjakkan kakiku di sana. Apakah Al tidur di kamar dulu bukan ya?", Rianty menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran nya yang melantur itu.

__ADS_1


"Kenapa otakku jadi gak benar, malah memikirkan yang enggak-enggak!", tegurnya pada dirinya sendiri.


"Ih,, Mami koq malah jadi bengong dan geleng-geleng sendiri? mami gak amnesia kan?", tanya Aldi khawatir.


"Kamu kebanyakan nonton Al, andai saja mami bisa amnesia malah bagus!", ujar Rianty tanpa sadar.


"Lho koq gitu mi?", tanya Aldi.


"Biar mami bisa lupain kesalahan yang sudah mami lakukan di masa lalu Al", ujar Rianty masih tidak sadar kalau dia sedang berbicara dengan anaknya yang masih kecil.


"Jangan mi, nanti mami juga lupa sama Al", ujar Aldi langsung memeluk ibunya dengan erat.


Seketika Rianty tersadar dia sudah berbicara tidak pada tempatnya, membuat anaknya takut,


"Enggak lah Al, kalau sama Al mau Amnesia bagaimanapun tetap ingat selalu", ujar Rianty mengelus punggung anaknya untuk menenangkan.


Sedang keduanya berpelukan, tiba-tiba saja ada yang membuka pintu tanpa mengetuknya.


Angel langsung nyelonong masuk, tapi sampai setengah jalan langsung terdiam mematung melihat adegan di depannya itu.


Langsung rasa iri dan ingin punya seorang ibu muncul lagi, terkadang dia juga ingin sekali dipeluk oleh seorang ibu.


Devan yang muncul di belakang Angel, langsung menegur anaknya,


"Angel! koq gak sopan ya, tidak mengetuk pintu dulu?"


"Gak pa pa mas Devan, namanya juga masih anak-anak", ujar Rianty tersenyum sambil melepaskan pelukannya pada Aldi.


"Huh papa galak, tuh Tante Rianty saja gak pa pa!", ujar Angel merasa senang dibela Rianty.


"Bagaimana Rianty? sudah lebih baik belum?", tanya Devan penuh perhatian.


"Sudah mas", ujar Rianty


Rianty tiba-tiba berpikir kali ini dia terpaksa harus meminta bantuan Devan agar dia tidak usah bertemu dengan Gerald lagi.


Sebetulnya dia tidak suka berhutang budi, tapi kali ini dia harus minta bantuan Devan agar bisa segera check out dari rumah sakit ini.


Sungguh canggung kalau dia harus berada satu ruangan hanya berdua dengan Gerald lagi.


Dan ini adalah saat yang tepat, sepertinya Gerald sedang tidak berada di rumah sakit ini.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2