Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa

Anak Genius : Akan Kutemukan Kamu Papa
pertemuan Rianty dan Dodi


__ADS_3

Mendengar Rianty datang menjenguknya, Dodi merasa senang sekali, karena setidaknya dia bisa meminta Rianty untuk membantu keluarganya kalau ada kesulitan.


Rasa senangnya langsung hilang saat melihat Gerald yang juga ikut datang bersama Rianty.


"Heran, ngapain tuan Gerald ikut datang? membuatku tidak bebas berbicara dengan Rianty. Lebih mudah berbicara dan meminta sesuatu dari Rianty. Ada Tuan Gerald tentu permintaanku terbatas.


Kok santai banget sih? Sampai bisa ngantar Rianty ke sini? Huh!", keluh Dodi dalam hati.


"Paman, apa sebabnya sampai paman membunuh bapak?", tanya Rianty langsung begitu melihat Dodi masuk ke ruangan.


"Paman tidak bermaksud membunuh ayah mu, paman tidak sengaja mendorong ayahmu, karena ayahmu meminta uang terus. Sesudah paman dorong, paman tidak menyangka kalau ayahmu meninggal, karena paman langsung lari menghindari ayahmu!


Benar Rianty! Paman tidak tahu kalau ayahmu meninggal! Dan sudah diselidiki oleh polisi, paman akhirnya dihukum penjara 3 tahun karena tidak sengaja menghilangkan nyawa orang. Maafkan paman Rianty!", ujar Dodi mengiba.


Mendengar perkataan pamannya Rianty terdiam, dan hanya bisa menghela nafas, membuat Rianty teringat saat dia menolak keinginan ayahnya, sehingga dalam hatinya ada perasaan merasa bersalah lagi.


Gerald yang berdiri dibelakang Rianty, sepertinya mengerti Rianty yang bersedih, memegang kedua bahu Rianty, sepertinya ingin memberikan kekuatan pada Rianty.


...********...


"Kenapa dulu paman berbohong padaku, kalau membutuhkan uang yang besar untuk ibuku di kampung, sehingga memaksaku melakukan hal yang memalukan?", tanya Rianty lagi.


"Maafkan paman Rianty, paman benar-benar terdesak. Paman membutuhkan pekerjaan untuk menyekolahkan adik-adik mu saat itu. Paman juga tidak bisa membantumu kalau tidak melaksanakan perintah nona Monica. Dari mana paman bisa membawamu dari desa, kalau paman tidak punya uang? Kamu tahu sendiri, buat menyewa tempat tinggal untukmu saja sudah cukup mahal", ujar Dodi dengan muka memelas.


"Ya sudah paman, yang penting Rianty sudah tahu kalau paman tidak sengaja menyebabkan kematian bapak!", ujar Rianty akhirnya sadar kalau berbicara dengan pamannya percuma saja, paman nya hanya selalu menyalahkan keadaan saja.


Apalagi sesudah itu Rianty mendengar lanjutan perkataan Dodi.


"Tapi setidaknya dari kejadian itu kamu berhasil mendapatkan tuan Gerald. Setidaknya kamu harus bersyukur sekarang bisa menjadi Nyonya Gerald!", ujar Dodi yang merasa berjasa.


"Ayo mas, kita pergi dari sini saja, Tidak ada yang perlu ku bicarakan lagi dengan paman", ujar Rianty beranjak bangun dari tempat duduknya.


Gerald langsung mengangguk dan merangkul bahu Rianty untuk pergi dari ruangan itu.


"Kamu harus bantu paman Rianty! Jaga adik-adikmu selama paman di penjara! Setidaknya paman pernah menolong mu!", teriak Dodi.


"Huh! mentang-mentang sudah jadi nyonya tuan Gerald sombong, seperti kacang lupa kulit. Padahal kalau gak ada aku mana bisa dia ketemu tuan Gerald?", gerutu Dodi kesal karena merasa tidak dianggap oleh Rianty.


Ternyata Dodi tetap merasa dia sudah berjasa besar dalam hidup Rianty.

__ADS_1


...********...


"Sudah kamu jangan merasa bersedih lagi, jangan merasa kalau kamu sudah menyebabkan kematian ayahmu lagi", ujar Gerald menghibur Rianty.


"Iya mas, terimakasih mas bisa mengerti perasaanku", ujar Rianty dengan mata berkaca-kaca.


"Mas akan membantu keluarga paman mu, kamu tidak usah khawatir.


Lagipula mas sudah berjanji pada pamanmu. Pokoknya sekarang yang harus kamu perhatikan dalam hidupmu hanya aku, Aldi dan calon bayi kita. Mengerti?!", ujar Gerald sambil membukakan pintu mobil untuk Rianty.


"Terimakasih mas Aldo, kamu begitu mengerti isi hatiku. Kamu melakukan semua apa yang kuinginkan tanpa kukatakan.


Hanya mas Aldo yang begitu baik dan mengerti aku, setelah ibu dan Aldi", ujar Rianty terharu, karena tidak menyangka Gerald mengerti isi hatinya, Rianty langsung memeluk pinggang Gerald dengan kedua tangannya dan menyandarkan kepalanya pada dada Gerald.


Bagaimanapun Rianty tetap tidak tega membiarkan keluarga paman nya hidup dalam kesusahan.


"Mulutmu bertambah manis ya sekarang! Ayo cepat masuk ke dalam mobil, kalau tidak mau jadi perhatian orang-orang!", ujar Gerald tersenyum.


"Baik mas!", ujar Rianty tersipu dan melihat sekelilingnya yang ternyata lumayan ramai dengan orang berlalu lalang, kemudian segera masuk ke dalam mobil.


Gerald hanya tersenyum melihat tingkah Rianty, kemudian ikut masuk ke dalam mobil.


...********...


"Coba Nyonya bicarakan lagi baik-baik dengan tuan muda. Tuan muda juga orang yang menyayangi keluarga, mungkin saja dia mau mempertimbangkan kembali untuk tinggal di sini", ujar Lena memberi pendapat.


"Tapi aku harus memakai alasan apalagi agar Gerald mau kembali?", ujar Rini sedih.


"Nyonya pakai saja nama Pak Anggara. Tuan muda sangat menyayangi pak Anggara, tentu dia bersedia, apalagi cucu nyonya, si Al kelihatannya juga perhatian sekali dan menyayangi kakeknya.


Dan nyonya kan juga sudah mau menerima Rianty, menurut saya selama nyonya sudah menerima Rianty sebagai menantu, tentu tuan Gerald tidak akan bermasalah", ujar Lena yang memang tidak pernah kehabisan akal.


"Iya, mau tidak mau aku harus menerima Rianty. Kelihatannya Gerald benar-benar mencintai Rianty, Gerald terlihat begitu bahagia jika bersama perempuan itu.


Walaupun di hatiku masih ada ganjalan, aku akan coba menerima Rianty sebagai menantu ku", ujar Rini menghela nafas.


"Kalau begitu Nyonya menunggu apalagi? Nyonya harus cepat meminta pada Gerald, sebelum Gerald benar-benar sudah betah di sana, agar mansion Anggara tidak sepi lagi!", ujar Lena menyemangati Rini.


Bagi Lena yang sudah mengabdikan hidupnya untuk Rini, asal nyonya Rini bahagia, maka diapun akan turut bahagia.

__ADS_1


...********...


"Kamu Patrick bukan?", tanya Devan setelah menghentikan mobilnya dan keluar dari dalam mobil.


Devan yang mau berangkat ke kantor, mengenali Patrick yang berdiri di depan dan tampak sedang memandang ke Mansion mereka.


Patrick langsung mengenali Devan, walaupun mereka hanya pernah bertemu sekali saja di kantornya Monica.


"Iya pak Devan, saya pernah bekerja pada Monica, nama saya Patrick", sahut Patrick sopan.


"Tapi yang saya tahu dari supir Monica, kamu adalah kekasih gelapnya Monica , bukan karyawannya!", ujar Devan langsung dan menatap tajam ke Patrick.


Patrick terdiam sejenak mendapat pertanyaan tanpa basa basi itu.


"Apa yang ku takutkan terjadi. Ternyata si Dodi dendam padaku dan menceritakan semuanya. Entah bagaimana keadaan Monica sekarang?", pikir Patrick yang ternyata masih mengkhawatirkan Monica walaupun mereka sudah tidak berhubungan.


"Iya", sahut Patrick akhirnya.


"Mengapa kamu berhubungan dengan perempuan yang sudah bersuami?", tanya Devan.


"Ya, saya memang salah. Saya terlambat sadar, waktu itu saya pikir toh Monica cuman disia-siakan suaminya. Monica sering berkeluh kesah padaku. Dan saya mencintai Monica. Dulu saya pikir suatu hari Monica hatinya akan berubah dan memilih saya.


Tapi lama-lama saya sadar, kalau hubungan kami tidak ada titik temunya, akhirnya saya memutuskan hubungan dengan Monica", ujar Patrick jujur.


"Mengapa kamu tidak pernah mengajak Monica untuk menikah dan meninggalkan Gerald, kalau sudah tahu hubungannya dan Gerald hanya di atas kertas?", tanya Devan menyalahkan.


"Sudah berulang kali, tapi Monica tidak pernah mau dan tidak pernah menyerah terhadap Gerald. Makanya akhirnya saya memilih pergi, dari pada memiliki hubungan yang tidak pasti ini", sahut Patrick.


Bersambung.......


...***Terimakasih atas dukungan like, comment, hadiah dan vote dari pembaca semuanya untuk karyaku ini....


...🙏🙏🙏***...


...Semoga selalu terhibur....


...Love you all...


...😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2