
Monica merasa begitu senang sudah mendapatkan rekaman yang akan membuat malu Rianty, yang Monica perhatikan hanya kejadian yang menurutnya bakal membuat Rianty malu, Monica tidak sadar kalau dia sudah melewatkan sesuatu.
Tujuan pertama Monica adalah mengirimkannya kepada ibu Gerald.
Monica diberitahu oleh Lena, kalau akhir-akhir ini ibu Gerald sepertinya sudah agak longgar kepada Rianty, dan sepertinya sudah menerima kehadiran Rianty.
"Entah perempuan itu punya sihir apa sih? Koq gampang banget membuat orang menyukai dia? Bahkan Patrick lebih membela dia lagi, dan coba-coba mengancam meninggalkanku!" pikir Monica yang semakin ingin menghancurkan hidup Rianty.
"Kali ini aku harus bergerak sendiri, Dodi sudah tidak bisa dipercaya, sedangkan Patrick sedang marah padaku!", akhirnya Monica memutuskan dia sendiri akan menyerahkan rekaman itu kepada wartawan yang dia tahu suka membuat berita gosip yang mementingkan banyak pembaca daripada kwalitas beritanya itu.
"Kali ini mau kulihat, masih bisakah ibu Gerald menerima seorang menantu yang bukan saja berasal dari kampung dan mempunyai ayah yang penjudi, tapi juga sudah mengaku sendiri sudah menjual diri!", pikir Monica tersenyum puas, sambil beranjak dari ruangan nya, untuk melaksanakan rencananya segera.
...********...
Rianty, Gerald dan Aldi dari tadi sudah kembali ke mansion.
Aldi kelihatan begitu senang melihat studionya.
Aldi juga bercerita kepada Rini, saat mereka makan malam.
Rini tentu merasa senang karena cucunya sudah mau berbagi cerita padanya.
Bahkan kadang Rini ikut berkomentar setelah mendengar cerita Aldi yang penuh semangat.
Sedangkan Rianty hanya diam saja dan jarang tersenyum. Walaupun Rianty biasanya juga jarang berbicara bila sedang berkumpul, tapi biasanya Rianty terlihat cerah dan selalu tersenyum, tidak seperti saat ini.
Gerald tentu merasakan sikap Rianty yang agak berubah dan tidak seperti biasanya itu. Gerald sudah merasakannya sejak dia membawa Rianty dari toko roti ke mansion mereka untuk melihat studio Aldi.
Walaupun Rianty memang masih tidak terlalu sering berbicara dengannya dan masih sering merasa malu padanya, tapi dia biasanya bisa merasakan sikap ceria Rianty, tidak seperti sekarang ini. Bahkan sampai mereka pulang ke mansion Anggara, Rianty juga jarang berbicara dengan Aldi.
"Apakah kamu sakit atau capek? koq kelihatan lesu?", tanya Gerald berbisik dekat telinga Rianty.
Saat itu mereka sudah selesai makan dan tengah duduk di ruang keluarga.
Aldi sudah ditarik untuk duduk di sebelah Rini dan diminta melanjutkan bercerita.
Sedangkan Gerald sudah pasti langsung duduk di samping Rianty.
"Tidak Mas!", sahut Rianty cepat karena kaget. Rianty tidak menyangka kalau Gerald bisa melihat perubahannya ini.
Karena kejadian di toko rotinya , Rianty merasakan hatinya menjadi tidak tenang. Semakin dia berpikir, Rianty semakin curiga, mengapa ayahnya bisa tiba-tiba muncul dan tahu keberadaannya.
__ADS_1
Dan Rianty teringat perkataan ayahnya yang berkata kalau dulu dia tidak menerima uang dari pamannya Dodi.
"Sebenarnya siapa yang sudah membohongiku?"
Karena pikiran Rianty yang simpang siur dan hatinya yang tidak tenang, membuat Rianty tidak sadar kalau sikapnya menjadi tidak seperti biasanya dan akhirnya membuat Gerald menjadi curiga.
Gerald malah menggenggam tangan Rianty yang berada di pangkuan,
"Tapi koq aku merasa sikapmu berbeda hari ini? Ada apa? Kalau ada masalah kamu bisa cerita!", bisik Gerald lagi.
Tapi genggaman tangan Gerald bukannya membuat Rianty tenang, malah membuat Rianty menjadi salah tingkah, karena dari tadi Lena sudah melirik tajam ke arah Rianty.
Sedangkan Gerald bukannya tidak tahu, tapi Gerald tidak mau perduli.
"Bu aku ke atas dulu sama Rianty, ada yang mau aku bicarakan sama Rianty", ujar Gerald memutuskan membawa Rianty ke kamar mereka berdua agar lebih bebas.
"Baiklah!", sahut Rini.
"Rianty ingat janjimu pada ibu ya, untuk mengingatkan Gerald!", sambung Rini lagi mengingatkan.
"Iya Bu", sahut Rianty.
"Aldi sama nenek dulu ya!" ujar Rini.
"Baik nek", sahut Aldi kali ini tidak protes dan menurut.
Lagipula ada kakek nya, entah mengapa Aldi selalu merasa dia berkewajiban untuk menghibur kakeknya yang sakit itu.
...********...
"Aku tidak kenapa-kenapa mas Aldo", ujar Rianty tersenyum, begitu mereka sudah berada di kamar.
"Tapi koq aku merasa kamu berbeda hari ini, Rianty", ujar Gerald sambil memilih duduk di bangku, sesudah itu Gerald malah menarik tangan Rianty yang memang dari tadi berada di genggamannya.
Membuat Rianty jatuh dan duduk di pangkuannya.
"Mas jangan begitu, nanti kalau Aldi naik bagaimana?", ujar Rianty berusaha bangun dari pangkuan Gerald.
"Tidak secepat itu! Kamu jangan menghindariku, aku kangen, sudah ingin memelukmu dari tadi", ujar Gerald malah mempererat pelukannya.
Akhirnya Rianty hanya bisa pasrah berada di pangkuan dan pelukan Gerald, Rianty yang sedang mengalami banyak masalah, malah akhirnya merasa terlindungi berada di pelukan Gerald.
__ADS_1
Dari tadi dia tidak mempunyai tempat untuk menumpahkan beban pikirannya, semuanya hanya disimpannya dalam hati.
Dengan Ayu dan Dita, tadi Rianty hanya memberitahu kalau selama ini dia tidak pernah menceritakan tentang ayahnya, karena dia berpikir mungkin dia sudah tidak akan pernah bertemu ayahnya yang seorang penjudi dan pemabuk, dan Rianty hanya menceritakan secara singkat kalau dia kabur dari desa, karena bapaknya memaksa dia menikah dengan seorang juragan tanah yang sudah tua dan mempunyai banyak istri dan anak karena ingin mendapatkan mahar yang banyak.
Pelukan Gerald membuat Rianty merasa hangat, nyaman dan tidak merasa sendiri lagi, akhirnya Rianty tanpa sadar mengalungkan kedua tangannya ke leher Gerald.
"Terimakasih mas, sudah begitu baik padaku", ujar Rianty sambil mengecup pipi Gerald, sesudah itu merebahkan kepalanya ke dada bidang Gerald.
Mendapati Rianty yang lebih berinisiatif dan pasrah, Gerald tanpa sadar memandang ke wajah perempuan yang sudah mengisi seluruh hatinya itu.
"Kenapa menangis?", tanya Gerald kaget melihat Rianty yang meneteskan air mata.
"Enggak mas, tiba-tiba rindu pada bundaku", sahut Rianty memberikan alasan.
Memang Rianty teringat kembali kepada ibunya, setelah bertemu kembali dengan bapaknya yang menyalahkan Rianty atas meninggalnya ibu Rianty.
"Sudah jangan menangis lagi, biar bunda mu tenang!", hibur Gerald sambil menghapus air mata Rianty.
"Iya mas, aku hanya menyesalkan tidak sempat membahagiakan bundaku di masa hidupnya. Saat kehidupanku sudah lebih baik, dan aku menjemputnya, bunda sudah tiada", sesal Rianty mengeluarkan unek-uneknya selama ini yang hanya bisa disimpan dalam hati.
Akhirnya hari ini dia sudah punya tempat berbagi.
"Sudah jangan berpikir macam-macam lagi. Asal kamu bahagia, pasti ibumu akan merasa bahagia untukmu. Biarkan ibumu tenang di sana", hibur Gerald agak kaku, karena selama ini dia tidak pernah menghibur orang lain.
"Iya mas, terimakasih kamu sudah begitu baik padaku", ujar Rianty yang kemudian semakin mengencangkan pelukannya pada Gerald.
Gerald tentu merasa senang, Gerald merasa dibutuhkan Rianty, akhirnya Gerald hanya mengira kalau Rianty dari tadi berbeda sikapnya karena teringat dengan ibunya.
Bersambung........
...Dear readers tersayang,...
...Jangan lupa terus dukung Author dengan like๐ dan comment....
...Vote dan hadiah๐น๐ต tentu tidak ditolak ๐ค๐คฃ๐คฃ, bahkan membuat author semakin semangat๐ช๐ช....
...Jangan lupa juga pencet favorit โค๏ธ, agar selalu mendapat notifikasi, sekalian follow author ya๐๐...
...Tidak lupa author ucapkan terimakasih banyak atas dukungan readers tersayang selama ini....
...๐๐๐...
__ADS_1