Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
Rianty memutuskan pergi


__ADS_3

"Ibu sudah puas?", tanya Gerald.


Mendengar pertanyaan anaknya, Rini hanya terpaku diam dan tak bisa menjawab.


"Ayo, kamu ikut aku! Aku ingin bicara hanya berdua denganmu!", ujar Gerald sambil menarik pergelangan tangan Rianty agar mengikutinya ke atas.


"Lepaskan mas, sakit! aku bisa jalan sendiri!", ujar Rianty berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Gerald.


Tapi Gerald mana mau perduli, karena sedang terbawa emosi.


Gerald menarik tangan Rianty sampai ke kamar, lalu menghempaskan Rianty ke atas tempat tidur mereka, membuat posisi Rianty tertidur di atas kasur dengan kaki menjuntai di lantai.


Belum sempat Rianty bangun, Gerald sudah membungkuk dan menyanggahkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri kepala Rianty.


Akhirnya membuat Rianty pasrah dengan posisinya dan tidak bisa bangun.


Dengan posisi seperti ini tentu membuat Rianty bisa melihat jelas wajah Gerald yang sedang marah.


Selama menikah dengan Gerald, baru kali ini Gerald marah dan bersikap agak kasar padanya, bahkan boleh dibilang selama ini Gerald selalu perhatian dan menyayanginya.


Hal itu tentu membuat hati Rianty menjadi takut dan teringat perkataan pamannya mengenai Gerald.


Bahkan sebelum Gerald bertanya, Rianty sudah meminta maaf dulu.


"Maafkan aku mas Aldo, aku harus tetap memilih. Dari pertama aku sudah yakin kita tidak akan cocok, karena latar belakang kita bagaikan langit dan bumi. Aku tahu tidak akan mudah bagiku untuk masuk ke keluarga seperti ini, tapi setidaknya aku sudah mencoba demi Aldi.Terimakasih mas Aldo sudah begitu baik padaku, aku tidak bisa membalas kebaikanmu lagi".ujar Rianty menjelaskan tanpa jeda.


"Jadi kamu menikah denganku karena hanya ingin memanfaatkan ku agar selalu bisa bersama Aldi?", tanya Gerald.


"Apakah dengan cinta saja bisa menyelesaikan semua masalah kita? Dalam waktu yang singkat saja aku sudah menyebabkan berbagai masalah untuk mas Aldo.

__ADS_1


Kupikir dengan menurut dan tidak banyak bicara tidak akan ada masalah yang timbul, ternyata tetap saja aku membuat masalah untuk mas Aldo. Aku bisa memaklumi ibu mu, kalian berasal dari keluarga terpandang, tentu selalu menjadi perhatian jika melakukan kesalahan. Sebaiknya aku pergi dari sini, sebelum aku semakin tidak rela berpisah dengan mas Aldo", pikir Rianty dalam hati mempertimbangkan bagaimana dia harus menjawab Gerald.


"Kan mas Aldo sudah pernah menanyakan itu, dan saya sudah menjawab karena mas Aldo papanya Aldi", sahut Rianty akhirnya, tapi tidak berani melihat ke Gerald yang sedang menatapnya tajam.


"Jadi kamu selalu melayaniku dengan baik hanya karena untuk membalas kebaikanku?", tanya Gerald lagi.


"Bukankah saya sudah berjanji untuk melayani mas Aldo dengan baik? Tentu aku harus menepati janji ku", sahut Rianty.


"Bahkan kau tidur denganku apakah hanya untuk melayaniku dan membalas kebaikanku? Apa bedanya dengan saat kau menjual dirimu untuk tidur denganku? Apakah kau bersedia tidur dengan siapapun yang berbuat baik padamu?", tanya Gerald yang karena emosi, tidak bisa menjaga kata-katanya lagi.


Gerald yang terbiasa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkannya dan selalu dihormati, akhirnya sifat egoisnya keluar. Kata-kata Rianty yang menyakiti hatinya, akhirnya dibalas dengan perkataan yang lebih menyakitkan .


Mendengar perkataan Gerald, Rianty hatinya seperti diremas, emosinya yang akhir-akhir ini tidak stabil akhirnya membuat Rianty marah dan sakit hati, Rianty langsung mendorong Gerald dengan sekencang-kencangnya.


Gerald yang tidak menyangka tindakan Rianty, mundur beberapa langkah ke belakang, tapi tidak sampai terjatuh.


Rianty segera menggunakan kesempatan itu untuk merangkak ke sisi sebelah nya yang dekat pintu tembusan ke kamar Aldi,


Rianty kali ini benar-benar sudah nekad karena rasa sakit hatinya pada perkataan Gerald


"Aku harus meninggalkan tempat ini hari ini juga, aku sudah tidak boleh di sini lagi, sebelum mas Aldo marah dan mendatangiku lagi. Untung bajuku dan Aldi masih ada sebagian di toko, aku tidak perlu membawa apa-apa", pikir Rianty dalam hati mulai membuat rencana.


Aldi yang sedang menyisir rambut, setelah mandi, menatap bingung ke Rianty yang seperti dikejar setan, masuk ke kamar dengan nafas memburu.


"Ada apa mi, koq mami seperti dikejar orang?", tanya Aldi.


"Ayo Aldi! kita segera kembali ke toko kita malam ini juga, Al Pesankan transportasi online, mami menyiapkan beberapa barang penting saja!", ujar Rianty segera mengambil tas yang agak besar, dan memasukan barang penting yang mau di bawa.


"Kenapa mi?", tanya Aldi

__ADS_1


"Kalau Aldi tidak mau berpisah sama mami, ikutin instruksi mami. Nanti sesudah sampai di rumah kita, baru mami jelaskan pada Al!', sahut Rianty.


"Baiklah mi", sahut Aldi, langsung mengambil handphonenya dan segera memesan transportasi online.


...********...


"Ah, mengapa aku malah menyakiti hati Rianty dengan perkataan ku.


Mengapa aku harus marah hanya gara-gara selama ini dia melayaniku hanya untuk membalas kebaikanku, bukan karena mencintaiku?


Setidaknya dia masih menjadi milikku, walaupun dia tidak mencintaiku", pikir Gerald dalam hati mulai menyesali perkataannya yang hanya ingin menyakiti Rianty, hanya karena dia sakit hati pada jawaban Rianty.


"Apakah Rianty begitu tersiksa tinggal di sini. Kalau memang dia begitu tersiksa tinggal di sini, mengapa aku harus memaksanya?


Kalau memang aku benar-benar mencintainya, seharusnya aku memenuhi permintaan nya kali ini. Melepaskan dia pergi, agar dia tidak perlu lagi merasa tersiksa tinggal di keluarga Anggara", pikir Gerald yang otaknya semakin kacau, antara mempertahankan Rianty di sisinya atau melepaskan Rianty.


Hal tersebut akhirnya membuat Gerald duduk di sofa kamarnya, termenung dan meremas rambutnya sendiri.


Untung saja sekretaris Kim tidak melihat keadaan Tuannya itu, andai sekretaris Kim melihatnya sudah dapat dipastikan sekretaris Kim akan semakin takut berurusan dengan yang nama nya cinta.


...********...


"Duh koq akhir-akhir ini hatiku semakin tidak tenang sejak mendengar kematian si tua itu! Ngapain sih aku tidak tenang, dia kan bukan bapak ku, juga bukan aku yang menyebabkan kematiannya.Kenapa juga matinya begitu cepat!", omel Monica dalam hati.


"Patrick juga kelihatannya kali ini benar-benar mau meninggalkanku. Atau jangan-jangan dia sudah punya perempuan lain yang dia sukai? Atau jangan-jangan di juga suka sama gadis kampung itu juga.


Terakhir dia datang, sikapnya juga dingin padaku, padahal selama ini tidak pernah!", pikir Monica dalam hati, berjalan mondar mandir di ruangannya.


Supir sial*n itu juga gak kelihatan batang hidungnya 2 hari, tanpa ada kabar apa-apa. Untung saja aku masih belum memberikan uang padanya. Entah apa yan dilakukan supir itu.

__ADS_1


Semua mulai meninggalkanku sejak aku kesulitan uang!", omel Monica dalam hati yang mulai merasa tidak tenang, karena orang yang biasa berada di sampingnya dan membantu dia, mulai meninggalkannya.


Bersambung........


__ADS_2