
"Aku benar-benar kehabisan kata, tidak tahu mau ngomong apa lagi Len. Aku bahagia punya cucu, tapi caranya tidak seperti itu. Bagaimana aku harus memberitahu Monica dan keluarga nya. Mau ditaruh dimana mukaku!", ujar Rini pada asistennya mengakhiri ceritanya mengenai Gerald yang sudah mempunyai anak berusia 6 tahun.
Lena juga terdiam bingung karena dia tidak menyangka Tuan mudanya yang dingin pada wanita dan selalu sibuk berbisnis bisa mempunyai anak yang sudah berusia 6 tahun.
"Lho terus kapan Tuan muda berhubungan dengan perempuan itu? Apakah Nyonya yakin anak itu benar-benar anak Tuan muda?
Siapa tahu wanita itu hanya ngaku-ngaku saja hanya karena ingin mengincar harta Tuan muda?", tanya Lena penuh rasa curiga.
"Aku yakin itu memang anaknya Gerald, hasil tes DNA juga sudah keluar. Dan aku sudah lihat foto anak itu, memang mirip Gerald waktu kecil", sahut Rini.
"Rencana Nyonya Rini bagaimana?", tanya Lena penuh rasa ingin tahu.
"Gerald bersikeras ingin menikahi perempuan itu, dan ingin menceraikan Monica. Sungguh kasihan Monica, aku bingung bagaimana aku harus menghadapi keluarga Monica?", keluh Bu Rini putus asa.
"Nyonya tidak usah bingung, kita jangan biarkan itu terjadi. Nyonya saja belum tahu asal usulnya wanita itu. Apakah derajatnya cocok dengan keluarga Anggara. Kita harus menyelidiki asal usul wanita itu dulu. Sesudah tahu asalnya, nyonya bisa menyatakan keberatan pada Tuan muda", ujar Lena mulai mempengaruhi Rini lagi.
"Benar juga perkataan mu, mengapa aku tidak terpikirkan. Sekarang juga kamu suruh orang kita untuk menyelidiki latar belakang perempuan itu!", ujar Rini yang akhirnya terpengaruh.
Lena tersenyum puas mendengar jawaban Rini, Lena sepertinya mempunyai sakit kejiwaan, karena setiap kali dia berhasil mempengaruhi Rini, hatinya akan merasa sangat senang.
"Baik nyonya, nanti kalau sudah ada hasilnya, aku akan segera memberitahu nyonya."
...********...
"Aku harus membawa Rianty dan Al bersamaku segera, kalau semuanya sudah tahu, akan berbahaya. Rianty dan Al harus bersamaku, aku khawatir akan ada yang merencanakan suatu hal yang merugikan Rianty", ujar Gerald khawatir.
"Kalau tuan tahu begitu, harusnya tuan merahasiakan status Aldi dulu", ujar sekretaris Kim menyesalkan hal itu
"Aku sengaja, aku ingin Rianty mau tidak mau bersedia ikut denganku. Rianty harus menjadi milikku, aku tidak suka ditolak", ujar Gerald.
"Biasanya tidak ada yang berani menolakmu Tuan", sahut sekretaris Kim.
"Rianty berbeda, dia hamil anakku saja, tidak datang meminta tanggung jawab padaku!"
'Baiklah tuan, sekarang kita ke tempat nona Rianty, Tuan bicaralah dengan nona Rianty, saya akan coba memberitahu Aldi".ujar sekretaris Kim akhirnya, dia tahu apabila Tuan nya sudah menginginkan sesuatu tidak bisa ditawar lagi, lagipula ucapan tuan nya itu juga ada benarnya juga.
Gerald mengangguk setuju sambil melihat ke Handphonenya yang ternyata mendapat pesan dari Devan
**Gerald aku mentransfer sejumlah uang atas permintaan Rianty, membayar uang rumah sakitnya**
__ADS_1
"Berani-beraninya Rianty meminta tolong pria lain untuk menyampaikan sesuatu padaku, Awas kamu Rianty!", gerutu Gerald geram, sambil melemparkan Handphonenya pada sekretaris Kim, agar sekretaris Kim melihat isinya sendiri.
...********...
"Besok mami akan mulai buka toko roti, sungguh membosankan ya, kalau gak ada kegiatan", ujar Rianty.
"Gak pa pa mi, mami banyak istirahat dulu, kan baru pulang dari rumah sakit", ujar Aldi yang masih serius memperhatikan layar laptopnya.
Karena toko rotinya tutup, Rianty dan Aldi berada di kamar mereka yang. terletak di lantai 2. Rianty duduk di atas kasur dan menyenderkan tubuhnya di tembok, sambil memperhatikan Aldi yang sedang asyik dengan laptopnya di meja belajar.
Kegiatan keduanya terganggu ketika terdengar suara bel.
Rianty yang mau beranjak dari duduknya, langsung dicegah Aldi,
"Aldi saja mi yang ke bawah lihat siapa yang datang, paling orang nganter paket.
Mami baru sembuh, jangan naik turun dulu!", ujar Aldi yang sok ngatur.
Rianty akhirnya hanya mengangguk setuju, memang tubuhnya masih agak lemas, Rianty ingin segera pulih, agar dia bisa cepat jualan, karena dia juga baru menghabiskan uang yang banyak untuk biaya rumah sakitnya.
Sedang menyesali dan memikirkan berapa bulan dia harus mengumpulkan uang sejumlah itu lagi, Rianty dikagetkan dengan kemunculan Gerald di depan kamarnya.
"Mengapa Tuan Aldo bisa naik ke atas. Di mana Aldi?". Rianty bertanya balik.
Setiap melihat Gerald, Rianty selalu merasa takut dan was was kalau Gerald akan merampas Aldi darinya, apalagi sesudah dia tahu Gerald belum memiliki seorang anak.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan Al, aku tidak mungkin mencelakakan anakku sendiri", sahut Gerald dengan sengaja ingin memberitahu Rianty, kalau dia sudah mengetahui Aldi adalah anaknya.
Rianty langsung menatap kaget ke Gerald, langsung beranjak dari duduknya dan menuju ke pintu kamar untuk turun ke bawah, tapi Rianty dihalang Gerald yang berada di depan pintu.
"Percuma kamu turun, Al gak ada di bawah, Al lagi dibawa sekretaris ku", ujar Gerald menekan ke dua bahu Rianty agar tidak ke mana-mana.
"Apa maumu Tuan Aldo?", tanya Rianty akhirnya memberanikan diri menatap Gerald.
"Aku menginginkan Aldi!"
"Ah.. akhirnya yang kutakutkan terjadi", pikir Rianty dalam hati cemas dan takut.
"Atas dasar apa? Bagaimana kamu bisa yakin Al itu anakmu? Al anakku bersama pria lain!", ujar Rianty mencoba peruntungan nya
__ADS_1
"Kamu tidak usah membohongiku! Kamu pikir aku bodoh, bisa kamu bohongi!", ujar Gerald gemas pada Rianty tanpa sadar merem*s bahu Rianty.
"Kalaupun kamu ayahnya, kamu tidak berhak mengambil Aldi. Sejak kecil Aldi bersamaku!", ujar Rianty masih mencoba menggertak.
"Kamu mau lihat apa yang bisa dilakukan seorang Tuan Gerald untuk mengambil miliknya. Apa perlu kuperlihatkan padamu kemampuanku itu?", tanya Gerald dengan mata penuh ancaman.
Mendapat ancaman Gerald, Rianty akhirnya kesabarannya habis. Didorongnya Gerald sekuat-kuatnya, memang pegangan tangan Gerald pada bahu Rianty terlepas, tapi Gerald hanya bergerak sedikit, malah Rianty yang jatuh terduduk di lantai.
Rianty akhirnya hanya bisa meneteskan air mata. Perlahan Rianty bangun dan memohon pada Gerald,
"Aku mohon padamu tuan, lepaskanlah aku dan Aldi, aku hanya mempunyai Aldi, aku sudah tidak memiliki keluarga lain lagi, selain Al!"
Rianty tentu takut dengan ancaman Gerald, apalagi Pamannya saja begitu takut pada Gerald dan sekretarisnya itu.
Gerald akhirnya mendekati Rianty, tangannya tanpa sadar menghapus air mata Rianty.
"Aku akan memberikanmu satu solusi kalau kamu masih ingin bersama Al".
"Apa tuan? akan kulakukan", ujar Rianty penuh harap.
"Menikah denganku!"
Rianty tentu kaget tidak menyangka seperti itu syaratnya.
"Aku tidak cocok menjadi istri tuan, perbedaan kita terlalu jauh".
"Syaratku tidak akan berubah, terserah keputusanmu, kalau aku sudah mau tidak ada yang bisa melarang aku!" masih dengan nada mengancam.
"Tanpa ada rasa cinta, bagaimana pernikahan bisa bahagia?", ujar Rianty masih berusaha mempengaruhi Gerald.
"Cinta bukan segalanya, cinta bisa dipelajari sesudah kita menikah".
Rianty tertegun mendengar jawaban Gerald. Andai saja bukan Gerald yang berbicara seperti itu, tentu Rianty sudah tertawa mendengar perkataan yang entah Gerald dapat dari mana.
"Kita bisa coba mulai sekarang!" ujar Gerald yang langsung mendekati Rianty, dan menarik Rianty ke pelukannya.
Rianty langsung terjatuh ke pelukan Gerald, karena dia tidak menyangka Gerald akan menariknya.
Dengan cepat Gerald tidak memberi kesempatan pada Rianty untuk berpikir lagi, Gerald langsung menunduk, mengecup dan me**m*t bibir Rianty dengan menekan leher Rianty agar Rianty tidak bisa menghindar lagi, sedangkan tangannya yang satu lagi memeluk pinggang Rianty, sehingga kali ini Rianty tidak bisa berkutik lagi.
__ADS_1
Bersambung........