Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Permintaan ibu Gerald


__ADS_3

"Masalah itu tidak ada hubungannya dengan Rianty, ini masalah antara aku dan Monica. Mengapa ibu harus memohon pada Rianty?", tanya Gerald yang mulai terbawa emosi.


Gerald yang mulai mengenal sifat Rianty, tahu kalau Rianty mudah merasa tidak tega dan selalu mengalah kepada orang yang lebih tua.


Gerald menjadi khawatir jika Rianty terpengaruh ucapan ibunya, dan akan kembali menjauhinya.


Rianty yang masih bingung dengan pikirannya sendiri sama sekali tidak menjawab apa-apa, hanya terlihat seperti sedang merenung.


Rini yang sudah kepalang tanggung tidak memperdulikan Gerald, malah menepuk tangan Rianty kembali.


"Ibu mohon, kamu bantu ibu untuk membujuk Gerald untuk bisa bersikap lebih adil. Ibu akan sangat berterima kasih padamu".


Rianty akhirnya hanya bisa mengangguk dan tidak bisa berkata apa-apa.


Ternyata memang lebih susah menolak orang yang memohon kepada kita, dibandingkan dengan orang yang memaksa kita. Apalagi yang memohon adalah orang yang lebih tua, dan mertua sendiri.


Sesudah melihat anggukan kepala Rianty, Rini segera beranjak pergi dari kamar Gerald, sebelum diprotes Gerald.


Rini tahu janji Rianty cukup bisa dipegang.


Rini sebenarnya sudah tidak membenci Rianty, dia hanya kurang suka dengan asal usul Rianty, dia hanya merasa malu dengan asal usul Rianty yang menurutnya sangat tidak cocok disandingkan dengan Gerald.


Rini juga tahu Rianty sifatnya cukup bagus, hal itu dia dengar dari pelayannya yang memuji Rianty yang cantik, sopan, ramah dan ringan tangan.


Tapi bagaimanapun kalau disuruh memilih, dia tetap menginginkan Monica sebagai menantunya.


Karena kalau dilihat dari bibit, bobot dan bebetnya, tentu Monica berada di atas Rianty. Sedangkan kelebihan Rianty hanya satu, yaitu memiliki Aldi


...********...


Gerald hanya bisa menatap kesal kepergian ibunya, dia tidak menyangka ibunya hanya ingin membicarakan masalah ini.


"Sudah, kamu jangan dengar perkataan ibu. Kamu serahkan saja semua masalah ini padaku", ujar Gerald memeluk Rianty menenangkan.


Rianty hanya mengangguk, mengiyakan, tapi tentu hatinya merasa tidak tenang, dia juga bingung mau berbicara bagaimana pada Gerald.


"Mas, aku kembali ke kamar Aldi ya, hari ini aku capek, besok kan kita mau pergi. Mas Aldo juga istirahat lebih awal ya", ujar Rianty sambil mengecup pipi Gerald sekilas, karena dia tidak ingin Gerald berpikir yang tidak-tidak, jadi Rianty berusaha bersikap biasa.


"Ah.. aku sudah tahu pasti begini jadinya. Dasar si Monica ini, maunya apa sih? hanya menganggu ketenangan ku dan Rianty saja. Tapi sebaiknya aku membiarkan Rianty menenangkan pikirannya", pikir Gerald dalam hati.


Gerald akhirnya membiarkan Rianty kembali ke kamar Aldi, tapi dalam hati dia menyesalkan kejadian ini, tadinya dia berencana bermesraan


dan bercerita dengan Rianty agar hubungan mereka lebih dekat lagi, tapi ternyata yang terjadi di luar dugaannya.

__ADS_1


Akhirnya malah rencananya gagal.


Tapi setidaknya Rianty masih perhatian padanya, dan tadi juga mengecup pipinya sebagai ucapan selamat malam, karena hal tersebutlah akhirnya membuat Gerald tetap bisa tertidur pulas.


...********...


Rianty yg sudah berada di kamar Aldi, malah tidak bisa tidur lagi.


Hatinya merasa tidak tenang teringat permohonan ibu Gerald.


"Mengapa beberapa hari ini aku sudah lupa kalau mas Aldo juga mempunyai istri yang lain.


Aku merasa bahagia, sepertinya aku mempunyai keluarga yang bahagia, Suami yang menyayangiku dan anak yang pintar.


Dan sepertinya aku sudah benar-benar menyukai mas Aldo.


Bagaimana aku harus menyuruh mas Aldo gantian mengunjungi aku dan Monika? Memikirkannya saja aku sudah tidak rela.


Tapi bagaimanapun aku sudah berjanji pada ibu Gerald", pikir Rianty resah dan sedih, yang akhirnya membuat dia tidur ketika hari sudah menjelang pagi.


...********...


Walaupun tidurnya menjelang pagi, Rianty jam 05.00 pagi sudah bangun.


Rianty memutuskan untuk ke kamar Gerald sesudah selesai mandi, untuk membantu Gerald bersiap-siap. Rianty tahu kalau Gerald merasa senang kalau Rianty yang melayaninya.


"Mas Aldo seperti Al, maunya diperhatikan terus. Sungguh kekanakan ".


Pikiran tersebut akhirnya membuat Rianty tersenyum sendiri dan segera menuju ke kamar Gerald, apalagi Aldi juga masih tidur.


Begitu sampai di kamar Gerald, terlihat Gerald yang baru selesai mandi dan masih hanya dibalut handuk saja.


Tanpa sadar Rianty mengagumi Gerald yang tampan dengan tubuhnya berotot.


"Dih.. gak malu, pikiranku koq malah melantur gak benar!", pikir Rianty yang menjadi malu sendiri, akhirnya membuat pipinya merona dan mengalihkan pandangannya dari Gerald yang terlihat sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


"Ada apa Rianty?", tanya Gerald sambil mematikan hair dryer nya.


"Apakah mas memerlukan bantuan ku?"


"Kau pilihkan saja baju untuk ku, tapi yang santai saja, hari ini aku kan gak ke kantor!", sahut Gerald.


Rianty memilihkan Gerald kaos t-shirt berkerah dan celana jeans berwarna biru muda, dan Rianty meletakkannya di atas bangku di depan cermin, karena Gerald memang dari tadi berdiri saat mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Kamu pintar memadukan warna, aku suka dengan pilihanmu, sebaiknya setiap hari saja kamu siapkan pakaian untuk ku!", puji Gerald.


"Kalau mas Aldo mau, aku setiap hari akan melakukannya", sahut Rianty tersenyum, karena dia merasa Gerald akhir-akhir ini sering memujinya.


Rianty cukup pintar, saat mengambil baju dia sengaja tidak menutup pintu lemarinya dulu, karena dia mulai hafal dengan sikap Gerald yang kalau berganti baju, suka membuka handuk dengan seenaknya saja.


Bagaimanapun juga dia masih merasa risih kalau harus melihat tubuh polos Gerald.


Jadi saat Gerald memakai baju, Rianty berlagak sibuk merapikan baju dan menutup pintu lemari bajunya kembali.


Gerald tentu tahu pikiran Rianty, tapi dia hanya membiarkannya saja dan tersenyum melihat tingkah Rianty.


Tapi ketika melihat Rianty yang masih menghadap ke lemari dan entah apa yang sedang dilakukan Rianty, Gerald pun menjadi gemas.


Dipeluknya Rianty dari belakang.


"Ada apa? Koq menghindariku?"


Rianty tentu kaget, karena dia tidak menyangka Gerald menghampirinya, karena dia sama sekali tidak mendengar suara langkah Gerald, karena memang Gerald tadi mengendap-endap mendatangi nya, bukan melangkah.


"Enggak mas!", sahut Rianty spontan karena kaget.


"Masak kamu lebih suka melihat lemari daripada suamimu sendiri?", protes Gerald sambil memutar tubuh Rianty agar menghadap ke arahnya.


"Enggak Mas, aku hanya merapikan baju yang jadi agak berantakan saat tadi aku memilihkan baju untuk mas Aldo", sahut Rianty agak tersipu berusaha memberikan alasan.


"Kamu sudah membuatku gemas, kamu harus bertanggung jawab!", ujar Gerald memandang Rianty penuh arti.


Rianty hanya bisa memandang Gerald dan tidak bisa menjawab Gerald lagi kali ini, karena hatinya langsung berdebar-debar.


Sedangkan Gerald memanfaatkan sikap diamnya Rianty dan tidak memberi kesempatan Rianty untuk berpikir, langsung menggendong Rianty ke tempat tidur mereka.


Yang terjadi selanjutnya tentu tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata, yang jelas Gerald kembali melepas pakaian yang baru dipakainya.


Bersambung........


...Dear readers tersayang,...


...Jangan lupa terus dukung Author dengan like๐Ÿ‘ dan comment....


...Vote dan hadiah๐ŸŒน๐Ÿต tentu tidak ditolak ๐Ÿค—๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ, bahkan membuat author semakin semangat๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช....


...Jangan lupa juga pencet favorit โค๏ธ, agar selalu mendapat notifikasi, sekalian follow author ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...

__ADS_1


...Tidak lupa author ucapkan terimakasih banyak atas dukungan readers tersayang selama ini....


...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...


__ADS_2