
"Aku tidak mengerti apa maksud tuan Aldo", ujar Rianty tidak mau mengakui dan memalingkan wajahnya ke samping dan tidak mau menatap ke Gerald.
"Aku sudah berbicara begitu jelas, tidak mungkin kamu tidak mengerti nona Rianty. Kamu hanya berlagak bodoh", sahut Gerald geram.
Karena kesal dengan Rianty yang tidak mau memandangnya, Gerald meletakkan telapak kanannya ke pipi Rianty, dan mengarahkan wajah Rianty ke arahnya lagi.
"Tuan Aldo, kepalaku masih sakit", ujar Rianty berusaha mengalihkan Gerald, agar tidak bertanya padanya lagi.
"Kamu boleh beristirahat sesudah menjawab pertanyaanku", ujar Gerald.
"Aku tidak pernah mengenal tuan sebelum pesta ulang tahun orang tua Devan, tuan salah mengenal orang", sahut Rianty masih tidak mau mengakuinya.
Tapi Rianty sama sekali tidak berani menatap wajah Gerald, karena hatinya berdebar-debar ketakutan, bahkan kedua telapak tangannya terasa dingin.
"Kamu sungguh perempuan yang pintar berbohong, jangan berpikir sesudah memberiku obat aku tidak bisa mengenalmu! Aku mengenal bau tubuhmu dan aku tahu kamu mempunyai tanda di bahumu", ujar Gerald yakin kali ini Rianty sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Asal kamu memberitahuku siapa yang menyuruhmu dan apa tujuanmu, aku tidak akan menghukummu!", sambung Gerald lagi.
Rianty menjadi bingung harus menjawab apa, akhirnya menjadi terdiam.
"Ah kali ini habislah aku. Aku tidak mungkin menyebutkan nama paman Dodi, paman Dodi dulu sudah mewanti-wanti ke aku kalau ada apa-apa tidak boleh membuat dia terlibat. Dia masih punya anak yang sekolah.
Paman Dodi dulu cuman menolongku karena aku membutuhkan uang, aku tidak boleh membuat dia terlibat.
Apalagi paman Dodi sudah banyak menolongku waktu aku hamil Aldi.
Tapi bukankah dia sendiri yang membeli aku, kenapa sekarang aku yang disalahkan? Bahkan aku dibilang menjebak dia. Dan kapan aku pernah memberi dia obat?
Apakah perlu dia mengingatkan aku akan kejadian yang memalukan itu?
Dia bilang akan menghukum aku, hukuman seperti apa? Orang kaya seperti mereka bisa melakukan apapun", mendapat ancaman dari Gerald pikiran di kepala Rianty menjadi simpang siur, dan membuat kepalanya yang masih sakit bertambah sakit.
"Mengapa terdiam? Tidak bisa menjawab ku? Atau berpikir untuk berbohong lagi?", tanya Gerald yang kali ini mengangkat dagu Rianty agar tidak menghindari tatapannya lagi.
"Harusnya tuan Aldo tahu kejadian itu memalukan, jangan diungkit-ungkit lagi, anggap saja kita tidak pernah bertemu. Semuanya hanya transaksi saja, saya tidak mengerti untuk apa tuan membeli saya, saya hanya membutuhkan uang saat itu. Harusnya sudah selesai 7 tahun yang lalu. Anggap saja kita tidak pernah kenal. Sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing, saya dengan keluarga saya, Tuan Aldo juga dengan keluarga tuan", sahut Rianty akhirnya.
"Kau bisa berkata semudah itu? Kamu jangan harap bisa hidup tenang, kamu sudah mengacaukan hidupku!", ujar Gerald menjadi marah mendengar perkataan Rianty.
__ADS_1
********
"Pa, ayo cepat kita ke rumah sakit pa, Tante Rianty tabrakan dan di bawa Om Gerald ke Rumah Sakit Healthy Life", ujar Angel pada papanya.
Devan tentu kaget mendengar perkataan Angel.
"lho tabrakan dengan apa, koq bisa? Tidak parah kan?", tanya Devan merasa khawatir juga.
"Ditabrak mobil pa, Mobilnya habis nabrak kabur pa, Angel bahkan gak sempat lihat saja mobil yang nabrak itu sudah ilang.
Angel gak berani lihat tante Rianty pa, darahnya tante banyak, jadi gak tahu parah atau enggak. Kalau Aldi gak pa pa, karena waktu jatuh dipeluk tante Rianty", jawab Angel.
"Habis itu Om Gerald nyuruh Angel dan Aldi pulang dulu, soalnya Aldi bajunya kena darah, kayanya Om Gerald sekarang yang nungguin tante Rianty", sambung Angel lagi.
Devan menjadi khawatir juga mendengar cerita Angel, kalau Rianty berdarah banyak.
"Ya sudah, ayo kita pergi menengok tante Rianty, biar kamu tenang", ajak Devan pada anaknya, sambil mengambil kunci mobil di atas meja.
"Ayo pa, sekalian mampir ke tempat Aldi ya pa, pasti si Aldi mau ikut juga", sahut Angel sambil menggandeng Devan berjalan keluar.
"Aldi beruntung ya pa, punya ibu yang begitu menyayangi dia dan melindungi dia. Aldi sama sekali tidak luka, soalnya dipeluk Tante Rianty, padahal Tante Rianty tadi pingsan", ujar Angel menerawang sambil membayangkan andaikata ia punya seorang ibu seperti Rianty.
Devan melirik anaknya sebentar, kemudian menghela nafas. Sebenarnya Devan juga kecewa dengan tingkah Tiara dulu, dia tidak pernah menyangka kalau Tiara begitu glamour dan gila ketenaran.
Begitu melahirkan Angel, Tiara sibuk dengan dirinya sendiri. sibuk melangsingkan tubuhnya kembali. agar bisa berkiprah di dunia modeling kembali, sama sekali tidak mau memperdulikan Angel. Angel hanya dipercayakan pada baby sister.
Devan waktu itu masih berusaha sabar dan mengalah, tapi Tiara semakin jadi, dia bahkan mulai ke luar negri melakukan pekerjaan nya.
Akhirnya Devan tidak tahan lagi dan memilih bercerai.
Tiara sebenarnya keberatan, tapi karena dia tidak bisa memenuhi keinginan Devan, akhirnya Tiara mau tidak mau menandatangani surat cerai itu.
Jadi begitu melihat Rianty yang cantik dan keibuan, Devan langsung tertarik pada Rianty.
Walaupun menjalankan toko roti, Rianty masih begitu memperhatikan anaknya Al.
"Apakah Angel ingin mempunyai seorang ibu?", tanya Devan tiba-tiba.
__ADS_1
"Mau pa, Angel mau banget punya ibu yang seperti Tante Rianty", sahut Angel.
Mendengar jawaban Angel, Devan akhirnya berpikir untuk lebih serius lagi mendekati Rianty.
Pikiran Devan terputus karena mereka sudah sampai di depan toko Rianty, terlihat Al sudah rapi dan bersiap-siap ke rumah sakit.
Untung saja Devan dan Angel datangnya cepat, jadi Aldi belum memesan kendaraan online.
Akhirnya mereka bertiga berangkat ke Rumah sakit Healthy Life bersama. Sedangkan Ayu dan Dita yang sebenarnya juga khawatir tidak bisa ikut menjenguk, karena mereka harus menjaga toko roti.
"Nanti malam saja kita jenguk ibu Rianty, yu!", ujar Dita.
Ayu hanya mengangguk cemas.
********
Rianty merasa bersyukur ketika Gerald sedang menatapnya dengan mata penuh ancaman, ada yang membuka pintu kamarnya.
Gerald segera menegakkan tubuhnya kembali dan berjalan ke kursi tadi dan duduk kembali dengan tenang.
"Mami! mami sudah bangun ya?", tanya Aldi yang segera berlari menghampiri Rianty, melihat semua badan Rianty dengan seksama.
"Mami udah sembuh, darahnya sudah gak ada. mami cepat pulang ya, Al bingung hari ini mau bobok sama siapa?", ujar Aldi.
"Mami kamu belum boleh pulang, masih perawatan!", sahut Gerald tiba-tiba menyelak.
Devan dan Angel yang dari tadi hanya mendengar pembicaraan ibu dan anak itu, akhirnya menatap ke arah Gerald.
"Apakah parah? Harus dirawat inap ya? kenapa? tanya Devan khawatir.
"Dokter yang memeriksa yang berkata begitu, nona Rianty juga mengalami konkusio, jadi sementara harus dirawat di rumah sakit dulu sampai pulih", jawab Gerald.
"Al bisa ikut denganku, sementara nona Rianty dirawat kalau memang tidak ada yang menjaganya", sambung Gerald.
Bukan Rianty yang kaget saja, Devan juga kaget dengan ucapan Gerald itu.
Bersambung........
__ADS_1