Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Salah paham


__ADS_3

# Flashback sebelum Rianty berada di kamar Aldi #


Sesudah acara makan bersama keluarga Gerald, Rianty akhirnya ijin untuk naik ke atas kamar dengan alasan membereskan baju dan barang bawaan Aldi.


Rianty bingung apa yang harus dilakukannya. Saat dia selesai makan dan ingin merapikannya, tangannya langsung ditarik Gerald,


"Tidak usah Rianty, nanti ada yang membereskannya!"


Akhirnya Rianty terpaksa mengangguk dan duduk diam saja.


Rianty juga sadar akibat tarikan tangan Gerald, Lena langsung melirik tajam padanya.


"Huh, dasar cari perhatian saja perempuan kampung ini. Sok rajin! dia pikir dia hebat. Dasar kampungan, mental pembantu rumah tangga!", gerutu Lena dalam hati. Memang setiap perbuatan Rianty tidak ada yang benar di mata Lena.


Rianty merasa heran dengan Lena yang begitu cepat sudah muncul di ruang makan lagi, dan sudah berdiri di belakang ibu Gerald.


Padahal tadi Lena sudah sempat tidak kelihatan, mungkin Lena juga makan malam, tapi begitu cepat sudah kembali lagi.


Dan Rianty tahu kalau Lena selalu memperhatikan gerak-geriknya.


Karena tidak ada yang bisa dilakukannya, hanya duduk diam seperti sebuah patung, Rianty menjadi merasa tidak enak berada dalam situasi seperti itu.


Rianty juga tahu, kalau ibu Gerald sepertinya canggung juga ngobrol dengan Aldi dan Gerald, karena keberadaan dia di antara mereka, sedangkan Aldi yang memang selalu suka dekat dengan Rianty, dari tadi memang memilih duduk di samping Rianty.


Akhirnya Rianty memilih mengalah, mengundurkan diri lebih dulu dari acara kumpul keluarga itu.


"Ayo, aku antar kamu ke kamar kita!", ujar Gerald mendengar Rianty yang ijin ke kamar dulu untuk merapikan barang-barang nya.


"Siapa tahu kamu memerlukan bantuan", sambung Gerald lagi.


"Tidak perlu bantuan mas Aldo, bawaannya cuman sedikit koq", tolak Rianty cepat.


Rianty sempat menyesali keputusannya itu, karena dia mulai berpikir bagaimana suasananya kalau dia berada di kamar hanya berdua Gerald saja.


"Huh itu kan memang tujuanmu, membawa barang sedikit saja. Biar nanti Tuan muda yang membelikan semua kebutuhanmu! Dan kamu sudah tahu barang yang tuan muda beli itu pasti barang bagus. Dasar perempuan licik! pintar memanfaatkan keadaan, seekor bebek mau berubah menjadi angsa!", pikir Lena yang dari pertama selalu berpikiran negatif pada Rianty.


"Biar saya saja yang menunjukkan kamar nyonya muda, Nyonya Rini sepertinya masih kangen ngobrol-ngobrol dengan tuan muda dan tuan muda Aldi", sahut Lena yang tiba-tiba menyelak .


"Iya Gerald, ayo ngobrol-ngobrol dulu. Ayahmu pasti suka mendengar ceritamu dan Aldi", ujar Rini yang setuju dengan usul asistennya itu.

__ADS_1


Gerald langsung menatap kesal ke Lena, tapi sebelum Gerald mengajukan protes, Rianty yang mulai tahu kalau Gerald tidak suka diatur Lena, segera menjawab dengan sopan,


"Baik Bu Lena, maaf sudah merepotkan Bu Lena".


Mendengar jawaban Rianty, akhirnya Gerald tidak jadi mengajukan protes, dan ikut duduk kembali, walaupun hatinya kesal


Dan untuk kali ini Rianty malah bersyukur dengan usul Lena yang sudah berhasil membuat dia terlepas dari keadaan berdua saja dengan Gerald.


"Ayo! ikut aku nyonya muda", ujar Lena yang ternyata tidak berani memanggil Rianty dengan sebutan nyonya muda kedua, karena ada Gerald.


"Iya Bu Lena, terimakasih", ujar Rianty lagi dengan sopan.


"Cih, mulutnya semanis madu, pantas saja Tuan muda bisa tergila-gila padanya. Memang hebat perempuan satu ini, pandai sekali akting nya, padahal jangan-jangan dia sedang marah padaku karena sudah menggagalkan kesempatan dia untuk berduaan dengan tuan muda!", pikir Lena yang sok tahu isi hati Rianty.


Lena merasa senang dan menang dalam hati, karena mengira Rianty hanya berpura-pura menurut, padahal hatinya sedang kesal.


Lena tidak tahu, kalau Rianty malah merasa terbantu dengan usulnya itu.


...********...


Untuk menenangkan hatinya, Rianty berusaha menyenandungkan lagu-lagu kesukaannya, sambil merapikan baju Aldi ke dalam lemari, dia bahkan berlama-lama, padahal biasa Rianty sangat cekatan dalam pekerjaan rumah tangga.


Begitu sudah berada di kamar Aldi, dia baru bisa merasa lebih tenang, Rianty bahkan sempat mengagumi kamar Aldi yang sangat luas itu, tidak kalah luas dengan kamarnya tadi.


Tapi ketenangan Rianty tidak bertahan lama, jantung Rianty langsung berdebar-debar ketika mendengar orang membuka pintu dan melangkah memasuki kamar.


Rianty seketika menghentikan senandungnya.


"Mami lagi ngapain?", tanya Aldi.


Rianty langsung bisa menarik nafas lega ketika mendengar suara Aldi.


"Ih.. aku koq ke geer an sendiri, berpikir kalau Mas Aldo akan memintaku ke kamarnya, sampai aku ketakutan sendiri. Ah dasar otak gak benar!", omel Rianty merasa malu pada pikirannya sendiri yang tidak benar.


"Mami lagi merapikan barang-barang Al ke dalam lemari".


Rianty yang sedang duduk di atas kasur dan membelakangi pintu masuk, membalikkan badannya dan tersenyum, tapi ternyata di belakang Aldi sudah berdiri Gerald yang sedang memegang kedua bahu Aldi.


Senyum Rianty langsung hilang, tiba-tiba saja ketegangan meliputi nya.

__ADS_1


"Mas Aldo..",


"Acara ngobrol-ngobrol nya sudah selesai?", tanya Rianty agak tergagap, Rianty berusaha mengatasi ketegangan yang melanda hatinya.


"Hmm", ujar Gerald mengangguk dan memperhatikan Rianty dengan intens, Gerald bisa merasakan kalau Rianty terlihat gugup, dan sepertinya Rianty agak menghindarinya.


Untung saja Aldi memecahkan suasana canggung antara Rianty dan Gerald.


"Mami kamar Aldi luas banget. Untung saja mami boboknya sama Aldi. Mami harus tepat janji ya, bobok sama Aldi, bukan sama papa", ujar Aldi menagih janjinya.


Rianty terdiam mendengar perkataan Aldi. Dalam hatinya tentu dia merasa senang sekali, Aldi sudah menagih janjinya.


Tapi tentu saja dia tidak berani memperlihatkan kegembiraannya pada Gerald, dia takut akan membuat Gerald marah dan tersinggung.


"Aldi sudah memberitahu papa?", tanya Rianty memilih bertanya pada anaknya, dan tidak berani melihat ke Gerald.


"Bukan memberitahu saja, Aldi sudah bikin perjanjian sama papa dan papa sudah setuju!", ujar Aldi senang.


"Iya kan pa?", sambung Aldi menoleh ke Gerald.


"Iya", sahut Gerald terpaksa.


"Si Al memang pintar, entah perjanjian apa yang sudah dia buat dengan mas Aldo, nanti baru kutanya.


Aku gak perduli, yang penting aku bisa bebas dari perasaan risihku.


Lagipula kalau mas Aldo menginginkannya, dia masih punya istri yang cantik dan sexy, mungkin aku saja yang ge er, berpikir kalau dia menginginkan aku juga. Mungkin saja mas Aldo menikahi ku memang murni karena menginginkan Aldi ", tanpa sadar Rianty tersenyum, karena dia menertawai dirinya sendiri yang dianggap sudah ge er.


Gerald yang dari tadi memperhatikan Rianty dengan intens, melihat senyum yang lolos dari bibir Rianty.


Tiba-tiba dia sadar kalau Rianty sering merasa segan dan agak menghindarinya.


Rianty akan mendekatinya, hanya saat memohon sesuatu padanya.


Gerald tiba-tiba merasa kalau Rianty hanya ingin memanfaatkan nya saja


"Jangan-jangan Aldi mengancam ku agar Rianty tidur bersamanya, adalah ajaran Rianty. Sepertinya Rianty ingin main-main dengan janjinya.


Awas kamu Rianty!", jangan coba-coba denganku. Akan kubuat kamu memenuhi janjimu itu!", pikir Gerald gemas dan masih tidak melepaskan pandangannya dari Rianty.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2